PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 75


Air sudah sampai di depan batang hidungnya. Ia pun melepas pegangannya dan berusaha berenang meski menahan rasa sakit yang teramat sangat. Ya Tuhan, dingin. Sangat dingin. Ia merasa seperti masuk ke dalam air es. Ia mendengar teriakan keras bocah yang ia tolong itu menangisi dirinya.


Faisal berusaha berenang. Tapi mau berenang kemana? Dan sampai kapan ia bertahan dalam posisi berenang di dalam air sedingin itu? Gelap. Benar-benar gelap. Saat Faisal menatap ke arah kapal, hanya terlihat ujung kapal saja. Dan sekarang kapal telah sempurna tenggelam. Dan bocah kecil yang tadi, sudah hilang ditelan air. Faisal berenang menuju ke sebuah pelampung yang terombang-ambing. Tangannya berhasil meraih pelampung dan langsung mengenakannya.


Faisal merasakan sekujur tubuhnya semakin dingin. Kakinya kebas. Tangannya pun mulai kebas. Seluruh kulitnya sudah memucat dan bibirnya membeku. Tubuhnya menggigil hebat. Sampai kapan ia bertahan dalam kondisi seperti itu? Ya Tuhan, mautnya seperti sudah berada di depan mata. Dan ia hanya tinggal menunggu waktu saja. Faisal pasrah. Sudah sangat pasrah. Ia berpikir, sebentar lagi ia akan meninggal. Nyawanya akan kembali kepada yang menciptakan.


Dalam hati Faisal berzikir, laa illa ha ilallah… Laa hawla wala quwatta ila billah. Dan ia memohon pada Allah, terimalah tobatnya. Inilah saatnya ia menjemput ajal. Dan hanya satu nama yang ia ingat, Allah. Jika sebentar lagi nyawanya meninggalkan raga, maka itu sudah menjadi kehendak Allah. Bukan takut mati yang dirasakan Faisal saat itu, tapi justru kebesaran Allah saat melihat betapa luas air laut yang ada di sekelilingnya. Betapa hebat Allah yang telah menciptakan gelap yang sangat gelap. Betapa besar Kuasa Allah yang telah memperlihatkan kepadanya kejadian dahsyat di malam yang penuh dengan tragedi itu.


Laa illa ha ilallah… Di zikir terakhir, mata Faisal terpejam dan tidak sadarkan diri, ia tidak kuasa lagi menahan rasa dingin di sekujur tubuhnya.


Enek Hasibuan, lelaki keturunan Batak Toba yang melihat sosok tubuh terayun di atas air langsung berteriak memanggil teman-temannya. Bergegas Enek dan teman-temannya menyelamatkan Faisal, mengangkat tubuh Faisal dan membawanya ke kapal kecil yang mereka naiki meski mereka tidak tahu apakah yang mereka selamatkan itu mayat atau manusia. Enek terperanjat kaget saat mengetahui bahwa tubuh kedinginan yang memucat itu ternyata masih hidup.


Entah berapa lama Faisal terpejam, namun saat kelopak mata Faisal terbuka, yang pertama menjadi pemandangannya adalah wajah sangar dengan rahang kokoh yang pipinya dipenuhi lubang bekas jerawat. Sesaat Faisal bingung mengamati sekeliling. Ia tengah berada di sebuah tempat asing, atap rumah terbuat dari daun yang tidak tahu entah apa namanya, dindingnya terbuat dari papan dan banyak yang bolong-bolong. Matahari dari luar menembus ke dalam melalui lubang-lubang kecil. Dan lantainya… ah, tidak ada lantai. Alasnya tanah. Ia tertegun mendapati diri tergeletak di atas sepotong tikar pandan cokelat.


TBC