PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 99


Tatapan Zalfa silih berganti menatap Faisal dan Arkhan. Faisal masih berdiri di posisi semula, dekat mobil. Sementara Arkhan pun menghentikan langkahnya ketika menyadari ada lelaki selain dirinya yang ingin menemui Zalfa, ia terpaku di tengah-tengah halaman rumah dan menatap Faisal yang kini juga tengah menatapnya. Keduanya bersitatap dengan pandangan penuh tanya.


“Jadi kapan kita mulai belajar?” tanya Elia membuat Zalfa kehilangan dua wajah yang seharusnya masih ia tatap karena kini ia harus menatap Elia.


“Mm… Besok. Eh, lusa,” jawab Zalfa.


Sementara Faisal dan Arkhan masih bertukar pandang. Faisal melangkah maju, bukan mendekati Zalfa, melainkan mendekati Arkhan. Arkhan diam menunggu Faisal mendekat. Kini mereka berdiri berhadapan. Hanya tiga jengkal saja jarak yang tersisa hingga Arkhan dapat merasakan hembusan kasar nafas Faisal, menunjukkan Faisal sedang gelisah bercampur risau. Sebaliknya, Arkhan tampak tenang.


“Kau Arkhan?” tanya Faisal meski seharusnya ia tidak perlu bertanya siapa pria itu, karena ia sudah tahu bahwa lelaki di hadapannya itu adalah Arkhan.


“Ya. Apa kau ada perlu dengan istriku?” tanya Arkhan.


“Sedikit.” Ekspresi Faisal semakin galau menatap sosok Arkhan. Pantas saja Zalfa sanggup berpindah ke lain hati, karena ternyata lelaki yang menggeser posisinya itu benar-benar perfect. Sebagai lelaki, Faisal mengakui kesempurnaan Arkhan, mulai dari fisik, materi, penampilan, tidak ada yang cacat. Lawannya itu benar-benar menarik perhatian. Muncul perasaan minder meski ia berusaha mengalahkan rasa itu dengan menimbulkan rasa percaya diri sekuat tenaga. Dilihat dari sudut manapun, Arkhan kelihatan sempurna. Bahkan dari sedotan pun akan tetap terlihat menarik. Astaga, tanpa sadar Faisal memuji ketampanan Arkhan. Ia mulai pesimis. Mampukah ia bersaing dengan lelaki sesempurna Arkhan yang jelas-jelas sekarang telah memenangkan Zalfa?


Perbincangan dua pria itu terdengar sampai ke telinga Zalfa dan wanita itu menyimaknya dengan seksama.


“Apa kau mengijinkanku bicara sebentar dengan istrimu?” tanya Faisal dengan suara bergetar.


“Ya, bicaralah! Sebentar saja bukan?” jawab Arkhan ringan seakan tanpa beban.


“Kau tahu siapa aku bukan?”


“Kau mantannya, dan aku sudah pernah mengatakannya.”


“Kau tidak keberatan?” Faisal ingin tahu seberapa besar kecemburuan Arkhan.


Entah kenapa perasaan Zalfa berkecamuk mendengar pengakuan Arkhan yang begitu ringannya mempersilahkan Faisal menemui dirinya. Ya, Zalfa merasa terpukul melihat sikap Arkhan yang tenang dan dingin. Seharusnya Arkhan cemburu bukan? Tapi bukan itu yang Arkhan tunjukkan. Kenapa Zalfa merasa sangat kecewa melihat sikap Arkhan? Sikap Arkhan yang cuek dan menunjukkan tanpa kecemburuan, membuat Zalfa menjadi resah dan galau. Apakah itu artinya Zalfa berharap Arkhan mencemburuinya?


Faisal melangkah mendekati Zalfa. Saat pria itu sudah berdiri di hadapan Zalfa, pandangan Zalfa beralih menatap Elia. “Aku pasti akan menemuimu saat aku udah punya waktu untuk mengajarimu melukis. Sekarang bukan waktu yang tepat.”


“Baiklah,” jawab Elia sedikit sewot karena kecewa. “Aku pulang.” Dia melenggang pergi menuju mobil Arkhan.


Zalfa menatap Elia yang memasuki mobil bersama Arkhan, kemudian mobil melaju meninggalkan rumah. Hati Zalfa berdenyut melihat kepergian Arkhan yang begitu saja. Bahkan pria itu malah pergi disaat ia sedang ditemui sang mantan.


Pandangan Zalfa kini beradu dengan Faisal.


“Zalfa!”


“Ya?” Zalfa sedikit mengangkat wajahnya untuk dapat menjangkau wajah Faisal.


“Aku ingin menanyakan banyak hal padamu.”


“Tanyakan aja.” Suara Zalfa terdengar bergetar. Pikirannya kini hanya tertuju pada Arkhan. Zalfa sungguh bingung pada dirinya snediri. Disaat ia sedang bersama Arkhan, pikirannya terus tertuju pada Faisal. Dan disaat Faisal berada di dekatnya, isi kepalanya hanyalah Arkhan. Oke, Zalfa ingin mengikuti suara hatinya. Siapakah sebenarnya yang sungguh-sungguh merajai hatinya kini.


“Zalfa, aku terdampar di sebuah pulau kecil dan daerah terpencil yang nggak tersentuh listrik. Disana sangat gelap jika malam tiba, jauh dari kota, pelosok dan seperti terisolasi. Kakiku patah dan nggak bisa bergerak. Selama dalam proses penyembuhan, aku teringat kamu, teringat pernikahan kita. Aku terdampar. Aku terpuruk di daerah pelosok. Aku kehilangan ponsel. Aku nggak bisa ngubungin siapa pun. Aku bener-bener sendirian. Bagaimana bisa kamu menikah dengan pria itu? Apakah secepat itu namaku hilang dari hatimu?” Faisal berbicara dengan tatapan sendu.


TBC


KLIK VOTE YAAA