PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 76


Dimana ini? Di liang lahat? Inikah malaikat munkar dan nankir yang akan menanyainya? Faisal malah keheranan melihat sosok yang dianggapnya malaikat itu tersenyum melihat dirinya membuka mata. Semakin Faisal memperhatikan wajah sangar di hadapannya itu, barulah pertanyaan di kepalanya terjawab. Oh Tidak. Lelaki di depannya itu manusia. Itu artinya ia masih hidup. Ia tidak sedang berada di alam kubur. Itu artinya ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki hidup demi menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Faisal masih belum yakin bahwa ia masih hidup, sebab terakhir kali ia melihat banyak manusia yang tenggelam bersama dengan kapal yang ditumpanginya. Tapi inilah kenyataannya, ia masih bernafas.


Alhamdulillah…. Begitu dahsyat keagungan Tuhan, Faisal diselamatkan diantara banyaknya manusia yang tenggelam di lautan luas. Ia sudah pasrah dan berserah diri. Dan maut itu seperti telah ada di depan mata. Tapi Tuhan masih menyelamatkannya dengan cara yang sama sekali tidak terprediksi.


“Aku dan teman-temanku menemukan kau di laut,” jelas Enek.


Faisal tertegun merasakan udara yang masih bisa ia tarik melalui saluran pernafasannya, juga merasakan detakan jantung di dadanya. Ternyata begitu besar nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Kembali terekam di kepalanya kejadian beberapa menit sebelum kapal tenggelam. Diantara ratusan orang yang telah meninggal, saat ini ia masih bisa bernafas. Subhanallah. Faisal langsung menggerakkan badan untuk menuju posisi sujud, namun ia merasakan nyeri yang teramat sangat di pahanya.


“Aaakh...” Faisal berteriak sembari memegangi paha.


“Woi... Kau hati-hatilah. Kaki kau masih sakit kan? Aku sudah tempel paha kau dengan ramuan mantap. Luka di paha kau sangat serius. Memarnya hebat. Warnanya sampai biru dan bahkan sampai hampir menghitam. Semoga saja tulang paha kau tidak bermasalah.”


Faisal menatap Enek sedih. Ia hanya ingin sujud syukur. Dan ia tidak bisa melakukannya. Inilah saat-saat paling menyedihkan dalam hidupnya, disaat hatinya menyatu dengan rasa menuju Tuhan, ia justru tidak bisa menyalurkannya melalui sujud.


“Kau akan lakukan apa?” tanya Enek dengan logat khas Batak.


Enek mengangguk meski dengan pandangan tak menentu. Lalu ia merangkul bahu Faisal dan membantunya melakukan sujud. Faisal melakukan sujud dengan susah payah menahan rasa nyeri dan sakit di pahanya. Ya Tuhan, sangat sakit rasanya. Namun perasaan sakit itu terobati saat ia sudah menjatuhkan lutut di atas tanah dan bersujud. Tak perduli ia mencium tanah. Berkali-kali ia mengucap hamdallah. Tanpa sadar air matanya jatuh menitik di atas tanah.


Enek terharu. Begitu besar wujud syukur yang diungkapkan Faisal, hingga ditengah rasa sakit yang amat parah, ia masih berusaha untuk dapat melakukan sujud. Enek membantu Faisal bangkit dari sujud setelah Faisal mengangkat kepalanya. Faisal duduk dan menangis. Seumur hidup, setelah lepas dari masa kanak-kanak, baru kali ini ia menangis tersedu.


Enek menepuk bahu Faisal hingga membuat Faisal terkejut. Sebenarnya bukan maksud Enek membuat Faisal kaget, Enek sedang berusaha menenangkan. Tapi gaya dan caranya terbiasa begitu. Terlalu bersemangat.


“Terima kasih, Enek,” lirih Faisal terharu. “Kapal yang kutumpangi tenggelam. Semua penumpangnya juga ikut tenggelam. Dan sekarang… aku selamat.”


“Nah, harusnya kau senang. Tertawa. Jangan menangis,” bujuk Enek gembira.


Sudut bibir Faisal tertarik sedikit. Enek tidak mengerti apa yang ia rasakan. Ia bersyukur dan terharu. Ia merasakan Tuhan sedang menunjukkan kuasa-Nya di balik kejadian ini terhadapnya.


TBC