PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
26. Maaf


Gerakan tangan Cyra yang memegang handle pintu mobil terhenti ketika Zaki menahan pergelangan tangannya.


“Apa lagi?” Cyra menatap Zaki sebel.


“Ikut aku!” Zaki menarik pergelangan mungil tangan Cyra.


Tanpa protes, Cyra mengikuti Zaki menuju keluar area kafe. Entah kemana Zaki akan membawanya. Mereka sudah berjalan cukup jauh melintasi trotoar. Dan Zaki masih diam saja, berjalan dengan tenang tanpa mengatakan apapun. Sesekali Cyra melihat pergelangan tangannya yang digandeng oleh Zaki.


Zaki berhenti ketika menemukan warung kecil di pinggiran jalan. Warung yang bertuliskan mie ayam bakso Mang Ucup itu kecil, tapi pengunjungnya padat.


Cyra mengernyit menatap Zaki yang sejak tadi tidak menoleh ke arahnya. Zaki menarik kursi kayu dan menunjuk kursi tersebut dengan dagu saat netranya menemukan manik mata Cyra yang bengong.


Seperti diremot, Cyra pun duduk. Zaki duduk di sisi Cyra.


“Mbak, pesan mie ayam dua porsi.” Zaki berucap pada perempuan yang tengah sibuk melayani pembeli.


“Oke, Mas!” jawab penjual.


“MAng Ucupnya mana, Mbak? Tumben nggak keliatan?” tanya Zaki seolah sudah sangat mengenal penjual itu.


“Biasa, lagi beli ayam.”


“Sekarang jualannya udah nempat ya, Mbak? Dulu kan keliling?”


“Iya. Alhamdulillah udah punya tempat jualan.” Si embak kelihatan gembira sekali bertemu Zaki. Kedua tangannya sibuk meracik pesanan. Kemudian ia meletakkan du mangkuk mie ayam ke meja Zaki.


“Eh, ini siapa? Calon istri kan ya, Mas Zaki?” Wanita itu menatap takjub pada Cyra.


Zaki tersenyum melirik Cyra. “Namanya Cyra.”


“Oh… Cantik sekali. Mas Zaki pinter banget nyari pasangan. Kenalin saya Rianti, pemilik warung kecil ini.” Wanita itu memperkenalka diri pada Cyra. “Mas Zaki ini pelanggan suami saya, dulu sering beli mie ayam suami saya pas suami saya jualan keliling. Sekarang mas Zaki mesti kesini kalau mau makan mie ayam, soalnya suami saya nggak jualan keliling lagi. Katanya Mas Zaki, dia nggak bakalan kesini lagi sebelum membawa calon istrinya. Nah, kan berarti sampean toh calon istrinya Mas Zaki.”


Cyra tersenyum kikuk.


“Ya sudah, silahkan dinikmati. Bonus peyek dua bungkus buat MAs Zaki sama calon istrinya. Saya tinggal dulu.” Wanita itu kembali ke balik etalase,melayani pembeli lainnya bersama dua orang pekerjanya.


“Mie ayam buatan Mang Ucup enak banget. Cobain, deh,” tutur Zaki, masih tanpa merasa berdosa pada kesalahannya yang tadi. “Temenku yang namanya Alan yang ngasih tahu kalau Mie ayam Mang Ucup enak banget. Alan juga pelanggannya Mang Ucup.” Zaki mulai menyantap mie ayam miliknya.


Cyra masih malas menanggapi Zaki. Ia kan lagi ngambek.


Sepanjang makan, keduanya diam membisu. Sampai akhirnya mie ayam di kedua mangkuk ludes, kering, kuahnya pun tidak bersisa. Melihat isi mangkuk Cyra yang kering, Zaki yakin Cyra juga menyukai mekanan pilihannya.


Zaki berdiri dan membayar. Selesai dengan urusan bayar membayar, ia terkejut saat menoleh dan tidak mendapati Cyra di bangku tempat gadis itu tadi duduk. Zaki buru-buru meninggalkan warung, ia mendapati Cyra yang sudah berjalan menjauh di trotoar.


Zaki berlari mengejar Cyra. Sampai akhirnya ia berhasil mengiringi langkah Cyra. Tatapan gadis itu lurus ke depan, tidak mau menoleh meski tahu Zaki kini sudah berada di sisinya. Mereka kembali memasuki area parkiran kafe. Cyra langsung masuk ke mobilnya. Ia terkejut melihat Zaki yang duduk di sampingnya.


“Kenapa kamu masuk ke mobilku?” Cyra mengernyit masih dengan tatapan yang sama, sebel.


Zaki menatap Cyra lalu tersenyum, sangat manis. “Maafin aku, ya!” Pria itu mengusap pucuk kepala Cyra. “Jujur tadi pikiranku bener-bener lagi kacau, aku mencemaskanmu, takut kalau Faiz nekat ngelaporin ke dekan soal video itu.” Zaki meraih kepala Cyra, kemudian mengecup singkat kening gadis itu. “Aku sayang sama kamu.”


Deg! Gedoran kuat menghentak dada Cyra. Jantungnya jadi nggak aman. Pandangannya mengikuti tubuh Zaki yang turun dari mobil dan pindah ke mobil miliknya sendiri.


Cyra menepuk-nepuk pipinya yang memanas. Kemudian menyalakan mesin mobil saat mendengar bunyi klakson yang sumbernya dari mobil Zaki. Cyra menyetir mobil keluar area kafe. Bunyi nada pesan membuat Cyra segera meraih ponsel dan membaca pesan. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Zaki.


Sekali lagi, maaf soal jus yang tumpah


Aku yakin kamu bisa bersihin di rumah


Mesin cuci masih ada, kan?


Cyra tersenyum. Gemeees…


***


Tbc


Ajak temen temen baca cerita ini yah.


Share ceritanya ke banyak temen biar ketawa rame rame. makin banyak yg ngunjungin novel ini, aku kan makin semangat ngetik.


Jangan lupa klik lika dwongs sebagai bentuk dukungan. Kalau perlu tip koin.. 😀😀


Emma Shu