
Alfa tak perduli dengan teriakan Cyra. Ia melangkah maju, mendekati Cyra yang kini berseberangan dengannya berbatasan dengan ranjang.
“Lo nggak waras, ya?” pekik Cyra.
“Ya, gue udah nggak waras. Kenapa? Gue nggak rela lo bersama Pak Zaki. Dia hanyalah orang baru dalam hidup lo.” Althaf menatap mata Cyra nanar. Di matanya keputus asaan.
“Gue punya pilihan, Al. Gue berhak menentukan siapa yang gue pilih. Lo nggak bisa memaksakan kehendak lo ke gue, ngerti!” Cyra semakin marah melihat Alfa yang berjalan memutari ranjang. Menatap mata Alfa, Cyra merasa seperti sedang melihat mata yang dipenuhi dnegan dendam dan sakit hati yang berbaur jadi satu. Mata alfa terlihat memerah. Entah itu karena menahan keputus asaan yang membuat pria itu hampir menangis, atau apa… Cyra tidak pernah melihat sorot mata Alfa seperti itu sebelumnya.
Ya Tuhan, selamatkan Cyra dari iblis yang merasuki Alfa. Atu Alfa memang sudah berubah menjadi iblis? Ah, sudahlah. Cyra tidak ingin berpikir banyak hal lagi. Ia melompat naik ke ranjang saat alfa sudah berada sangat dekat dengannya, pria itu menjulurkan tangannya hendak meraih tubuh Cyra. Tapi tidak berhasil karena Cyra sudah terlebih dahulu melompat turun dari ranjang.
“Keluar dari sini atau gue lempar ini!” Cyra mengangkat lampu nakas.
Ancaman itu tak berarti apa-apa bagi Alfa. Ekspresi pria itu tetap sama. Bahkan iakembali memutari ranjang untuk bisa mendekati Cyra.
Prang!
Prak!
Gludak!
Benda-benda beterbangan, tangan Cyra meraih apa saja yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah Alfa. Pertama lampu nakas, disusul buku-buku, kursi, dan terakhir gelas yang berisi air mineral. Namun semua itu tak membuat Alfa gentar. Pria itu hanya menampik lemparan benda-benda yang beterbangan ke arahnya dengan kedua lengannya, sesekali ia menghindar hingga lemparan Cyra hanya mengenai udara dan mendarat di lantai.
Cyra menoleh ke belakang. Benda-benda di sekitarnya sudah habis. Lalu apa lagi yang bisa ia gunakan untuk mengusir Alfa? Cyra mulai ketakutan.
“Sinting! Lo bener-bener udah sinting! Toloooooong!” Cyra berteriak sekuat-kuatnya. Ia tidak tahu apakah lengkingan suaranya di rumah besar itu akan ada yang mendengar?
Oh Tuhan, kirimkan malaikat penyelamat buatku. Cyra berdoa dalam hati.
“Mama sama Papa lo sedang keluar untuk urusan bisnis. Bik Mey sedang pergi ke kedai kopi paling jauh, aku yang menyuruhnya. Lalu siapa yang akan mendengar suaramu?” Alfa terlihat menang.
“Kenapa lo lakuin ini ke gue? Kenapa lo tega sama gue? Ini sama aja lo ngerusak gue. Lo ngancurin gue.” Cyra mulai ketakutan dan suaranya bergetar.
“Karena gue cinta sama lo. Cuma gue yang bisa miliki lo, bukan Pak Zaki. Gue nggak rela. Udah selama ini gue memendam cinta gue ke lo, dan sekarang harus berakhir begitu aja? Enggak akan!”
“Plis, Alfa! Jangan nekat. Jangan hancurin hidup gue.”
“Hanya dengan cara ini kita bisa hidup bersama, Cyra.”
“Alfa, plis!” Cyra menangis melihat jarak antara dirinya dengan Alfa yang semakin terkikis habis. Cyra menoleh ke meja yang di sana masih tersisa sebuah kaleng minuman, nyelip di belakang TV. Kaleng minuman itu masih terisi penuh. Cyra menyambar benda itu ia tidak melempar benda itu ke arah Alfa, melainkan melemparnya ke arah balkon dan tepat mengenai kaca pintu balkon.
Prang!
Kaca pintu pecah.
TBC