PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
21. Diajak


Buru-buru Cyra merapikan penampilannya yang kacau-balau, kaos oblong yang lubang lehernya meleber sampai ke lengan, celana santai sejengkal, serta rambut yang diikat asal-asalan yang tentunya awut-awutan. Cyra melepas ikat rambutnya dengan sekali tarik, membiarkan rambut panjangnya tergerai dan menyisirnya dengan jari sekali usap.


Waduh, malu banget kepergok pacar pas penampilan lagi kacau begini. Ada beleknya nggak nih? Mana belum sempat cuci muka lagi.


“Kenapa? Kok, malah sibuk sendiri?” tanya Zaki melihat Cyra yang malah mengotak-atik rambut dan bajunya.


“Eh ah mm.. enggak. Anu. Kamu ngapain kesini?”


“Ini disuruh mama balikin rantangmu.” Zaki menyodorkan rantang.


“Ooh…” Cyra menyambut rantang. “Makasih, ya!”


Zaki mmengangguk.


Jeda beberapa detik. Keduanya membisu. Cyratertegun menatap Zaki yang masih bengong di depan pintu.


“Kok, masih di sini?” tanya Cyra polos sekali.


“Kamu nggak suruh aku masuk?”


“Oh… Maksudnya mau sekalian bertamu, ya? Kirtain Cuma mau balikin rantang doang.”


Ya ampun, kalimat apa yang baru saja Cyra ucapkan? Apa tidak menyinggung Zaki? Ah ya sudahlah, namanya juga keceplosan. Zaki juga terlihat biasa saja, tidak merasa tersinggung.


“Ya udah masuk!” Cyra kikuk.


“Tunggu!” Zaki meraih pergelangan tangan Cyra saat gadis itu balik badan hendak masuk.


Tapi naas…


“E ee eh…” Cyra histeris saat rantang di tangannya bergoyang akibat tarikan tangan Zaki, pengait rantang pun terlepas. Berikutnya… rantang miring dan isinya tumpah ke lantai.


Zaki dan Cyra saling pandang.


“Waduh, rendangnya tumplek.” Cyra menyesal.


Zaki hanya diam saja, tidak tahu harus berbuat apa.


“Bik Mey!” panggil Cyra dan disahuti oleh asisten rumah tangganya itu sambil tergopoh menemui majikan.


“Ya, Non Cyra?”


“Bik tolong bersihin lantainya, ya! Trus ini rantangnya bawa ke belakang.” Cyra menyerahkan rantang kosong. “Buruan ya, Bik. Jangan sampai ketahuan mama, entar aku diomelin.”


Zaki **** senyum, ia berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak. Cyra terlihat ketakutan mendapat omelan mamanya. Lucu sekali ekspresi wajah Cyra saat sedang panik.


Bik Mey berlari ke belakang membawa rantang kosong, tak lama ia kembali membawa peralatan yang diperlukan untuk membersihkan lantai.


“Sekarang?”


“Tahun depan.”


“Heh?” Cyra nyengir menatap muka Zaki yang mulai jutek.


“Iyalah sekarang.”


“Ya udah ayo, masuk!”


“Nggak usah. Kalau di dalem kesannya formal banget. Kita ke taman samping rumahmu aja.”


Cyra mengernyit. Nih cowok tau banget tempat bagus buat duduk nyantai. “Tapi aku belum mandi. Tunggu aku mandi dulu bentar, ya.”


“Nggak usah!” ketus Zaki kemudian beranjak meninggalkan teras, berjalan menuju ke taman samping rumah.


Yassalam… Zaki lempeng banget jadi cowok. Ketusnya bisa dihilangin dikit nggak sih? Ampun dah punya pacar galak.


Cyra mengikuti Zaki menuju taman, pria itu duduk di kursi besi bawah pohon rindang. Sejuk sekali di sana.


Dengan kikuk, Cyra duduk di sisi Zaki dengan jarak lumayan jauh. Pria itu bahkan terlihat sangat rileks, tenang dan tak sedikit pun tampak grogi ataupun gugup seperti yang Cyra rasakan.


“Ra, berapa nomer ponselmu?”


“Jadi kamu ngajakin ke sini Cuma mau nanyain berapa nomer ponselku? Bukannya kamu udah punya nomer ponselku, ya?”


“Hilang.”


“Kok, bisa? Kamu delete ya hilnag.”


“Nggak tahu. Tiba-tiba aja hilang. Mau kasih nomernya nggak?”


“Iya iya.” Cyra mengambil ponselnya dari kantong celana lalu miscall ke handphone Zaki.


Ponsel yang ada di genggaman pria itu pun berdering. Muka Zaki memerah menatap nama yang tertera di layar ponsel. Sayangku.


Astaga, kok Zaki bisa lupa kalau tadi malam ia mengganti nama Cyra di ponselnya menjadi ‘sayangku’? pantas saja dicari-cari tidak ketemu.


Zaki langsung mereject panggilan Cyra berusaha menyembunyikan nama yang ia tulis sendiri di hapenya. Tapi terlambat, sudah duluan kepergok Cyra. Gadis itu menangkap nama di ponsel Zaki sebelum Zaki sempat merejectnya.


“Wuaha ha haaa…”


Zaki menoleh. Tawa Cyra kayak geledek. Zaki membuang muka ke arah samping menyembunyikan wajahnya yang memanas. Dasar gadis sembrono, ngetawain pacar nggak kira-kira.


“Kamu lupa apa gimana?” Mata Cyra menyipit saat tergelak. Ia bahkan sampai melupakan rasa grogi akibat penampilannya yang kacau. “Tapi ngomong-ngomong, namaku keren banget.”