
Cyra memotong daging dengan pisau. Ini daging apa karet ya? Kok, liatnya minta ampun? Katanya masakan Mama tuh jos gandos gandos, ini kok keras begini? Cyra membatin panik sampai kuwalahan memotong daging tersebut.
Plak!
“Argkh…!” Zaki memegang matanya yang kegaplok daging.
“Ups.” Cyra merasa bersalah, potongan dagingnya mantul mengenai mata Zaki. “Maaf. Ayo, ke belakang cuci matamu!”
Zaki mengikuti Cyra menuju ke ruangan belakang. Cyra menuntun Zaki mendekati westafel. Zaki mencuci wajahnya dengan air keran.
“Gimana? Masih pedih?” Cyra cemas menatap mata Zaki yang memerah.
Zaki merem melek. Ah, mata kanannya itu benar-benar sangat perih. Seperti ada yang mengganjal
“Ya ampun, matamu kayak kena culek gitu?” Cyra semakin cemas.
“Kamu yang bikin mataku jadi kayak gini.”
“Sini biar kutiup.”
Zaki menatap Cyra dengan satu mata karena mata lainnya ia tutup dengan telapak tangan. “Apa dijamin bakalan sembuh kalau kamu tiup?”
“Mudah-mudahan aja.”
“Kalau nggak sembuh, aku cium kamu.”
Cyra membelalak. Ancaman model apa itu? “kamu bilang kita taarufan, berarti nggak ada istilah ciuman, ini kok mau nyium lagi?”
“Konsekuensi orang bersalah memang harus dapet hukuman.”
“Hukuman kok nyari yang enak?”
“Cepat kalau mau tiup mataku!”
Cyra memegangi pipi Zaki dengan kedua telapak tangannya. Kemudian jemarinya berpindah ke kulit atas dan bawah mata Zaki, melebarkan mata itu lalu… Buuuuur…
Tiupan pertama berhasil membuat Zaki memundurkan wajah.
“Itu tadi niup apa nyembur? Air apa yang nyemprot?” protes Zaki sembari mengucek matanya.
Cyra tergelak. “Maaf, airnya ngikut. Tapi sembuh, kan?”
Zaki mengangguk. Matanya sudah mulai baikan. “Lain kali hati-hati. ini terakhir kalinya kamu bikin aku celaka. Jika sekali lagi kamu bikin aku sial, aku nggak akan segan-segan ngwinin kamu.”
“Hah?”
“Nikahin kamu maksudku.”
Cyra mencubit gemas perut Zaki. Cubitan kecil itu tak berpengaruh apapun bagi perut berotot Zaki.
“Ya udah yuk balik ke meja makan, entar emak-emak pada curiga lagi,” ajak Cyra.
“Kenapa?”
Zaki menunjuk pipinya dengan telunjuk jari.
Maksud Zaki apaan sih? Nunjuk-nunjuk pipinya snediri? Minta ditampar? Oh… Sepertinya Cyra memang telmi untuk urusan berkasih sayang. Bahkan bahasa isyarat Zaki pun tidak dia pahami.
“Pipimu ngapain? Gatel?” polos Cyra membuat Zaki menatap jengah.
Sebenarnya pacarnya itu kelewat polos atau agak bloon, sih? Zaki mengesah.
“Kiss me!” Zaki menepuk pipinya.
Sontak wajah Cyra memanas. Permintaan Zaki ada-ada aja deh. Tadi minta kawin, sekarang minta cium. Besok apa lagi?
“Enggak!” Cyra balik badan namun tubuhnya kembali berputar menghadap Zaki saat tangan kokoh pria itu menahannya.
Cup! Kecupan singkat mendarat di pipi Cyra, membuat gadis itu membeku di tempat. Sentuhan bibir Zaki di pipinya membuat tubuhnya terasa seperti tersengat listrik.
“Cyra!”
Panggilan itu membuat Zaki dan Cyra serentak menoleh ke sumber suara. Andini berdiri di ambang pintu. Muka Cyra seketika memerah, sedangkan muka Zaki menegang. Keduanya cemas, takut Andini memergoki kejadian barusan. Bisa langsung dikawinin kalau ketahuan.
“Zaki nggak kenapa-napa, kan?” lanjut Andini sembari mendekati Zaki.
“Nggak pa-pa, Tan,” jawab Zaki.
“Oh.. Ya udah. Kirain kenapa-napa, kok lama banget. Ayok, lanjutin lagi makan malemnya. Entar keburu dingin, nggak enak loh.” Andini melenggang kembali menuju ke ruang makan.
Cyra dan Zaki bertukar pandang. Sama-sama menatap dengan pandangan lega. Melihat sikap Andini tadi, jelas Andini tidak memergoki kejadian itu.
“Kamu, sih.” Cyra protes.
Plak!
“Aduh!” Zaki memegang pipinya yang baru saja kena tampel telapak tangan Cyra.
“Kan udah dibilang jangan ada cium-cium.”
Zaki hanya mengangkat alis.
**Tbc
Jangan lupa klik tombol like 💓. Yg punya tip koin boleh klik tombol tip dan kasih koin buat cerita ini 😍😍😊
Nggak lupa kuingetin supaya ajak temen baca, bagikan cerita ini ke temen temen.
luar biasa yg udah pada komen ngasih tau asal daerah kalian, salam kenal yah**