
Dan kini, yang membuat cengiran Cyra semakin lebar adalah kemunculan Alya di belakang Surya. Oh ya ampun, ternyata keluarga kecil itu sedang berkumpul di kamar Zaki. Dan Cyra tiba-tiba muncul mengetuk pintu, kebetulan Surya yang paling dekat dengan pintu langsung membukanya. Jeng jeng jeeeeng… terjadilah salah peluk setelah kemarin Zaki yang salah remass tangan Bik Pay.
“Cyra, maaf, ternyata Zaki tidak pergi ke bandara,” celetuk Alya.
“Aku sejak tadi di kamar, dan nggak kemana-mana,” ucap Zaki menjelaskan.
“Tapi aku tadi ke sini dan kamu nggak ada,” sahut Cyra.
“Mungkin pas aku sedang ada di WC.” Zaki menunjuk kamar kecil.
“Iya, Cyra. Sepertinya Tante tadi yang salah paham. Zaki sempet bilang mau pergi ke bandara dan tiket sudah dia kantongi. Makanya Tante langsung mengira kalau Zaki sudah pergi saat Tante lihat tiket udah nggak ada di meja,” ucap Alya.
“Tiket memang aku pegangin, Ma.”
“Trus kopermu mana? Mama lihat juga udah nggak ada.”
“Tuh!” Zaki menunjuk koper di atas lemari. “Kalaupun aku pergi, tentu aku berpamitan sama mama. Aku nggak niat pergi, Ma.”
Alya tersenyum.
“Ya sudah, aku ke bawah dulu sama Cyra.” Zaki melewati Alya dan Surya, menggandeng tangan Cyra menuju ke lantai bawah.
Jantung Cyra berdebar saat pergelangan tangannya berada dalam sentuhan hangat tangan kokoh Zaki. Bahkan disaksikan oleh kedua orang tua Zaki.
“Ada apa kamu nyariin aku?” tanya Zaki saat mereka sudah berada di ruang keluarga. Mereka berdiri berhadapan.
Cyra menatap wajah Zaki lekat-lekat. Wajah yang sempat membuatnya merasa kehilangan. Andai saja wajah itu benar-benar tidak lagi bisa ia tatap, entah apa yang akan ia rasakan.
Plak!
“Cyra! Apa-apaan ini?” Zaki mengelus pipinya yang kena tampik telapak tangan Cyra barusan. Tubuhnya sedikit huyung ke belakang saat tiba-tiba tubuh Cyra menubruknya. Memeluknya. Lingkaran tangan Cyra begitu erat di punggungnya.
“Ada apa ini?” tanya Zaki di telinga Cyra dengan suara sangat lembut.
“Aku pikir kamu beneran pergi ke Malaysia,” rengek Cyra dengan mata terpejam merasakan elusan di punggungnya.
“Aku hanya berniat saja dan belum mengambil keputusan. Aku sempat merundingkan masalah itu ke mama, dan mama menyerahkan keputusan padaku.”
“Aku tadi ke bandara buat ngejar kamu, tau nggak?” rengek Cyra lagi hampir menangis, membayangkan kegelisahan yang tadi sempat membelit batinnya.
“O ya?” Zaki mengernyit, ia tak menyangka sekaligus bangga karena ternyata Cyra mengapresiasikan wujud cintanya dengan mengejarnya sampai ke bandara. Andai saja ia melihat ekspresi wajah Cyra yang panik saat mengejarnya ke bandara, pasti ia akan menertawakan Cyra sampai terpingkal-pingkal.
“Mamamu bilang kamu udah ke bandara, makanya aku ngejar kamu ke sana. Aku takut kamu beneran pergi,” lanjut Cyra.
“Mama hanya salah paham.” Zaki mempererat pelukannya. “Tapi aku masih di sini untukmu. Mana mungkin aku meninggalkanmu. Kalaupun aku pergi, aku pasti berpmaitan denganmu meski aku tahu kamu pasti bakalan mewek-mewek.” Ia mengecup puncak kepala Cyra.
Cyra akhirnya tersenyum dan melepas pelukan. Ditatapnya wajah Zaki dengan kepala mendongak karena ukuran tubuh pria itu yang jauh lebih tinggi darinya.
“Zaki, orang tuaku ngerestuin kita. Nggak ada lagi nama Alfa diantara kita,” jelas Cyra dengan mata berbinar.
“O ya? Jangan hanya memancingku supaya berani mendatangi rumahmu untuk kedua kalinya dan mengatakan hal yang sama pada kedua orang tuamu. Aku baru saja menemui mereka dan mereka menolakku. Kamu mau bikin aku malu, hm?”
“Aku serius. Papanya Alfa memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Intinya, orang tuaku menyetujui hubungan kita. Lalu gimana sama mama dan papamu?”
Zaki menyelipkan rambut yang menutup separuh pipi Cyra ke belakang daun telinga gadis itu. “Jangan tanyakan apa pendapat kedua orang tuaku. Mereka sangat menginginkanmu.”
Cyra tersenyum riang.
TBC