
Arkhan melirik wajah gondok di sisinya. Senyum samar tercipta di wajahnya. Lalu ia membuang batang rokoknya ke luar.
Mobil melaju membelah kesunyian malam. Beberapa menit lamanya keduanya hanya diam sampai akhirnya Arkhan kembali menutup jendela mobil.
“Kemana aku harus mengantarmu? Ke kafe atau ke rumahmu?” tanya Arkhan.
“Kafe,” singkat Zalfa dengan raut gelisah.
“Apa yang membuatmu gelisah begitu?”
“Ponsel dan tasku tertinggal di mobilmu. Mas Ismail pasti terus menghubungi dan mencemaskanku karena sampai sekarang aku belum pulang dan aku juga nggak menjawab teleponnya.”
“Pakailah ponselku ini untuk mengabarinya, katakan kalau kamu baik-baik saja.” Arkhan menyodorkan ponsel miliknya.
Zalfa menatap ponsel yang terjulur ke arahnya. Lalu menggeleng.
Melihat penolakan Zalfa, Arkhan kembali mengantongi ponsel ke saku kemejanya. “Reza akan mengurus tasmu.”
Zalfa hanya diam.
Mobil melaju menuju kafe mini milik Zalfa.
“Lebih baik kamu langsung ke dokter, lukamu perlu dijahit,” ucap Zalfa saat mobil sudah berhenti di depan kafe yang sudah sepi. Kafe milik Zalfa tidak buka sampai larut, sehingga jam segini pengunjung sudah sepi dan pelayan pun sudah menutup pintu kafe, menyisakan satu pintu saja yang terbuka.
Arkhan hanya diam saja menatap Zalfa. Segera Zalfa turun dari mobil dan berjalan memasuki kafe. Dua pelayan terlihat berkemas hendak pulang setelah menukar seragam mereka.
“Kalian mau pulang?” tanya Zalfa.
“Iya, Kak,” jawab salah seorang pegawai seraya mengangguk hormat pada Zalfa.
Zalfa tersenyum dan memasuki ruang kerjanya. Ia duduk di kursi dan membuka laptop, melihat-lihat catatan dana keluar dan keuntungan yang masuk.
Tok tok…
“Masuk!” perintah Zalfa tanpa melihat ke pintu.
“Kak, tadi aku menemukan dompet ini di meja pengunjung yang laptopnya ketumpahan jus.”
Zalfa mengangkat wajah dan mendapati pelayannya meletakkan sebuah dompet cokelat ke meja. Zalfa mengangguk.
“Aku juga menemukan kunci motor milik kakak tertinggal di meja. Ini, Kak.” Pegawai tersebut meletakkan kunci motor milik Zalfa.
“Ooh… Pantesan aku kecarian kuncinya. Ternyata ketinggalan. Makasih ya, Toni!”
“Sama-sama, Kak. Aku permisi pulang.”
“Oke.”
Toni berlalu keluar ruangan.
Pandangan Zalfa kini tertuju pada dompet cokelat. Kemudian ia meraih dompet tersebut dan melihat isinya untuk mengetahui siapa pemilik dompet, apakah benar milik Arkhan, atau pengunjung lainnya yang duduk di meja yang sama? Cukup satu kartu yang ia ambil dari sekian banyak kartu yang berderet rapi mengisi selipan lipatan dompet. Tak lain KTP, di sana tertera nama Jonathan Yoseph beserta alamat lengkapnya.
Apa yang harus Zalfa lakukan dengan dompet itu? Apakah ia akan membiarkan dompet itu berada di kafe dan menunggu pemiliknya menjemput kembali ke sana? Tapi bagaimana jika pemiliknya tidak ingat dompetnya tertinggal di sana? Pasti orang itu akan merasa kehilangan. Atau lebih baik Zalfa mengantar ke alamat yang tertera?
***
TBC
Masih rajin nge-Vote nggak nih?
Masih dong. He he he he heeee
Ssst… ada alam dari Emma Shu buat kalian yang pada rajin nge-vote.
Yuuk… sumbangin vote, aku selalu ngintipin siapa yang berada di rank pertama. Tapi jumlahnya belum mencapai standar pemenang. So, gas poll… buruannn! He he he he he
lope lope lope lope lope lope lope lope lope