PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 111


“Apa kamu kurang menyukai menu makanan di sini?” Zalfa mengawasi ekspresi wajah Arkhan. Ia enggan melihat Arkhan yang tampak tidak berselera.


“Suka,” jawab Arkhan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia seperti sedang mencari objek yag dapat menyejukkan mata mengingat situasi restoran yang membosankan. Ekspresi Arkhan berubah saat manik matanya mendapati pemandangan tak jauh dari tempatnya duduk, tepat di meja yang hanya bersebelahan ada sesosok manusia yang membuat pandangannya fokus ke sana.


“Sejak tadi aku melihatmu kurang bersemangat di tempat ini. lain kali aku nggak akan mengajakmu ke sini lagi,” ujar Zalfa sambil menunduk untuk fokus menatap makanannya. “Baiklah, kamu mau kan kalau lain kali kita ke restoran rekomendasi yang kamu sebutakan tadi?”


Tidak ada jawaban, Zalfa mengangkat kepala dan menatap Arkhan. Pria itu tidak sedang menatap ke arahnya, melainkan menatap ke meja sebelah dengan urat rahang mengeras.


“Arkhan!” panggil Zalfa.


“Jadi ini alasanmu kenapa memilih restoran ini, hm?” Arkhan menggeram kesal.


Zalfa mengikuti arah pandang Arkhan.


Deg!


Jantungnya berdetak keras. Ia melihat Faisal tengah duduk manis di sana menikmati makanan. Tepat pada saat itu, Faisal mengangkat wajah dan menatap Zalfa. Situasi benar-benar seperti sudah dikondisikan meski sebenarnya sama sekali tidak demikian.


“Benar-benar hebat!” celetuk Arkhan dengan gigi menggemeletuk dan menatap Zalfa kesal. “Apa kalian sudah janjian? Diam-diam kamu ingin menemui pria itu?”


“Enggak. Au sama sekali nggak janjian.”


“Mungkin restoran ini adalah restoran favoritmu dengan pria itu. mungkin ada banyak kenangan yang kau bangun bersama pria itu di restoran ini. dan kau masih ingin mengenangnya bukan? Baiklah, kuberikan kesempatan seluas-luasnya untukmu bisa bernostalgia di sini. ingatlah semua yang pernah kau lakuakn di sini sepuasmu. Dan lihatlah, bahkan makanan pesanan kalian juga sama.”


Mendengar pernyataan Arkhan, spontan pandangan Zalfa tertuju ke arah piring Faisal. Dan ia terkejut melihat menu makanan yang sedang disantap oleh Faisal sama dengan makanan yang kini menjadi santapannya.


“Arkhan, ini nggak seburuk yang kamu duga. Ini adalah yang kedua kalinya aku mengunjungi restoran ini, dan sebelumnya aku juga nggak pernah datang ke sini bersama dengan Faisal,” bisik Zalfa dengan suara setengah berbisik, berharap suaranya tida terdengar sampai ke telinga Faisal.


“Terserah saja, aku hanya nggak suka diremehkan. Dengan caramu menunjukkan kepadaku kalau kau duduk di sini di waktu yang bersamaan dengan pria itu dan memesan makanan yang sama, itu sama saja kau meremehkanku.”


“Ya ya. Terserah padamu saja. Aku nggak peduli.” Arkhan menyuapkan satu suapan ke mulutnya dengan sentakan kuat hingga membuat giginya beradu dan menimbulkan suara.


“Arkhan, sekali lagi kukatakan, semua ini hanya kebetulan aja dan aku sama sekali nggak mengkondisikan kejadian ini. sungguh!” Zalfa berusaha meyakinkan.


“Lalu, apa menurutmu aku harus mempercayaimu?”


“Tentu saja.”


Arkhan tersenyum sinis.


“Percayalah padaku!” ucap Zalfa dengan ekspresi penuh keyakinan.


“Tidak. Aku tidak percaya.”


“Arkhan! Aku harus bicara apa lagi?” Zalfa sedikit kesal, penjelasannya seja tadi sia-sia. Arkhan tetap teguh pada pendapatnya yang menuduh Zalfa sedang main serong. “Aku bukan wanita serendah itu.”


Arkhan menusuk garpunya ke arah sepotong ayam. Sial, ujung garpu meleset karena mengenai tulang hingga mengakibatkan daging ayam melayang.


Plak!


Arkhan dan Zalfa menoleh ke tempat dimana ayam mendarat, tepat di pipi Faisal.


Arkhan terkejut. Ia tidak menyangka jika kekesalannya tanpa sengaja dibalas dengan begitu ringannya oleh si ayam goreng.


Faisal sibuk mengelap pipinya yang ditempeli minyak dengan tisu.


TBC