
Lelaki itu membalikkan badan dan tersenyum. Zalfa melepas nafas lega ketika melihat wajah itu. Soleh. Untunglah bukan Faisal, atau Arkhan yang datang, sebab Zalfa merasa belum siap bertemu dengan Arkhan, ataupun Faisal. Tiba-tiba saja ia merasa takut jika saja Faisal menanyakan hal-hal yang sekiranya membuatnya wajib menjawab. Atau bahkan malah Arkhan yang datang disaat ia membuat janji dengan Faisal. Syukurlah yang datang bukan salah satu diantaranya.
“Soleh? Ada apa?” Zalfa tersenyum.
“Aku mau nganterin ini. Masakan Mama.” Soleh memperlihatkan kotak tempat makan yang dia bawa.
“Ya ampun, Mamamu kok repot-repot sih?” Zalfa menerima kotak itu. “Ayo, masuk!” Zalfa membalikkan badan dan berjalan memasuki rumah. Soleh mengikutinya.
Soleh duduk di sofa sementara menunggu Zalfa ke belakang menyalin tempat makanan ke mangkuk. Zalfa kembali membawa kotak yang sudah dicuci dan diisi makanan buatan Tini.
“Ini ada lauk di dalamnya. Buat Mamamu. Sampein makasihku ya,” ucap Zalfa sambil meletakkan kotak ke meja.
“Jadi kotaknya kamu isi?”
Zalfa mengangguk.
“Gini nih ya yang namanya cewek, ngerti banget soal balas membalas makanan.” Soleh geleng-geleng kepala. “O ya, Mas Ismail mana?”
“Paling di atas. Kenapa? Perlu kupanggilin?”
“Enggak usah. Sampein aja ke Mas Ismail, jangan lupa nanti ke rumah. Biasa, nyari siaran TV.”
“Ooh… Iya. Pasti kusampein.”
“Ya udah, aku balik dulu.” Soleh berdiri. Tapi ia membalikkan badan saat mengingat ada sesuatu yang tertinggal. Kotak makanan. Tepat pada saat itu Zalfa yang menyadari kotak makanan tertinggal di atas meja, segera menyambar kotak. Namun belum sempat Zalfa menyerahkannya, kotak terjatuh ke lantai saat tubuh Zalfa dan Soleh bertabrakan.
Sepertinya Zalfa lupa menekan tutupnya hingga dengan mudah tutupnya terbuka saat tersenggol lengan Soleh tadi, akibatnya kuah gulai menimpa jas Soleh dan sisanya berceceran di lantai.
“Maaf.” Serentak Zalfa dan Soleh berucap. Kemudian keduanya tertawa.
“Ya ampun, sorry banget. Aku nggak sengaja.” Zalfa menyesal melihat jas depan Soleh tersiram kuah gulai.
“Maaf juga lantaimu jadi kotor.” Soleh menatap lantai.
“Udah, nggak pa-pa. lagian aku udah pulang kerja, kok. Entar mandi.”
“Ini aku nggak jadi deh nganter makanan buat Mamamu.”
“Lain kali kan bisa,” jawab Soleh ringan.
“Oke, deh.” Zalfa sekilas menatap permadaninya yang terkena kuah gulai. Duuh… pasti Tini akan kesulitan menggulung dan mengantarkannya ke tukang pencucian. Ia mengerutkan dahi saat mengangkat wajah dan mendapati Soleh tengah menatapnya dalam-dalam. Tatapan itu, baru kali itu Zalfa melihatnya.
“Soleh, kenapa ngeliatin gitu?”
Pertanyaan Zalfa tidak membuat Soleh mengubah caranya menatap, justru tatapannya semakin dalam.
“Zalfa!”
Dahi Zalfa semakin terlipat, tak sabar menunggu penjelasan dari Soleh.
“Boleh nggak aku ngomong sesuatu?” tanya Soleh tanpa kedip.
“Mm… Ng… Ngo ngomong aja.” Zalfa jadi gugup melihat tatapan Soleh yang berbeda.
Soleh melangkah maju, membuat Zalfa semakin bingung menentukan sikap.
“Zalfa, aku mencintaimu.”
Pernyataan itu spontan membuat Zalfa terpaku. Plis, Soleh jangan nambah-nambahin masalah. Urusan sama dua cowok aja udah cukup membuat pusing tujuh keliling, Soleh malah muncul menambah daftar lelaki yang harus dipilih. Pikir Zalfa geli. Atifa pasti akan tertawa bahagia bila mengetahui Soleh mengungkapkan perasaannya begini. Sejak awal melihat ketampanan dan kebaikan Soleh, Atifa langsung nyeletuk supaya Zalfa jadian sama Soleh.
TBC
KLIK VOTE DI SETIAP CHAPTER YAAA