PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
174. Ijab Qobul


“Sudah siap, Zaki?” tanya penghulu menatap wajah Zaki intens.


“Sudah,” jawab Zaki yang duduk berhadapan dengan penghulu dengan tegas. Sebutir keringat mengucur di pelipis Zaki. Semoga saja tidak ada yang tahu kalau sekarang Zaki benar-benar sedang menahan pipis akibat grogi. Sebisa mungkin ia menampilkan ekspresi tenang meski sesungguhnya hatinya kacau-balau.


Lagi-lagi, kini Zaki yang harus banyak melakoni peran, sedangkan Cyra yang kini duduk di sisinya, hanya perlu diam dan menyaksikan semuanya berubah menjadi halal. Itu pun kalau berhasil halal. Zaki tidak menjamin, isi kepalanya benar-benar blank.


“Baik, silahkan, Pak!” Penghulu mempersilahkan Farhan selaku orang tua Cyra untuk memulai ijab qobul.


“Zaki, kamu mencintai Cyra?” tanya Farhan seperti sedang menggoda Zaki.


“Ya,” singkat Zaki tak mau mengulur waktu. Jawabannya terdengar mantap.


“Kamu sudah siap menjadi imam untuk Cyra?”


“Sudah.”


“Sebagai suami kelak, kamu memikul banyak tanggung jawab, kamulah pemimpin Cyra. Embanlah tugasmu dan jadilah suami yang baik, yang bisa dijadikan panutan untuk istri dan anak-anakmu kelak.”


“Tentu.” Jawaban Zaki sejak tadi hanya sepotong-sepotong saja.


“Baiklah, kita mulai. Siap?”


“Ya.”


Farhan mengucap basmallah, lalu menjabat tangan Zaki kuat.


Sebaris kalimat sakral terucap lantang dari mulut Zaki menjawab ijab yang yang baru saja Farhan lantangkan. Sesaat setelah itu, terdengar penghulu bertanya kepada para hadirin, “Bagaimana para saksi, sah?”


Disahut oleh gemuruh jawaban serentak, “Saaaaah…”


Alhamdulillah… Bisik Zaki dalam hati. Rasa syukur menghujani batinnya. Akhirnya kegugupannya terbayar sudah. Ia mengira akan mengucapkan qobul dengan gemetaran sehingga belepotan dan kata-katanya bersalahan dan akhirnya mengulang-ulang ijab qobul, tapi ternyata kejadiannya tidak seburuk yang ia duga.


Terdengar gemuruh ucapan hamdallah dari segala sisi. Kemudian lantunan doa dibacakan dan diaminkan oleh seluruh hadirin yang memenuhi seisi rumah megah Cyra. Ijab qobul berlangsung lancar disaksikan oleh para malaikat yang turut mengaminkan.


Cyra meneteskan air mata saat tangannya menengadah. Entah kenapa hatinya terasa basah, sebentar lagi ia akan melepas masa lajang dan mengemban amanah sebagai istri Zaki Salman. Getaran dalam hatinya benar-benar terasa dan membuatnya kian terharu. Kini, ia duduk berdampingan dengan Zaki, dengan selembar kain yang menyatukan kepalanya dan juga kepala Zaki yang kini telah sah menjadi suaminya, tetes-tetes air mata terus bergulir membasahi pipinya dan mendarat di telapak tangannya yang tengah menengadah turut mengaminkan doa yang dipanjatkan.


Di tengah rasa bahagia, terselip perasaan haru yang menyentuh hatinya, membuatnya tak kuasa melawan rasa cengeng. Ini adalah hari yang luar biasa baginya, hari yang penuh dengan makna dan mengantarkannya pada gerbang awal kehidupan baru.


Berbanding terbalik dengan Zaki. Pria itu tampak duduk tenang dengan kepala menunduk turut mengaminkan doa. Tak ada raut sedih ataupun bahagia yang tampil di wajahnya, melainkan justru terlihat seperti orang baru saja selesai buang air besar setelah menahannya beberapa jam. Ya, anggap saja ia terlihat lega dan lebih nyaman sekarang setelah tadi menahan segala rasa yang berkecamuk saat mengucapkan qobul. Tidak ada yang tahu jika sesungguhnya Zaki tadi merasa sangat gugup, grogi, dan gemetaran. Terlebih saat ijab qobul dan tangannya dihentak oleh Farhan di momen berjabatan tangan. Bahkan telapak tangannya pun dingin sekali, Farhan pasti merasakan telapak tangan Zaki yang seperti es.


TBC


KLIK LIKE