PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
130. Mengejutkan


Dengan tatapan menyala, Faiz mulai bercerita.


Beberapa jam yang lalu, Faiz sedang mengendarai motornya melintasi jalan sepi demi menghindari kemacetan. Dering ponsel di saku celananya seiring dengan getaran membuatnya merogoh ponsel sambil memiringkan tubuh agar mudah menjangkau ponsel di dalam kantong depan yang cukup dalam. Lalu ia menempelkan ponsel ke pipi. Tapi naas, ponsel malah terlepas dan meluncur jatuh.


“Ban*sat! Pake jatoh lagi!” Faiz mengumpat kesal. Ia menginjak rem dengan gerakan mendadak sampi tubuhnya terhuyung maju. Segera ia menyetandarkan motor di tepi jalan lalu memungut ponsel yang layarnya sudah retak. Tentu saja retak, benda pipih itu terbanting disaat motornya sedang melaju kencang.


Faiz jongkok mengamati ponselnya, masih menyala.


“Resek, dah. Kagak bersahabat banget nih hape. Pas lagi dibutuhin aja malah main jatoh aja. Sial!” Faiz menggerutu memaki-maki benda canggih miliknya itu. Sesekali menepuk benda itu dengan telapak tangannya saat ia menggeser layar namun kesulitan karena layar tidak bergerak.


Faiz kemudian menoleh saat mendengar suara seseorang terbatuk. Ia melihat Alfa yang berjalan dari arah gedung kosong menuju sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Alfa memasuki mobil itu, mobil yang Faiz kenali adalah milik Zaki.


Banyak pertanyaan menyerang benak Faiz melihat Alfa menyetir mobil itu. Kemungkinan Alfa tidak melihat keberadaan Faiz karena Alfa tidak menoleh-noleh, pandangan Alfa hanya tertuju ke mobil yang akan dinaikinya sejak keluar dari belakang gedung sampai ia meninggalkan lokasi itu.


Faiz menaiki motornya, memutar kunci setelah mengantongi ponselnya. Hampir saja Faiz menekan tombol starter, namun gerakan jempolnya tertahan saat samar-samar ia mendengar suara teriakan dari arah gedung.


“Suara apa itu? Hantu?” Faiz bertanya-tanya.


Penasaran, ia mengendarai motor menuju ke gedung yang tak jauh dari posisinya, ia mengitari gedung sampai ke belakang.


Suara teriakan yang dipadu erangan kembali terdengar, Tak salah, sumber suara yang terdengar berasal dari dalam gedung tersebut. Faiz menuruni motor. Berlari memasuki gedung.


“Ada orang di dalam? Helooo!” seru Faiz sembari mencari-cari sumber suara.


Sunyi. Tak ada jawaban. Bahkan suara teriakan tak lagi terdengar.


Faiz menuju pintu yang tertutup. Lalu mengguncang handle, pintu dikunci.


Faiz membantingkan tubuhnya ke pintu berkali-kali hingga akhirnya pintu terbuka. Faiz terkejut melihat sesosok tubuh terkapar, terkulai lemas di lantai dengan kondisi mengenaskan.


“Pak Zaki!” Faiz menghambur mendekati Zaki yang posisinya menelungkup. Faiz geleng-geleng kepala menatap kondisi Zaki, wajahnya lebam, punggung tangannya terluka dengan darah segar yang masih mengalir, telapak kakinya juga terluka dan mengeluarkan darah, seperti bekas terkena benda panas, matanya terpejam, keringat mengucur deras di wajahnya. Ada darah di lantai sepanjang satu meter, sepertinya Zaki menyeret tubuhnya untuk mendekati pintu hingga meninggalkan jejak darah di lantai.


“Pak!” Faiz meraih tubuh Zaki yang lemas. Beberapa kali ia menepuk pipi Zaki yang memucat.


Kelopak mata Zaki terbuka sedikit. Ia menatap Faiz dan mulutnya terbuka seperti hendak berbicara, namun tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


“Katakan, Pak! Apa yang terjadi?” Faiz meringis menatap wajah Zaki yang lebam.


Zaki mengangkat tangan kanannya dan menyentuh tangan Faiz dengan gerakan gemetaran. Ia seperti sedang menahan rasa askait di sekujur tubuhnya. Mulutnya kembali bergerak-gerak hendak bicara.


“Fa… Faiz, a ak…” Zaki berbicara terbata. Suaranya lebih seperti bisikan.


Faiz mendekatkan telinganya ke mulut Zaki.


“Psskkstyhh…”


Faiz tidak bisa menangkap apa yang Zaki katakan. Bisikan dari mulut Zaki sama sekali tidak menciptakan kata-kata. Faiz memundurkan kepalanya, memberi jarak supaya ia bisa menatap wajah Zaki.


Namun yang menjadi pemandangan Faiz sekarang adalah mata Zaki yang sudah terpejam. Tangan Zaki yang memegangi tangan Faiz sudah terlepas, terkulai lemas di lantai. Faiz mempererat pegangannya di caruk leher Zaki karena tubuh dalam pangkuannya itu melemas dan terasa berat.


TBC