
Usai makan bersama, para kerabat Cyra yang dating dari luar kota berpamitan pulang. Mereka kini berada di ruang tamu dan saling berjabatan tangan.
Keempat pemuda itu saling lirik saat hendak bersalaman dengan Zaki setelah mereka selesai bersalaman dengan Andini dan Farhan.
Zaki menatap tajam pada keempat pemuda, menunggu mereka sampai di depannya untuk mengulurkan tangan. Hingga akhirnya salah seorang pemuda sudah berdiri tegak di hadapan Zaki saat pemuda lainnya mendorong tubuh itu.
Dengan wajah pucat, si pemuda menjulurkan tangan sembari melempar senyum kecut dan wajah setengah menunduk. Zaki tidak langsung menyambut uluran tangan itu, matanya justru menatap horror ke arah pemuda itu hingga mengakibatkan tangan yang terjulur menjadi gemetaran. Entah aji-ajian apa yang Zaki pakai hingga tatapan dan ekspresi wajahnya mampu melumpuhkan lawan.
Merasa iba, akhirnya Zaki menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya sangat erat, membuat si pemuda meringis kesakitan. Pemuda lainnya berbaris di belakang seperti sedang mengantri di loket.
“Lain kali jaga sikap, ya! Jangan suka kepo dengan urusan orang dewasa!” Zaki memperingatkan dengan nada setengah berbisik.
Pemuda itu mengangguk.
Satu per satu para pemuda lainnya bergiliran menyalami tangan Zaki dan mereka mendapatkan perlakuan yang sama dari Zaki.
Cyra yang berdiri di sisi Zaki, hanya tertawa melihat kekonyolan Zaki yang sengaja membuat para keponakannya menjadi ketakutan.
Cyra dan Zaki mengikuti Andini ke teras untuk mengantar keluarga besar yang hendak meninggalkan rumah itu. Semuanya melambaikan tangan saat mobil meninggalkan pekarangan.
Sepeninggalan mereka, pandangan Andini mengarah kepada Cyra. Ia tersenyum. “Gimana sekarang, Cyra? Kamu udah menjadi istri orang sekarang, jadilah istri yang bertanggung jawab. Kamu harus emmahami apa saja kewajiban dan tanggung jawabmu sebagai istri.”
Cyra mengangguk. “Aku akan belajar.”
Cyra mengangguk lagi.
Pandangan Andini kini tertuju ke arah Zaki. “Zaki, mama harap kamu juga menjadi suami yang baik untuk Cyra. Setiap rumah tangga pasti ada masalah, baik besar dan kecil, selesaikanlah dengan bijak dan dewasa.”
“Ya, Ma. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik,” jawab Zaki mantap dan penuh keyakinan.
“Cyra masih muda, maklumilah segala sikap yang mungkin belum dewasa dari dalam dirinya. Bimbinglah dia menjadi istri yang baik.” Andini tersenyum menatap wajah Zaki yang tenang dan percaya diri. “Kamu harus banyak bersabar saat menghadapi gadis ceroboh seperti Cyra. Dia pasti akan banyak membuatmu kesal.”
Cyra mendelik mendengar kalimat itu. Tapi dia bisa apa? Dia hanya diam saja. Memang kenyataannya begitu.
“Kamu yakin akan pindah rumah? Tinggal di rumah barumu berdua bersama Cyra?” tanya Farhan.
“Iya, Pa. Papa ridha, kan? Biarkan kami mandiri,” jawab Zaki. “Kami akan pergi sekarang. Semua keperluan kami sudah disusun rapi di dalam mobil sama Bik Mey dan Bik Pay. Kami hanya tinggal berangkat saja.”
“Papa tidak melarang. Papa merestui pilihanmu. Kalau ada apa-apa, cepat kabari kami sebagai orang tua kalian. Walau bagaimana pun, kami sebagai orang tua masih memiliki tanggung jawab kepada kalian.”
Zaki mengangguk. Kemudian ia mengambil ponsel di saku celananya dan menelepon mamanya. Begitu telepon terhubung, Zaki langsung berkata, “Ma, aku dan Cyra akan berangkat sekarang ke rumah baru. Baiklah.” Zaki menutup telepon.
TBC