PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
133. Permohonan


“Zaki, ini aku Cyra. Buka matamu, Zaki!” Cyra terisak mengikuti bed yang didorong oleh perawat. Kedua tangannya gemetar memegangi sisi bed dengan air mata yang menetes-netes mengenai tangan Zaki. “Zaki, plis buka matamu! Kamu pasti kuat! Zaki, aku sayang sama kamu. Jangan tinggalin aku, plis! Kenapa ini bisa terjadi?”


Sepanjang mendorong bed, Cyra terus menangis dan meminta supaya Zaki membuka matanya, tapi usahanya sia-sia, Zaki tetap terpejam.


“Mohon tunggu di sini! Biarkan dokter yang bekerja. Percayakan pada kami!” ucap perawat saat bed sudah melintasi sebuah pintu dan didorong masuk.


Cyra terpaku menatap pintu yang tertutup. Tubuhnya langsung bersimpuh di lantai dengan tangis sesenggukan.


Tuhan, andaikan saja ada satu permohonan yang jelas Engkau kabulkan, Cyra hanya meminta satu, selamatkan Zaki. Maafkan jika permintaan Cyra terkesan memaksa, tapi Cyra tidak ingin Zaki pergi meninggalkan dunia untuk saat ini. Hatinya tidak rela.


“Ra, gue nggak tahu nih mesti ngomong apa buat nenangin lo.”


Cyra tidak menoleh ke arah suara di sisinya. Ia tahu itu suara Faiz. Saat ini ia sedang larut dalam tangisannya.


Faiz menatap bahu Cyra yang bergetar. “Gue juga pernah ngerasa takut kehilangan, waktu adik gue sakit dan divonis nggak akan bertahan hidup lama. Sehari-harinya, gue selalu bersama adik laki-laki gue itu. Gimana gue nggak ngerasa atkut kehilangan pas dokter bilang begitu. Tapi Ra, lo tahu nggak, ketika akhirnya adik gue bener-bener meninggal, gue ternyata bisa lepasin meski awalnya gue nggak rela.”


Cyra menutup kedua lubang telinganya dengan telapak tangan. Isakannya semakin tersedu. Kata-kata Faiz yang memiliki niat ingin menenangkan, namun justru malah menjadi kalimat menakutkan bagi Cyra. Kenapa Faiz malah membahas kematian?


Faiz akhirnya memilih diam melihat Cyra yang tidak mau mendengarkan kata-katanya. Ia bahkan tidak menyadari akan kalimatnya yang keliru. Arif sudah pulang. Ia harus mengembalikan mobil pinjaman pada pamannya karena akan segera dipakai.


“Sini ponsel lo, Ra. Mendingan gue telepon Rere buat nemenin lo di sini. Gue laper nih mau makan.” Faiz beralasan sembari menjulurkan tangannya di depan wajah Cyra yang kini tengah duduk di kursi tunggu dengan wajah sembabnya.


Cyra mengeluarkan ponselnya dari tas lalu menyerahkannya kepada Faiz.


Setelah mencari nama Rere di kontak, ia segera menelepon. “Re, buruan datang ke rumah sakit Sejahtera. Temenin Cyra di sini. Halah, jangan banyak tanya, lo cepetan aja dateng ke sini entar lo bakalan tahu apa yang terjadi. Iya, ujian kan udah kelar, nggak ada lagi persiapan ujian. Gue pake hp Cyra nih. Bawa satu pasang baju buat Cyra. Dia kedinginan, tuh. Oke.” Faiz memutus sambungan telepon meski di seberang sana, Rere masih melontarkan banyak pertanyaan.


Faiz mengembalikan ponsel kepada Cyra.


“Gue pulang dulu. Nanti rere ke sini nemenin lo.” Faiz berlalu pergi sesaat setelah kepala Cyra mengangguk.


Cyra sudah menelepon Alya untuk mengabari kondisi terkini Zaki, dan Alya mengaku akan segera datang secepatnya.


Tidak sia-sia Cyra menunggu di depan pintu ruangan operasi selama berjam-jam lamanya, karena akhirnya dokter keluar dan mengatakan operasi pada tulang tubuh Zaki yang retak telah berhasil. Namun dokter belum bisa memastikan kondisi pasca operasi. Pasien masih kritis.


***