PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
160. Hukuman Ekstrim


Cyra memasuki mobil, duduk di sisi Zaki yang sudah lebih dulu duduk di bagian kemudi. Ia menoleh ke arah pria di sisinya itu. Kening Zaki diletakkan di bundaran setiran.


“Zaki, ayo jalan!”


Tak ada jawaban. Zaki masih diam saja, tak bergerak dari posisinya. Kening pria itu terlihat nyaman menempel di bundaran setiran.


“Zaki, kamu capek?” Cyra menunduk demi menjangkau wajah Zaki yang tertunduk.


Zaki mengangkat wajahnya. Menatap Cyra hingga keduanya bersitatap. “Iya, aku capek. Lelah. Letih. Lesu. Loyo. Semuanya.”


Cyra mengernyit menatap wajah Zaki yang memerah disertai kening mengerut tajam. Bahkan nada bicara Zaki tidak enak didengar. Sepertinya Zaki sedang gondok.


“Kamu marah?” polos Cyra bingung. Tiba-tiba saja Zaki berubah setelah tadi bersikap manis, kayak kena sambet apa gitu.


“Iya. Aku marah.” Zaki menekan kata marah dengan intonasi tinggi. Ia kemudian menatap ke depan dan menyalakan mesin, melajukan mobil menuju jalan raya.


“Zaki, jangan asal-asalan lagi nyetir mobilnya. Entar nabrak lagi.” Cyra cemas menatap jalanan di depan.


Zaki tidak menjawab.


Cyra menoleh menatap wajah Zaki yang merah padam. Kalau melihat ekspresi wajah Zaki, jelas ada yang salah dalam diri Cyra, tapi apa?


“Zaki, aku salah apa, sih? Kok, kamu bête gitu?”


Zaki masih diam saja, seakan malas membuka mulut.


“Zaki, bilang, dong. Jangan diem aja!”


“Entar kalau udah sampai di rumah baru kukasih tahu apa yang bikin aku eneg, pengen marah dan kesel banget kayak gini. Jadi lebih baik sekarang kamu diem aja.” Tatapan Zaki fokus ke depan.


Cukup lama keduanya diam membisu hingga akhirnya mobil berbelok memasuki pekarangan rumah Cyra.


Cyra melirik Zaki yang terlihat melepas napas keras. Sepertinya kekesalan Zaki benar-benar membeludak. Lebih baik Cyra diam saja dari pada banyak tanya dan akhirnya mlah dibentak. Ia ingat, Zaki menyuruhnya diam sejak tadi.


Tak kunjung mendengar Zaki angkat bicara, akhirnya Cyra meraih handle pintu mobil untuk segera membukanya.


“Stop! Jangan turun!” gertak Zaki membuat gerakan tangan Cyra langsung terhenti.


Cyra sontak menoleh ke arah Zaki. Jantungnya berdebam-debum mendengar gertakan Zaki barusan. Ya ampun, Zaki kalau lagi galak kok gini amat?


“Memangnya kenapa?” tanya Cyra dengan dahi mengernyit.


Zaki kini menatap Cyra dengan sorot tajam menghunus.


“Zaki, jangan galak-galak, dong. Aku bisa nangis entar,” rengek Cyra menatap ketajaman mata Zaki.


“Karena kamu udah ngelakuin kesalahan fatal, aku harus menghukummu. Kamu tahu apa hukuman untuk gadis ceroboh dan nggak tahu menempatkan diri sepertimu?”


“Hah? Nggak tahu menempatkan diri? Maksudnya?”


Tiba-tiba tubuh Zaki maju dan mendaratkan ciuman di bibir Cyra. Gerakan itu begitu cepat hingga Cyra tidak tidak sempat berkelit. Ia tergagap dan tak bisa berkutik. Ia ingin memundurkan kepala merasakan keganasan Zaki yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, namun tangan kanan Zaki memegangi kepala belakangnya sangat kuat hingga ia tak bisa menggerakkan kepalanya. Ia ingin memukuli punggung Zaki karena kehabisan stok oksigen akibat tindakan brutal pria itu, namun kedua tangannya terhimpit lengan kiri Zaki yang melingkar di punggungnya, ujung tangan kiri Zaki memegangi lengan Cyra hingga gadis itu hanya bisa menghentak-hentakkan kedua kakinya di lantai mobil sebagai bentuk protes.


Sungguh, tindakan Zaki kali ini di luar biasanya.


TBC


DUKUNG DENGAN KLIK LIKE DONG DI SETIAP PART 😍😍