PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
123. Keresahan


Zaki berjalan keluar minimarket setelah membeli beberapa bungkus makanan yang disinyalir sebagai makanan kesukaan Cyra. Ia menenteng kantong besar yang semuanya adalah makanan kemasan. Ia berniat akan memberikannya kepada Cyra nanti.


Baru saja Zaki meletakkan kantong berisi belanjaannya itu ke jok samping, sebuah chat masuk ke ponselnya. Seulas senyum terbit di wajahnya membaca pesan tersebut.


Cyra


Temui aku dong di Jl. Mangga,


Dekat gedung bimbel


Zaki mengernyit, ngapain Cyra di sana? Apa dia mau ikutan bimbel? Tapi bukankah gedung itu sudah tidak dipakai lagi karena kasus sengketa? Ngajak mojok kali ya? Zaki melirik arloji di tangannya, jam segini Cyra pasti sudah selesai ujian.


Zaki


Ngapain kamu di situ?


Cyra


Mau nemuin gak nih?


Penasaran, Zaki mencari nama Sayangku di ponselnya, tentu saja itu simbol untuk menamai Cyra. Nama yang pernah membuat Zaki merasa terhakimi akibat diketawain Cyra. Zaki memencet nama itu, panggilan terhubung. Namun Cyra tidak menjawab sampai nada panggilan terputus.


Nih cewek maunya apa? Minta ditemuin tapi ditelepon nggak dijawab.


Zaki kembali mengirim pesan untuk Cyra.


Zaki


Aku udah bilang sama kamu,


Kita mesti jaga jarak sampai kamu selesai ujian


Supaya kamu konsentrasi belajar.


Cyra


Aku keserempet mobil pas nyeberang jalan


Mau nemuin gak nih?


Zaki


Oke.


Tunggu aku


Zaki ingin menanyakan kondisi terkini yang dialami Cyra, tapi ia kembali melempar ponselnya ke jok samping karena takut Cyra kesulitan membalas pesannya.


Sepanjang perjalanan, Zaki merasakan kecemasan yang luar biasa. Huh, buset, segitu besar efek dari kabar buruk yang Cyra sampaikan. Apakah benar cinta sejati Zaki adalah Cyra? Gadis nyeleneh yang jahil dan ceroboh itu? Perasaan Zaki kian tidak nyaman saat jalanan mulai padat oleh kendaraan, berkali-kali Zaki menekan klakson dengan frustasi. Akhirnya ia membelokkan mobil ke jalan lain. Meski jalan yang dilaluinya akan emmakan waktu yang cukup lama karena harus berputar arah untuk sampai ke tempat tujuan, namun ia memilih jalan tersebut karena takut kedatangannya akan terlambat.


Cyra, tunggu aku. Gimana kondisimu sekarang? Apakah parah? Apa kamu nyetir mobil? Lalu di mana mobilmu sekarang? Atau kamu nggak bawa mobil? Zaki mengusap wajah resah memikirkan berbagai pertanyaan yang menyerang benaknya.


Zaki sudah memasuki jalan Mangga, manik matanya liar mencari-cari keberadaan Cyra di dekat gedung yang Cyra sebutkan. Mobilnya memelan, kemudian berhenti dan ia turun sambil menempelkan ponsel ke pipi mencoba menghubungi Cyra.


‘Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkayuan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi’.


Operator menjawab telepon Zaki, membuat Zaki mengesah kian frustasi.


“Ya Tuhan, dimana kamu, Cyra? Kenapa ponselmu nggak aktif?” Zaki berlari mengitari tempat itu. Tidak ada tanda-tanda kerumunan orang-orang di sekitar sana yang mungkin saja menyaksikan Cyra terserempet mobil. Pandangan Zaki menyapu area sekitar, sepi.


Mungkinkah Cyra terserempet di lokasi sesepi itu.


Klontang!


Zaki menoleh ke sumber suara. Tepatnya dari arah belakang gedung, seperti ada seseorang di balik gedung tersebut.


“Cyra!” Zaki berlari mendekati sumber suara. “Cyra, aku datang!” teriak Zaki sambil berbelok dan melihat seseorang berdiri di sana.


***


Di sisi lain, Cyra tengah menyetir mobil. Rere yang duduk di sisi Cyra tampak sibuk memainkan ponsel. Biasalah, Rere menitipkan motornya di rumah Cyra setelah numpang sarapan pagi tadi. Setelah itu ia menumpang mobil Cyra untuk sampai ke kampus.


“Ah, ya ampun, kok ponsel gue nggak ada, ya? Kayaknya ketinggalan di kampus, deh.” Tangan kanan Cyra mengaduk-aduk isi tas yang menyelempang dan bahunya. Sementara tangan kiri menggerak-gerakkan bundaran setiran.


“Ya udah, ambil aja sana! Mumpung belum jauh. Kita balik lagi ke kampus, entar hp lo keburu hilang.”


“Iya, gue puter balik, deh.” Cyra mencari tikungan dan balik arah menuju kembali ke kampus.


“Nah, seusai ujian, kita kan tadi makan di kantin yah, sejak tadi itu gue nggak denger ponsel lo bunyi deh. Biasanya kan ponsel lo paling rame.”


“Haduh, kayaknya hp gue ketinggalan di ruang ujian. Dan gue nggak bawa hp sejak kita makan di kantin.”


“Ya udahlah, kita cek dulu.”


Mobil kembali memasuki area pekarangan samping gedung kampus.


TBC