
Mobil mulai bergerak pelan saat sederet mobil-mobil didepan bergerak semakin lamban. Tak lama, mobil mulai berhenti dan inilah tanda-tanda akan ada kemacetan. Benar saja, mobil-mobil berhenti total.
“Shit!” Arkhan memukul bundaran setiran.
Zalfa melirik pria di sampingnya yang terlihat frustasi menatap jalan di depan. Arkhan terlihat tak sabar dan sesekali mengusap wajah kasar. Entah apa yang sedang dikejar pria itu hingga terlihat sangat kesal terjebak kemacetan.
“Sial!” Arkhan membunyikan klakson berkali-kali. Sesekali menyeletuk dengan kata-kata pedas.
“Bisakah kamu sedikit lebih tenang? Ini bukan jalan menuju titian sirotol mustakim, jadi tenanglah!” Zalfa jauh lebih tidak tenang melihat Arkhan yang seperti cacing kepanasan. Seperti tak ada sedikitpun kesabaran yang tertanam dalam diri pria itu.
Arkhan menoleh. Tiba-tiba saja kegusaran di wajahnya sedikit memudar. Ditatapnya wajah cantik di sisinya itu. Kemudian ia melepas nafas panjang seperti sedang berusaha menguasai emosi.
“Untuk gadis sepertimu, mungkin titian sirotol mustakim nggak akan menakutkan, lantas kenapa menggambarkan jembatan itu untukku? Apa aku kelihatan pantas untuk merasa gelisah saat akan melewati sirotol mustakim?” Arkhan masih menatap gadis di sisinya.
Zalfa mengernyit, dia pikir, Arkhan akan menanyakan apa itu sirotol mustakim, tapi sepertinya Arkhan sudah tahu arti dari kata tersebut tanpa Zalfa menjelaskannya.
“Apa kamu yakin akan melewati titian itu suatu saat kelak?”
Arkhan diam saja. Pandangannya kembali ke depan, menggerakkan bundaran setiran hingga mobil bergerak perlahan mengikuti arus. Ia membelokkan mobil ke jalan lain saat menemukan persimpangan jalan. Terpaksa ia melawan arah jalan kembali menuju kafe milik Zalfa dan tentunya akan memakan waktu lumayan lama untuk sampai tujuan karena ia harus memutar arah. Itulah satu-satunya jalan supaya bebas dari kemacetan.
Mobil berbelok ke jalan sepi. Arkhan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Jantung Zalfa sebenarnya berlarian berada di atas mobil yang kecepatannya luar biasa. Baru kali ini ia merasakan seperti pembalap.
“Bisakah kamu menurunkan kecepatan mobilmu?” tanya Zalfa dengan ekspresi menegang. Setidaknya ia tidak mau mati muda.
“Aku nggak terbiasa dengan kondisi seperti ini.”
“Kamu punya riwayat penyakit jantung?”
“Ada riwayat ataupun enggak, aku nggak suka. Atau turunkan aku!” Nada bicara Zalfa meninggi. Jantungnya benar-benar ketar-ketir merasakan kelajuan mobil yang sangat tinggi. Arkhan gila!
Brak!
“Shit!” Arkhan menatap spion, mengecek mobil yang tanpa sengaja baru saja menyerempet mobil lain sesaat setelah ia menurunkan kecepatan mobil. Andai saja kecepatan mobilnya masih sama seperti tadi, mungkin mobil yang ia serempet benar-benar sudah penyok. Bahkan mobil yang ia naiki sedikit bergoyang saat serempetan tadi terjadi.
Melalui spion, Arkhan melihat pengemudi mobil yang terserempet itu mengeluarkan kepala dari jendela. Pria berambut kelimis itu berteriak keras mengumpat-ngumpat. Tak lama, mobil itu mengejar.
Melihat mobil di belakangnya menambah kecepatan, Arkhan menginjak gas dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang membuat Zalfa hampir menjerit frustasi. Jika selama ini Zalfa melihat aksi mobil kebut-kebutan dan kejar-kejaran hanya di televisi, kini ia justru merasakan sendiri bagaimana ngerinya berada di mobil yang sedang kebut-kebutan.
“Pegangan! Jangan cemas, kamu akan baik-baik saja.” Arkhan menenangkan Zalfa setelah sekilas ia melirik wajah gadis itu memucat.
“Kenapa harus kabur? Bukankah kamu yang salah? Berhenti dan bertanggung jawablah!” pekik Zalfa panik.
TBC