PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
40. Jalan Berdua


Zaki melangkah menaiki teras dan mengetuk pintu. Ia tersenyum menatap Bik Mey yang membukakan pintu.


“Eh Mas Zaki, Silahkan masuk, Mas.”


Zaki mengikuti bik Mey memasuki rumah.


“Ada apa, Mas?” Bik Mey membungkukkan badan ramah.


“Aku mau ketemu Cyra.”


“Biar saya panggilin.”


“Nggak usah Bik, biar saya telepon aja.”


“Oh ya sudah, saya bikini kopi dulu ya MAs.”


“Nggak usah, Bik. Aku sebentar aja, kok.”


Bik Mey mengangguk dan melenggang pergi.


Zaki mencari nama ‘sayangku’ di ponselnya dan menelepon nama tersebut. Baru dua kali bunyi tut, Cyra langsung menjawab telepon. Gercep banget. Zaki **** senyum.


“Ra, ke bawah bentar!” ucap Zaki tanpa berbasa-basi.


“Ngapain?”


“Aku ada di rumahmu.”


“Serius?”


Zaki sengaja memutus pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan Cyra. Tentu saja Cyra guling-guling di kasur geram akibat perbuatan Zaki yang main matiin telepon semaunya saja.


Zaki menoleh saat mendengar langkah kecil menuruni anak tangga.


“Kalo turun tangga liat k depan, jangan ngeliatin aku! Awas entar ngegelinding lagi!” celetuk Zaki membuat Cyra mengembalikan pandangan ke anak tangga.


Cyra menatap Zaki dengan intens saat sudah berada di hadapan pria itu. Keduanya saling pandang dan tak ada yang memulai pembicaraan.


“Zaki, siapa yang bakalan ngasih aku tugas seabrek lagi kalau kamu nggak ada di kampus?” lirih Cyra setelah lama terdiam.


“Kok, masih itu lagi yang dibahas? Aku datang ke sini bukan untuk hal itu, aku mau nemuin kamu.” Zaki tersenyum lebar seolah tidak ada yang terjadi padanya, seolah ia baik-baik saja. Untuk apa ia membagi beban pada gadis yang ia cintai? Lelaki baik hanya akan memikul bebannya seorang diri, tanpa harus melibatkan gadis yang dicintai. Cukup dia sendiri yang merasakan, jangan malah Cyra yang jadi sedih.


“Tapi aku nggak bisa…”


“Ra!” panggil Zaki memotong kata-kata Cyra. “Kamu inget nggak aku pernah bilang kalau aku akan ngeluangin waktu untuk kita bisa jalan-jalan bersama?”


Cyra mengangguk. Mukanya yang galau masih terekspos jelas.


“Kita jalan-jalan?”


“Iya. Bokap nyokapmu mana?”


“Emangnya kenapa? Mau ngajakin mereka juga?”


“Ya enggaklah. Mau minta ijin bawa kamu keluar sebentar.”


“Ooh.. Kirain. Mereka pergi. Biasalah orang sibuk memang kayak gitu. Jarang ada di rumah.”


“Nggak pa-pa nih aku bawa kamu jalan tanpa ijin mereka?”


“Mama mungkin malah seneng banget. Kan mamamu itu sahabat mamaku.”


“Ge Er. Jadi kita berangkat sekarang?”


“Mmm….”


Zaki menarik pergelangan tangan Cyra, tak sabar melihat Cyra yang kebanyakan mikir.


Zaki menyerahkan helm kepada Cyra saat ia sudah duduk di atas motornya. Cyra menyambut helm dan mengenakannya.


“Ayo naik!” ajak Zaki yang melihat Cyra malah bengong.


“Tumben pake motor, mobilmu kemana? Udah lunas kredit kan?”


“Itu mobil beli cash, nggak pake kredit. Dikira gue langsung bangkrut setelah didepak dari kampus apa?”


Cyra nyengir, lalu membonceng.


Zaki menarik tangan Cyra dan melingkarkannya ke perutnya. Sudut bibirnya tertarik sedikit. Cyra pun menempelkan kepalanya di punggung Zaki saat motor sudah berada di jalan raya.


Cyra memejamkan mata merasakan tamparan angin yang mengenai rambut dan wajahnya. Tamparan lembut itu terasa sangat menenangkan. Apakah mungkin karena kini ia berada di posisi sedekat itu dengan Zaki sehingga keadaan terasa sangat damai?


Benar kata orang, dunia akan terasa sangat indah saat berada di sisi orang yang kita cintai. Nyaman. Damai. Andai saja Cyra bia sedekat itu dengan Zaki hingga maut memisahkan. Ah, kok Cyra jadi lebay?


Rintik gerimis mengenai lengan Cyra. Cyra masih memejamkan mata menikmati tamparan halus angin yang mengenai sekujur tubuhnya.


Sepanjang perjalanan, Cyra terus memejamkan mata, berharap keadaan tidak akan berubah sampai ia membuka mata.


TBC


Jangan lupa klik like 👍