
Dengan cekatan, tangan kokoh Arkhan menjulur dan menarik mlengan Zalfa hingga tubuh gadis itu tidak sempat menghantam tanah. Kini justru dalam posisi miring dan tangan kokoh Arkhan menahan tubuh miring itu, detik berikutnya Arkhan menyentaknya dengan sekali tarik hingga akhirnya tubuh mungil Zalfa maju dan berada dalam pelukan Arkhan.
“Lepasin!” pinta Zalfa geram.
Arkhan sontak melepas pegangannya. “Bukannya berterima kasih, kau malah menghardikku. Kau hampir saja tertungging di lantai, paham?”
Zalfa menatap muka sadis Arkhan. Pria itu benar-benar membuatnya merasa gerah.
“Baru saja seekor kucing yang muncul mengganggumu, kau sudah ketakutan. Bagaimana jika para penjahat itu? Apa kau tidak akan menangis kejer?” Arkhan menatap seekor kucing yang baru saja melompat dari balik bunga yang rimbun. Binatang itu kemudian menjerit meong-meong dan menjauh pergi.
Zalfa hanya bisa terdiam. Apa yang harus ia akatakan? Arkhan telah membuatnya mati kutu. Ya benar, Zalfa sekarang sedang ketakutan. Jantungnya yang masih berdegup kencang menjadi saksi akan rasa takut yang ia rasakan.
“Ayo, kuantar pulang!” Arkhan menarik pergelangan tangan Zalfa dan menggeretnya menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
“Aku bisa sendiri.” Tangan Zalfa berusaha memberontak dari pegangan Arkhan.
Arkhan tidak perduli dengan pemberontakan tangan dalam genggamannya, ia menggeret Zalfa lalu membukakan pintu mobil dan mendorong punggung gadis itu agar memasuki mobil. Setelahnya, ia memutari mobil dan duduk di bagian kemudi.
“Diam dan jangan memberontak,” ucap Arkhan sambil menjalankan mobil menuju ke jalan raya yang sepi.
Zalfa malas berdebat hingga ia memilih diam.
“Aku tahu aku bukan mahrommu dan kamu nggak suka kusentuh. Tapi ini nggak akan berlangsung lama, kita akan menikah,” ucap Arkhan dengan sorot mata lurus ke depan.
Zalfa menghela nafas. Bahkan ia masih belum bisa percaya kalau ia akan menikah dengan pria asing yang kepribadiannya sangat sulit dimengerti itu.
“Kamu nggak perlu takut padaku.” Arkhan melirik wajah Zalfa yang terlihat gusar. Entah itu karena sedang merasa takut, merasa gelisah, atau mencemaskan sesuatu. Arkhan tidak tahu, yang ia tahu sekarang wajah gadis di sisinya itu tampak gelisah.
“Tenang saja, aku nggak akan mempe*kosamu,” ceplos Arkhan membuat Zalfa membelalak kaget. “Kalau aku mau, aku nggak perlu memaksamu. Kita sudah pernah melakukannya.”
“Jangan ungkit itu lagi,” geram Zalfa dengan muka memerah. Sudah sangat sulit Zalfa melupakan kejadian itu, dan Arkhan dengan entengnya mengungkitnya. Mungkin saja pria itu sengaja mengungkit kejadian itu supaya Zalfa terus mengenangnya.
“Nggak perlu dipungkiri, hal itu memang sudah terjadi.”
“Tapi nggak perlu diungkapkan terus,” ketus Zalfa.
“Apa kamu ingin melupakannya?”
“Cukup! Jangan bahas lagi!”
Arkhan tersenyum samar. Ia membuka kaca jendela sampingnya dan juga samping Zalfa, kemudian tangan kanannya mengambil rokok dari dashboard dan menyulutnya dengan korek api.
“Aku nggak terbiasa menghirup asap rokok,” celetuk Zalfa sembari memalingkan wajah ke luar jendela untuk mencari udara segar.
Arkhan menyemburkan asap rokok dari mulutnya ke luar jendela mobil. “Aku butuh tiga sesap lagi.” Ia kembali menyesap batang rokoknya.
Zalfa melirik Arkhan yang terlihat asik dengan sulutan rokoknya. Meski jendela sudah dibuka, namun sedikit banyaknya asap rokok tetap terhirup ke rongga pernafasannya.
“Turunkan aku!” titah Zalfa dengan raut kesal.
TBC