PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 69


Ismail dan Atifa saling pandang saat melihat sikap Zalfa yang tiba-tiba gusar setelah menerima telepon.


Dengan tangan gemetar, Zalfa menelepon balik nomer Pak Ibrahim. Ia ingin memastikan kebenaran ucapan pria tengah baya itu. Sungguh, ia ingin mendengar sekali lagi agar hatinya yakin.


Telepon tersambung. Lama Pak Ibrahim tidak menjawab ponselnya.


Zalfa mengetuk-ngetukkan ujung jari-jarinya ke meja karena tak sabar menunggu telepon diangkat. Begitu telepon dijawab, Zalfa langsung bertanya, “Tolong bicara yang betul, benarkah Faisal udah ditemukan?”


Dengan suara serak dan gemetar Pak Ibrahim menjawab, “Faisal kembali, Zalfa. Itu benar. Aku sudah bicara dengannya melalui telepon. Itu suara Faisal. Dia mengaku akan pulang.”


Di seberang sana, di belakang Bu Fatima terdengar suara gaduh yang sibuk membahas Faisal. Zalfa jadi kurang jelas mendengar suara Bu Fatima.


Kemudian terdengar suara Pak Ibrahim memanggil, “Bu, nelepon siapa?”


“Zalfa, Bapak akan ke bandara menemui Faisal. Kamu menyusulah!” kata Pak Ibrahim kemudian telepon terputus. Pak Ibrahim dan Bu Fatima terdengar sangat terburu-buru.


Zalfa tidak tahu apakah ia harus bahagia atau bersedih. Kabar itu benar-benar menggetarkan dan membuatnya merasa sangat tersentuh. Dunianya mendadak berubah dalam sekejap. Perasaannya pun berubah. Tapi kenapa kabar itu hadir di saat ia sudah berada di ambang pernikahan? Disaat ia telah melewati masa sulit untuk melupakan Faisal? Kenapa ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit? Tapi... Bukankah kabar itu yang selama ini ia nantikan?


“Zalfa, kamu tadi ngomong apa? Apakah Faisal udah ditemukan?” tanya Atifa sembari mendekati Zalfa dan meraih bahunya. “Mayatnya dimana?”


Zalfa tergugu mendengar pertanyaan terakhir. Mayat?


“Faisal masih hidup,” singkat Zalfa membuat Atifa dan Ismail terbelalak kaget dan bertukar pandang.


***


Zalfa berlari memasuki bandara. Berpapasan dengan banyak orang yang sibuk dengan rutinitas penjemputan. Di loby luar area terminal kedatangan, terlihat Pak Ibrahim dan Bu Fatima menunggu di kursi tunggu dengan muka cemas.


Zalfa mendekati Pak Ibrahim. Segera Pak Ibrahim berdiri dan menatap Zalfa. Mukanya yang gelisah jelas sedang menanti dengan sangat akan kedatangan puteranya. Sementara Bu Fatima diam saja di kursinya tanpa memperdulikan kedatangan Zalfa.


“Zalfa, Bapak tidak tahu mesti ngomong apa. Faisal akan kembali. Dia akan pulang,” kata Pak Ibrahim dengan bola mata berputar-putar tak tentu arah. Antara bahagia dan kecemasan berbaur jadi satu.


Zalfa mengangguk turut bahagia. Bahagia karena Faisal selamat, bahagia karena keselamatan Faisal membuat seorang ayah dan ibu menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Rasanya seperti ada dalam sinetron yang mengisahkan kembalinya seseorang yang telah dianggap meninggal, tapi ini adalah kenyataan. Dan Zalfa berada di tengah-tengah kenyataan yang ada.


“Bagaimana dengan kondisi Faisal? Apa dia baik-baik saja?” tanya Zalfa.


“Bapak belum tahu kondisi yang sesungguhnya. Tapi, Masyaa Allah… Tuhan menjawab doa-doaku di sepertiga malam. Tuhan mengembalikan Faisal,” kata Pak Ibrahim sembari menatap Zalfa dengan mata berkaca penuh haru. “Faisal menelepon melalui telepon umum. Katanya dia ada di Tapanuli Selatan. Dia minta dikirimin uang dan kami sudah mengirimkannya. Semoga dia kembali dengan selamat.”


Zalfa berkaca-kaca mendengar keterangan Pak Ibrahim. Terharu. Benarkah Faisal akan kembali? Ya Tuhan, semakin dekat pertemuannya dengan Faisal, jantungnya semakin berdebar-debar.


TBC