
Cyra terbelalak melihat Zaki melakukan hal itu. Namun ia tetap melanjutkan kunyahannya, wajahnya maju seiring dengan mie yang semakin memendek, Zaki tak mau kalah. Pria itu juga memajukan wajahnya mengejar mie hingga mie diantara kedua mulut mereka tinggal sesenti saja.
Kini, Zaki tidak lagi menyantap mie setelah kunyahannya habis, melainkan bibir Cyra. Zaki bangkit berdiri dan membiarkan Cyra duduk di kursinya.
Cyra tidak bisa berkutik, ia membalas perlakuan Zaki. Kalau melawan dosa.
“Nggak di sini,” bisik Cyra saat perlakuan Zaki mulai ganas.
“Biar aja, sayang. Aku nggak punya waktu untuk pindah.” Zaki melanjutkan aksinya.
Dering ponsel milik Cyra di meja membuat pandangan Cyra dan Zaki tertuju ke arah benda itu. Rere memanggil. Gadis yang katanya pulang kampung itu kembali ke Jakarta lagi hanya demi reunian bersama teman-teman kampus pilihan.
Cyra menyambar ponsel, namun Zaki yang berada di jarak lebih dekat dengan ponsel tersebut, menggeser dan menjauhkan ponsel dari jangkauan tangan Cyra.
Tak lama ponsel kembali bordering. Kali ini dari nama yang berbeda, masih dari teman-temannya Cyra.
Zaki menggeleng sebagai isyarat agar Cyra tidak menjawab telepon disaat mereka sedang bercinta. Mengganggu aktifitas.
Tak lama masuk pesan ke ponsel Cyra.
Rere
Ra, kami udah di depan rumah lo
Lo dimana?
Zaki mengetuk pesan hingga terbuka dan membalasnya dengan singkat
Cyra
Bentar
Rere
Lo lagi ngapain? Angkat telepon gk bisa, bales chat bisa
Cyra
Lagi nanggung
Rere
Ebuset dah ah, lagi masak ato ngapain?
Sambut kita-kita dulu, dong
Zaki memegang pipi Cyra saat wajah Cyra menoleh ke arah ponsel dan memaksa wajah itu supaya tetap menghadap kepada Zaki.
“Kita mandi!” bisik Zaki.
Nah tuh kan, Cyra mesti harus mandi dulu gara-gara ulah Zaki. Padahal teman-temannya sudah menunggu di depan rumah. Cyra terpaksa mengikuti Zaki ke kamar mandi lantai bawah. Mereka mandi bareng.
Rere dan lainnya bertukar pandang dengan wajah cerah. Rasa rindu yang sempat melilit pun pecah sudah. Sorot mata yang beradu menunjukkan betapa mereka selama ini merindukan satu sama lain.
Rere sontak menghambur dan memeluk Cyra. Yang lain ikutan memeluk Cyra.
“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu lagi,” ucap Rere dengan mata berkaca.
“Padahal gue selama ini tinggal di Medan. Kok, ya bisa ke sini demi nemuin kalian,” sahut yang lain.
“Gue yang ada di Bogor juga sempetin ke sini demi bisa ketemuan sama kalian.”
“Makasih ya kalian udah mau sempetin waktu ke rumah gue demi pertemuan ini,” ujar Cyra sembari mengelus punggung-punggung teman-temannya yang memeluknya.
Pelukan kelima teman Cyra terlepas ketika erdengar suara isakan tangis.
“Rere, kenapa nangis?” tanya Cyra menatap Rere yang sesenggukan.
“Gue terhura, Ra.”
“Terharu.”
“Eh iya itu maksud gue. Gue baper banget bisa ketemu kalian semua.”
Cyra tersenyum. “Ya udah, ayok masuk!”
Kelima teman Cyra memasuki rumah. Masing-masing menenteng plastik besar yang berisi makanan. Sepertinya mereka sedang merindukan pertemuan terakhir yang sempat menciptakan kenangan, sehingga mereka ingin membuat acara yang sama seperti dulu. Tak lain sekedar makan dan ngumpul rame-rame. Sederhana memang, tapi mengesankan.
Cyra mengajak teman-temannya berkumpul di ruang tamu. Kemudian pandangan mereka tertuju ke pintu saat Zaki melintasi pintu tersebut.
“Itu Pak Zaki ajak ke sini dong. Gue kangen, pengen ngeliat wajahnya yang sekarang kayak gimana,” ucap Rere. “Nggak apa-apa kan gue kangen dikit?”
Cyra nyengir kemudian memanggil Zaki, “Mas Zaki!” Cyra merasa canggung jika memanggil Zkai dengan panggilan ‘sayang’, terpaksa ia mengubah panggilannya menjadi Mas Zaki.
Zaki yang melintas pun menghentikan langkah dan menoleh.
“Kemarilah!” Cyra melambaikan tangan.
Sekilas Zaki menatap wajah-wajah yang ada di sekitar Cyra, tak lain wajah-wajah mantan mahasiswinya dulu. Ia kemudian melangkah mendekati Cyra.
TBC
Psst.. sambil nungguin update, silahkan kunjungi cerita terbaruku yang berjudul SUAMI SENSASIONAL.
Ini nih penampakan covernya.
Buruan cek mumpung masih angeeet.. 😘😘😘