PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
170. Ngumpul


“Ooh... Pak Zaki, bentar lagi kan Cyra mau dikekepin tuh sama suaminya. Dan waktu Cyra nggak bakalan banyak buat kami. Boleh nggak sekarang Cyra ikut kami untuk have fun. Seenggaknya kami ingin bersama-sama dengan Cyra sebelum Cyra melepas masa lajang,” ujar Rere sembari menggelayuti lengan Cyra.


“Plis deh, Pak. Boleh ya, Pak? Kalau Cyra udah jadi istri Bapak, waktu Cyra nggak akan sebebas sekarang kan?” lanjut Bianca memohon. “Kami ingin menghabiskan waktu bersama calon istri Bapak ini.” Bianca merangkul pundak Cyra.


Zaki menatap wajah-wajah penuh permohonan di hadapannya. “Oke. Bawalah Cyra bersama kalian.”


“Yess! Makasih, Pak Zaki! Tenang aja, kami bakalan ngejagain calon pengantin Bapak ini dengan baik. Jangan cemaskan Cyra,” ujar Rere girang.


Zaki mengangguk sekilas lalu memasuki mobil. Rere melambaikan tangan ke arah mobil Zaki yang berlalu pergi dengan penuh percaya diri.


“Dih, calon bininya aja nggak pake lambai tangan, lo pe de banget ngelambai-lambaiin tangan ke Pak Zaki,” ledek Bianca kemudian tertawa ngakak.


“Mumpung Pak Zaki masih berstatus lajang, entar kalau statusnya udah beristri kan nggak bisa lagi. Bisa digorok gue sama bininya.” Rere melirik Cyra. “Nggak pa-pa kan ya Ra gue ngelambaiin tangan ke Pak Zaki? Dia kan idola gue juga. Mumpung belom nikah sama lo, Ra.”


Cyra hanya mengerutkan hidung saja. Bukan Rere namanya jika tidak bicara ngelantur.


“Ya udah, sekarang apa planing kita? Enaknya kita kemana nih?” Bianca mulai berpikir, tempat apa yang enak untuk ngumpul. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk dagu.


“Ke kafe,” jawab Rere.


“Halah, kafe mulu. Yang ada elo yang keenakan. Makan sebakul.”


“He hee... Ya iyalah.” Rere nyengir lebar.


“Pikiran lo makan mulu. Ngumpul di kafe mah udah biasa. Caei tempat yang rada asik, dong.”


“Mm... gimana kalau ke rumah gue aja, mau nggak?” ajak Bianca menatap wajah-wajah teman-temannya.


“Boleh,” jawab Cyra tanpa berpikir panjang. “Kita beli makanan dulu, sambil ngumpul biar ada cemilannya.”


“Siiip. Ide bagus.” Rere langsung setuju. Apa lagi isi kepalanya jika bukan makanan.


Bianca menyetir mobilnya menghampiri teman-temannya. Mereka berhenti di sebuah minimarket, membeli banyak makanan ringan. Tak hanya berhanti di satu tempat, mereka juga berhenti di toko kue membeli berbagai jenis kue. Bianca juga memesan burger dan pizza yang dialamatkan ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Bianca, para gadis langsung menyerbu ruang santai tempat anak-anak sering berkumpul.


Cyra meletakkan beberapa kantong plastik berisi makanan yang ia beli di minimarket di lantai beralaskan permadani. Bianca meletakkan beberapa kantong kue ke meja. Kemudian ia berlari ke depan saat bel pintu berbunyi, ia kembali ke ruangan membawa dua kotak makanan. Satu kotak berisi pizza enam potong, kotak lainnya berisi burger enam buah.


“Taraaaa... Makanan delivery udah dateng.” Bianca melatkkan kotak ke atas permadani.


Semuanya mengelilingi kotak yang baru saja Bianca letakkan. Kecuali Cyra yang memilih duduk di sofa setelah mencomot sepotong pizza. Ia mengunyah pizza sambil asik berbalas pesan dengan Zaki. Sesekali ia cekikikan sendiri membaca pesan calon suaminya itu.


“Cieee... Cyra ketawa-ketawa sendirian. Pasti sms-an sama Pak Zaki,” tebak Rere dengan mulut penuh berisi burger yang sedang ia kunyah. Sepotong pizza jatah miliknya sudah ludes dia makan.


“Iya, nih. Pak Zaki gokil banget.”


TBC


KLIK LIKE