
Arkhan mendekati meja Zalfa dan meraih pergelangan tangan wanita itu. “Ikut denganku!” titahnya sembari menarik pergelangan tangan yang dia genggam. Ia tidak perduli meski menjadi pusat perhatian semua pengunjung di kafe tersebut.
Tubuh Zalfa tertarik dan bangkit berdiri seiring dnegan tarikan tangan Arkhan. Ia melangkah mengikuti Arkhan menuju keluar kafe.
Faisal hanya diam. Ia sadar diri dan tidak mau ikut campur ke dalam ranah rumah tangga Arkhan dan Zalfa.
Arkhan sudah naik ke atas motor dan ia menarik lengan Zalfa hingga wanita itu tak dapat berkutik, pasrah saat dalam waktu yang begitu singkat, entah bagaimana caranya tangan besar Arkhan mampu membuat tubuhnya terduduk di tanki motor depan, posisinya duduk miring dan tubuhnya berada dalam apitan kedua lengan kokoh Arkhan yang saat itu tengah memegang stang.
Dalam hitungan yang begitu cepat, motor melaju kencang meninggalkan kafe.
“Arkhan, hentikan motornya! Apa-apaan ini?” Zalfa berseru lantang mengingat angin kencang menampar-nampar wajahnya dan membawa suaranya terbang entah kemana. Tingginya laju kendaraan membuat Zalfa ketakutan hingga tanpa sadar ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Arkhan. Pipinya merasakan detakan kuat.
Zalfa mengangkat sedikit wajahnya, menatap wajah pria yang berjarak sesenti dari atas wajahnya. Pria yang saat itu sedang berekspresi emosi itu diam saja tanpa menggubris ucapan Zalfa.
Zalfa kini sadar kalau dia dan Arkhan berada di posisi pepet maksimal. Jelas, Arkhan berada di dalam pelukan Zalfa di atas motor yang melaju kencang. Meski halal bagi Zalfa memeluk tubuh kekar itu, namun rasa canggung masih menguasai dirinya. Dan yang membuat Zalfa merasa heran, kenapa ia merasa nyaman saat di posisi seperti itu.
Menatap wajah Arkhan yang merah padam, Zalfa sadar bahwa pria itu sedang marah terhadapnya. Mungkinkah Arkhan cemburu? Untuk apa Arkhan mendatangi kafenya pagi-pagi sekali hingga pria itu memergokinya tengah berbincang dengan Faisal?
Zalfa ingat kejadian beberapa menit yang lalu di kafe. Saat itu ia sedang sibuk melayani pelanggan. Tiba-tiba Faisal datang menemuinya dan mengajaknya bicara. Zalfa sudah sempat menolak, namun ia tidak tega membiarkan Faisal dikacangin. Mengingat lokasi tempatnya kini adalah tempat umum, Zalfa akhirnya setuju untuk duduk di meja tempat Faisal menunggu. Baru saja ia duduk semenit dan mengatakan kalau hubungan mereka sudah kandas dan tidak perlu ada lagi yang dibicarakan, kemudian Arkhan muncul dan membawanya kabur begini.
Arkhan menghentikan motor tepat di halaman rumahnya. Manik matanya melirik Zalfa yang diam saja membalas tatapannya.
Kedua lengan Arkhan dengan entengnya membopong tubuh Zalfa dan membawanya memasuki rumah.
Arkhan diam saja, ia mempererat pegangannya di tubuh Zalfa hingga wanita itu tak kuasa melawan tenaganya. Langkah lebar membawanya memasuki kamar dan menutup pintu dengan cara menendangnya dengan satu kaki.
Bruk!
Arkhan meletakkan tubuh Zalfa ke ranjang. Ia berada di posisi seperti sedang merangkak dan mengungkung tubuh Zalfa dengan kedua lengan dan kakinya. Sorot matanya tajam menatap wajah Zalfa di bawahnya. Keringatnya menetes mengenai baju dada Zalfa. Nafasnya memburu hingga terdengar keras memenuhi ruangan.
“Apa maumu?” tanya Zalfa dengan suara bergetar. Tatapan Arkhan membuatnya seperti mati kutu dan tubuhnya membeku.
“S*ks,” jawab Arkhan sembari membuka kancing kemejanya.
.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan lupa klik vote dan kasih poin dwongs
Follow Instagramku @emmashu90 buat kamu yang ingin kenal aku lebih dekat.