PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 78


Masya Allah… Faisal semakin terharu. Inilah yang dinamakan muslim sejati. Orang yang merasa terketuk hatinya melihat orang lain terluka. Dari dalam diri Enek, Faisal menemukan sosok yang memiliki hati bersih. Dan Faisal merasa bersyukur bisa dipertemukan manusia sepertinya, sehingga ia bisa banyak belajar dari Enek. Tentang bagaimana harus ikhlas, bersabar, berbagi, dan mengharap keridahaan Allah. Tuhan menunjukkan hikmah yang luar biasa di balik kejadian yang dialaminya. Bukan hanya malam ini Faisal melihat Enek shalat tahajud, hampir setiap malam Enek melakukan shalat itu. Tapi baru malam ini Faisal menyimak doa yang diuatarakan Enek.


“Ya sudahlah, ayo tidur. Sudah mau pagi ini.” Enek merebahkan tubuh di samping Faisal. “Besok kita makan enak. Tadi aku berburu, dapat satu ekor kelinci. Kakakku sudah mengolahnya di kuali belakang. Kau sudah tidur tadi, jadi kita tak sempat makan bersama.” Enek memejamkan mata.


Faisal masih diam terpaku. Pandangannya menyapu penampilan Enek, celana panjang hitam yang sudah buruk serta kaos putih yang tak kalah buruk. Dengan keadaan demikian, Enek tidak pernah putus bersyukur.


Setelah paha Faisal membaik, Faisal memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dan di perjalanan pulang, Faisal harus menikmati rasanya terlantar selama menunggu penerbangan di bandara beberapa jam lamanya. Satu hal yang membuat Faisal merasa sangat terkesan, begitu pesawat mendarat, ia dipertemukan dengan gadis cantik yang selama ini membayang di kepalanya, Zalfa. Gadis bermata indah itu masih seperti dulu, cantik dan menawan hati. Faisal merasakan kerinduan yang teramat sangat.


Faisal membuka mata dan bayangan dalam pikirannya menghilang. Tangannya mencengkeram erat sprei dengan mata terpejam.


Suara handle pintu yang dibuka membuat mata Faisal terbuka. Wajah Bu Fatima muncul dari balik pintu.


“Faisal,” panggil Bu Fatima memasuki kamar putranya, lalu duduk di samping ranjang.


Faisal tersenyum. Bangkit dan duduk di sisi ibunya. Hatinya begitu sejuk menatap wajah ibunya. Wajah teduh itu membuatnya merasa seperti kembali dari dunia lain. Meski sudah beberapa kali ia dipeluk ibunya, namun kerinduannya pada Ibunya masih bercokol dalam kalbunya. Masih menggantung dan belum lepas. Banyak hal yang mereka perbincangkan, banyak kisah yang Faisal ceritakan, semuanya berakhir dengan tawa diiringi tangis bahagia, dan kemudian berpelukan. Mengharukan.


Faisal tersenyum. “Lalu bagaimana dengan rencana pernikahanku dengan Zalfa? Masih bisa dilanjutkan kan, Bu?”


Muka Bu Fatima sontak menegang.


“Nggak ada yang bisa menjadi calon istriku selain Zalfa. Karena posisi Nyonya Faisal hanya milik Zalfa. Aku yakin, Zalfa adalah orang pertama yang menderita atas kepergianku setelah Ayah dan Ibu. Sampai detik ini, nggak ada perempuan yang bisa menggantikan posisi Zalfa di hatiku.


Bu Fatima tertegun. Mendengar nama Zalfa disebut, ia malah jadi kaku. Sekembalinya Faisal dari perjalanan panjang yang menantang maut, ia dan suaminya sepakat untuk tidak membahas Zalfa terlebih dahulu. Mereka ingin Faisal tenang dulu. Mereka tidak mau Faisal shock atau bahkan bersedih jika mengetahui yang sebenarnya.


“Terakhir kali ngeliat Zalfa di bandara, aku ngeliat jelas kalau cinta Zalfa ke aku masih sama kayak dulu meski pernikahan kami sempat batal, sorot matanya nggak bisa bohong.” Faisal tersenyum, berdiri di hadapan ibunya dengan ekspresi cerah. “Aku akan menemuinya. Doain aku, Bu!” Faisal kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.


TBC