PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
48. Pertimbangan


“Pak, jujur saya merasa bersalah atas kejadian ini. Sebab Pak Zaki sudah minta maaf sama saya. Antara kami sudah tidak ada masalah dan kami sudah berdamai. Sungguh, semua ini sudah selesai.”


“Tapi tetap saja, Pak Zaki pernah melakukan tindakan itu padamu. Ini sebuah sikap tidak bermoral dan tidak baik untuk contoh, dia kan dosen, setidaknya menjadi contoh untuk para mahasiswanya.”


“Pak, seseorang yang pernah melakukan kesalahan, pernah memukul, pernah melakukan tindakan kriminal, dan kemudian semua kesalahannya itu selelsai dengan damai dengan orang-orang yang bersangkutan, apakah dia tidak punya kesempatan untuk bisa menjadi dosen di kampus ini? Contohnya Pak Taufik, sebelum dia menjadi dosen di sini, dia pernah punya kasus memukul tetangganya, tapi masalah itu diselesaikan dengan damai. Dan beliau bisa bekerja di sini sebagai dosen, bukan? Apa bedanya dengan Pak Zaki? Ini kasus yang sama. Mereka sama-sama melakukan kesalahan di saat mereka belum berstatus sebagai dosen di sini. Ini kasus yang sama, Pak.”


Dekan terdiam menatap Cyra. Keningnya mengerut seperti sedang berpikir keras. Telunjuknya mengelus-elus dagu.


Nah loh, kena deh dipengaruhi kata-kata Cyra. Ya Rabb, semoga usaha Cyra akan memberikan hasil.


“Jujur saya menyesal kenapa terlambat mengatakan hal ini ke Bapak. Tapi kejadian yang menimpa Pak Taufik, menjadikan cermin bagi saya untuk mengatakan semua ini. Pak Zaki memiliki hak yang sama seperti yang dirasakan Pak Taufik. Saya yang menurut bapak adalah korban, bersedia memberi penjelasan ini karena mengharap hak yang sama untuk Pak Zaki. Kenapa Bapak tidak bisa memberikan hak itu?”


Dekan menarik nafas. Mengubah posisi duduk menjadi lebih dekat dengan meja.


“Mohon keadilannya, pak. Saya yakin, keadilan itu ada dalam diri Bapak. Sebab saa yakin, para mahasiswa tidak akan melihat Bapak duduk di sini jika Bapak tidak memiliki keadilan itu,” lanjut Cyra. Dalam hati berteriak girang, horeee.. kok bisa ya bicara sok bijak, sok hebat dan sok tahu begini?


Dekan menarik nafas lagi. Tampangnya benar-benar terlihat kusut sekarang. Kalau Cyra bawa setrika, sudah Cyra setrika tuh muka biar kembali halus lagi.


“Akan saya pertimbangkan,” ujar dekan akhirnya.


Cyra tersenyum senang mendengarnya. Hampir saja Cyra mencium punggung tangan dekan sebagai bentuk terima kasih. Tapi pasti itu akan kelihatan berlebihan, atau bahkan lebay. Ada kemungkinan dekan akan menarik ulur keputusannya. Masih ada harapan untuk Zaki bisa kembali ke kampus itu lagi.


“Semoga pertimbangan Bapak sesuai dengan yang diharapkan.” Cyra tersenyum bahagia.


Dekan mengangguk.


“Silahkan!”


Cyra beranjak meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Seketika hatinya terasa gembira mengingat dekan yang mengatakan akan mempertimbangkan permohonannya. Dekan tidak langsung menolak apa yang ia sampaikan, beliau member harapan. Tidak sia-sia Cyra mempertaruhkan jantungnya yang ketar-ketir demi untuk menemui dekan.


Cyra menyandarkan pungungnya di pintu dengan perasaan penuh harap. Matanya terpejam, berdoa semoga Tuhan mengabulkan harapannya.


Tiba-tiba…


Gludak!


“Loh, Cyra kamu tidak apa-apa?” Dekan terkejut melihat Cyra yang kejungkang di lantai sesaat setelah ia membuka pintu.


Cyra nyengir dan segera bangun. Itulah akibatnya keenakan nyender di pintu. Akhirnya badan jadi korban, ngejogrok di lantai saat pintu dibuka. Buset dah, Cyra malu bukan main.


***


T B C


Ingat ingat, jangan lupa tekan tombol like di setiap episodenya.


Love,


Emma Shu