
Zaki keluar dari warung penjual mpek-mpek sembari menenteng kantong plastik yang tentunya berisi mpek-mpek lezat, nggak mungkin kan isinya bakwan. Zaki merogoh ponsel dari saku celana saat mendengar deringnya yang nyaring.
Zaki berjalan sembari melihat nama penelepon, Sayangku, tak lain Cyra. Meski sedang dongkol karena disuruh-suruh membeli makanan, namun Zaki tetap saja tersenyum menatap nama yang tertera. Ia menggeser tobol hijau dan menempelkan ponsel ke pipi.
“Halo!” Zaki kepayahan menggapit ponsel di pipi dan pundak akibat kedua tangannya yang tengah membawa barang-barang. Satu tangan membawa sekantong mpek—mpek, dan satunya lagi merogoh kunci mobil dari kantong celana. Ia berjalan sambil menlepon. Pandangannya tertuju ke arah tangan kanan yang masuk ke kantong mencari kunci mobil. Rogohannya sudah dalam sekali tapi si kunci malah nyungsep. Eh, ngajakin petak umpet dia.
Bruk!
Ponsel terjatuh saat Zaki bertabrakan dengan dua orang yang berlawanan arah dnegannya.
Zaki menatap ponselnya yang tergeletak menyedihkan di lantai, kemudian sorot matanya beralih tertuju ke wajah dua gadis di hadapannya yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya.
“Silahkan kaca matanya dipakai jika penglihatan udah kabur!” celetuk Zaki ketus dengan sorot mata tajam.
Dua gadis itu saling pandang.
“Diih.. nyolot. Ganteng-gentang galak. Situ yang jalan nggak pake mata kok nyalahin orang. Aneh,” salah seorang gadis menyeletuk.
Zaki membungkukkan badan mengambil ponselnya.
“Makanya lain kali jangan telponan kalau jalan, Mas,” sahut gadis satunya.
“Udah! Nggak usah dibahas!” Zaki malas berdebat karena sadar dialah yang salah. Ia melenggang menuju mobilnya.
“Eh, loh itu kan Pak Zaki. Dosen di kampus kita,” celetuk gadis itu yang langsung diiyakan temannya.
Halah, ternyata Zaki tadi dipanggil mas oleh mahasiswi di kampusnya. Zaki tidak mau menggubris. Ia langsung masuk mobil dan menyetirnya keluar area warung. Sembari menyetir, ia mengecek ponselnya. Sambungan teleponnya dengan Cyra sudah terputus. Dan ia kembali menelepon Cyra.
“Ra, Halo! Sori tadi keputus. Ponselku jatuh tadi. Ada apa kamu nelepon?”tanya Zaki.
“Sekalian beliin sosis goreng di tempat biasa kita sering makan ya, temen-temenku mau datang ke rumah nanti. mereka baru aja nelepon. Kasian kan jauh-jauh mereka nggak dikasih makanan spesial. Ini sama kayak reunian gitu loh.”
“Tapi aku lagi kepengen makan sosis yang itu.”
“Berarti sosisnya bukan untuk temen-temenmu, tapi untukmu.”
“Ya maksudnya sekalian buat mereka juga gitu. Beliin ya.”
“Sekali-kali jangan ngerepotin suami, Ra. Aku mesti puter balik lagi dong ini. jauh.”
“Ya ampun, apa salahnya sih nyenengin istri. Nggak setiap hari juga. Ini juga karena temen-temenku mau dateng aja, kok.”
“Kalau aku nggak mau beliin gimana?”
“Tega banget sih? Awas aja, kamu nggak bakalan dapet ciuman dari bibirku sampe sebulan.”
Zaki membelalak kaget. Ancaman model apa itu? mana tahan Zaki tidak mencicipi strawbery yang satu itu.
“Iya iya. Ya udah, aku beliin. Sama apa lagi? jangan nyicil itu permintaannya. Aku males kalau bolak-balik.”
“Mmm... apa lagi ya?” Cyra mikir.
“Kelamaan, Ra. Ya udah itu aja. Nggak usah nambah.”
“Ya, deh. Selamat jalan-jalan, sayang. Hati-hati ya.” Cyra ngeledek kemudian memutus sambungan telepon.
Zaki hanya geleng-geleng kepala.
TBC