
“Ci luk baaa....” Cyra menutup mukanya dengan kain lalu membukanya, begitu seterusnya hingga Sifa, bocah cilik berusia sepuluh bulan itu tertawa terbahak-bahak. Ya, ini adalah hari keenam Cyra mengadopsi anak yatim.
Betapa Cyra gemas sekali melihat kecantikan si kecil, gemuk, pipinya gemil, hidungnya mancung, dan tidak rewel. Bahkan Sifa terlihat bahagia, bocah itu begitu mudah dekat dengan orang lain hingga Cyra dengan mudah mengakrabkan diri ada si kecil. Tidak butuh waktu lama untuk Cyra bisa bercengkrama dengan Sifa. Bocah itu tidak menangis meski digendong oleh Cyra yang merupakan orang asing bagi kehidupan si kecil.
“Halo sayang!” Zaki muncul dengan penampilannya yang selalu rapi dan wangi. Pria itu menenteng perbelanjaan di tangan kiri dan kanan.
“Kamu dari mana? Bisa-bisanya dari kampus langsung belanja sebanyak itu?” Cyra yang sedang bermain dengan Syfa di lantai ruang tamu beralaskan permadani pun menoleh ke arah Zaki.
Zaki mengangkat perbelanjaan di tangannya dan menatapnya dengan alis terangkat. “Ini untuk Syfa. Tadi dari kampus aku langsung mampir ke mol buat beliin ini. lihat, bagus, kan?” Zaki duduk dinatara Cyra dan Syfa lalu mengeluarkan barang-barang yang baru saja ia beli, ada boneka kucing, boneka panda, bando, dan beberapa buah boneka barbie.
“Ya ampun, ini kebanyakan. Jangan boros, ih. Sifa masih terlalu kecil buat mainan yang begituan. Dia belum ngerti. Kamu bisa beliin dia mainan seperti itu pas dia umur dua atau tiga tahun kelak. Sekarang Sifa belum paham, palingan malah diemut-**** doang. Kan nggak sehat.”
“Cyra kamu gimana sih? Papanya sayang anak kok malah diprotes?”
“Bukannya protes, aku hanya mengingatkan kalau itu mubajir. Lihat nih, boneka barbie pake baju tali-talian begini, yang ada malah entar dirusakin sama Sifa karena dia belum paham main yang beginian.” Cyra mengayunkan boneka ke arah samping hendak meletakkan benda itu ke sisinya, namun naas, boneka yangdia ayunkan itu malah menampar wajah Zaki.
“Cyra, mukaku masih dipakai.” Zaki mengucek matanya akibat keculek baju boneka yang sempat menusuk manik matanya.
Zaki selesai mengucek matanya dan melirik Cyra tajam. namun ia tidak protes. Malas diomelin, Zaki pun beranjak meninggalkan ruang tamu dan menuju ruang makan. Ia menatap meja makan kosong, tidak ada lauk tersedia di sana. Sekilas telapak tangannya mengelus perutnya yang six pack. Lapar.
Zaki kembali ke ruang keluarga menemui Cyra.
“O ya sayang, martabak pesenanku mana?” tanya Cyra yang tadi sempat memesan martabak pada Zaki ketika Zaki masih berada di kampus.
“Ya ampun, maaf aku lupa.”
“Nah, tuh kan.” Ekspresi Cyra berubah cemberut. Dengan nada kecewa ia berkata, “Aku kan pesen ke kamu pas deket jam pulang kerja, tapi kok ya bisa lupa juga? Ini nih gara-gara malah beli mainan sebanyak ini yang sebenernya belum bermanfaat buat Sifa, akhirnya amanah pun dilupain.”
Zaki mengernyit menatap kekesalan Cyra. “Ya ampun Cyra, kamu nggak ngerti banget kalau uamimu ini lupa. Aku ini manusia, bukan malaikat. Dan manusia itu bisa lupa, nggak selamanya manusia bisa inget dengan pesanan. Seharusnya kamu bisa memaklumiku. Jangan membesar-besarkan masalah.”
TBC