
“Penyesalan memang datengnya selalu terakhir dan rasanya nggak ada gunanya lagi,” lanjut Alfa masih terbata. “Semua terjadi karena rasa cinta gue yang begitu dalem ke lo. Gue bahkan meyakini kalau kita bakalan bisa bersatu. Keyakinan gue semakin bulat saat kedua orang tua kita udah merundingkan perjodohan kita, tapi semuanya batal. Seketika itu, gue merasa hidup gue nggak berguna lagi. Dunia ini rasanya nggak adil buat gue. Sadis dan menyakitkan. Harapan gue ke lo sangat tinggi, Ra. Gue bener-bener sayang sama lo. Tapi semuanya terlambat. Sekarang gue hanya perlu ngerelain lo sama cowok lain, walaupun itu sangat menyakitkan. Gue rapuh, Ra.”
Cyra menyentuh punggung tangan Alfa. Pernyataan Alfa benar-benar meluluhkan hatinya. Sesaat Alfa tersentak merasakan sentuhan tangan Cyra. Ia mengangkat wajahnya dan baru kali ini menatap mata Cyra.
“Makasih lo udah mau jengukin gue di sini,” ucap Alfa.
Cyra mengangguk. “Ini adalah ujian buat lo, Fa. Jangan bilang penyesalan lo ini nggak ada gunanya. Dengan penyesalan ini, hati lo akan terbentuk lebih baik lagi dari sebelumnya. Lo itu orang baik. Percayalah sama gue.” Cyra mengusap punggung tangan Alfa.
Alfa balas memegang jemari lentik Cyra. “Ijinkan gue bilang secara langsung ke lo meski ini nggak pantes gue ucapin.” Alfa menatap lekat mata Cyra. “Gue mencintai lo, Ra.” Alfa mengangkat tangan Cyra, lalu mengecup punggung tangan gadis itu cukup lama.
Cyra ingin menarik tangannya, namun entah kenapa hatinya tak tega hingga akhirnya dibiarkannya Alfa mendaratkan bibir di punggung tangannya sangat lama.
Cyra dan Alfa tidak tahu jika ada sepasang mata yang mengawasi. Beberapa menit yang lalu Zaki berdiri di dekat pintu. Ia hendak masuk namun langkahnya terhenti melihat pemandangan di depan mata. Terpaksa ia hanya berdiri di sana. Entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah, rasa ngilu di dada yang membuat organ tubuhnya mendadak kaku dan sulit digerakkan. Seakan-akan otaknya memberi perintah supaya ia tidak memasuki ruangan. Dan anehnya, ia menuruti perintah otaknya tersebut.
Cyra menarik tangannya saat Alfa memperlonggar pegangan tangannya.
“Fa, gue percaya lo bisa ngejalani ini semua. Jangan menyerah. Masih ada banyak harapan yang mesti lo lihat ke depan. Orang tua lo, juga adik-adik lo.”
“Thanks, Ra. Kedatengan lo bener-bener bisa bikin gue lebih semangat ngejalanin hari di tempat ini.”
“Jangan lo hidup untuk orang lain, tapi hiduplah untuk diri lo sendiri. Karena saat orang lain yang lo harapkan nggak lagi bersama lo, harapan lo bisa pupus. Tapi kalau lo hidup untuk diri lo sendiri, maka semangat itu kan tetap ada semasa nyawa masih ada di badan.”
Alfa menarik sedikit sudut bibirnya. “Sekali lagi, makasih. “Gue bener-bener merasa termotivasi atas kedatengan lo ini.”
Cyra mengangguk. “Gue harus pergi. Pak Zaki pasti udah lama nunggu di luar.”
Alfa mengangguk. Ia bersyukur karena dosennya itu hanya bertugas mengantar Cyra saja tanpa harus masuk menemuinya. Ia merasa malu jika harus beertatap muka dengan Zaki. Perbuatannya yang pernah menganiaya dengan tidak wajar, membuatnya merasa harus menanggung beban.
Cyra bangkit berdiri dan melenggang meninggalkan ruangan itu.
***
TBC