PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
226. Extra Part 36


Zaki mengedarkan pandangan menatap ruangan tamu yang berbeda dari biasanya. Cyra sudah menyusun makanan di meja ruangan itu. Terutama makanan yang dibelikan oleh Zaki tadi. Wanita itu juga meletakkan mie goreng spesial yang baru saja dia masak dengan kilat di dapur. Aromanya berputar mengisi ruangan, mie-nya bahkan masih berasap, menandakan mie masih panas.


Zaki mendekati meja. Selera makannya entah kenapa tiba-tiba saja naik mencium aroma sedap yang menggelitiki hidung. Ia mengambil sumpit yang disediakan oleh Cyra di sebuah tempat, lalu mengarahkan ujung sumpit ke mie.


Plak!


Zaki terkejut merasakan punggung tangannya ditampel, ia menoleh ke arah Cyra yang menampel tangannya.


“Kenapa?” Tanya Zaki.


“Itu untuk temen-temenku. Mereka sebentar lagi dating. Kamu kok malah mau ngacak-ngacakin masakanku, sih?” sergah Cyra dengan senyum lebar.


Zaki menatap Cyra tajam. “Kamu lebih spesialin temenmu dari pada suamimu. Liat deh, kamu amsakin mereka. Nah, untukku mana?”


“Makanya jangan emosi yang didulukan, sayang. Tanya baik-baik dulu, dong. Aku udah sediain buatmu. Sini, yuk!” Cyra menggandeng Zaki menuju ke meja makan. Ia menarik sepiring mie hangat dari tudung saji dan meletakkannya ke depan Zaki yang saat itu sudah duduk di salah satu kursi. “Sengaja aku siapin buat kamu. Dan aku narok makanan di ruang tamu supaya kegiatanmu di ruang makan ini nggak terganggu. Aku minta satu ruangan untuk aku dan temen-temen reunion. Boleh, kan?”


Wajah Zaki yang tadinya berang, sontak berubah jadi enak dipandang mendengar penjelasan Cyra. Entah kenapa Zaki jadi gems sekali terhadap Cyra semenjak tingkah istrinya itu sedikit aneh-aneh. Zaki menatap wajah istrinya dengan mendongakkan wajah karena posisi Cyra yang saat itu berdiri. “Aku mesti jawab apa, Ra. Kamu kan udah janjian sama temen-temenmu, mana mungkin aku minta kamu untuk ngebatalin. Ya udah, kalian enjoy aja.” Zaki mengambil sumpit yang sudah disediakan Cyra di pinggir pringnya lalu menyantapnya.


Ekspresi Zaki berubah aneh setelah menelan mie. Kemudian ia meneguk air mineral yang sudah disediakan oleh Cyra.


“Kenapa? Kok, mukamu ditekuk gitu?” Cyra heran.


“Kok, rasanya beda ya?”


“Kayak nggak ada bumbunya.”


“He heee… Aku masak memang nggak pake bawang.”


“Hah? Pantesan rasanya hambar.”


“Masak sih?” Cyra mencicipi mie milik Zaki. “Enak, kok.”


Astaga, ya ampun Cyra. Masakanmu ya ampun, rasanya hancur begini. Gimana bisa dibilang enak? Apa temen-temenmu nggak bakalan merem melek ngerasain masakanmu ini? Mereka terbiasa makan di restoran, di kafe dan masakan pembantu yang rasanya wow nikmat, tiba-tiba mengunyah makanan yang rasanya asin doang. Zaki tidak tega mengutarakan isi hatinya tersebut, takut mengecewakan perasaan Cyra yang sedang semangat-semangatnya memasak. Tapi bagaimana caranya Cyra bisa memperbaiki hasil masakannya jika tidak diberitahu kalau masakannya itu memang tidak enak?


“Memangnya kenapa masakanmu nggak dikasih bawang? Bukankah bawang adalah bumbu utama yang bisa membuat hasil masakan menjadi lezat?” tanya Zaki ingin melipir menyinggung soal hasil masakan yang rasanya hanya asin.


“Nggak tau kenapa, aku tuh pusing dan mual bau bawang. Aku nggak mau mencium bau apa pun. Tapi menurutku masakan yang begini malah enak, kok. Nggak tercium aroma bawangnya.” Cyra duduk di kursi sisi Zaki dan kembali menyantap mie milik Zaki.


Zaki bertambah heran atas sikap Cyra yang semakin aneh. Bahkan soal makanan pun, Cyra jadi berubah. Ada apa dengan istrinya itu?


Zaki menatap bibir Cyra yang sedang menarik mie masuk ke mulutnya. Kemudian Zaki memajukan wajahnya lalu menarik ujung mie yang menggantung dari mulut Cyra dengan mulutnya.


TBC