
Arkhan menghela nafas. Ia terlihat menyerah dan akhirnya menjawab, “Aku memang berasal dari keluarga non muslim yang taat. Kau lihat sendiri keluargaku begitu taat beribadah, baik berdoa dan sembahyang ke gereja, tapi aku udah lama mengenal Islam.”
Zalfa terdiam dan lehernya seakan tercekat. Ia setia mendengar cerita Arkhan. Kini mereka sudah duduk berhadapan di atas lantai porselin putih bersih dengan sapuan sejuk angin dari AC.
“Aku sekolah Dasar di SD Santa Maria, sekolah yang sesuai dengan agamaku,” lanjut Arkhan dan tanpa sadar Zalfa menyimak dengan seksama.
Mulailah Arkhan bercerita. Ketika itu, entah mengapa ada seorang siswa bernama Aran yang seorang muslim bisa terdampar sekolah di Santa Maria. Untuk anak seumuran Aran, dia tergolong sebagai anak baik. Dia rela berkorban mengaku bersalah padahal temannyalah yang bersalah, tujuannya agar temannya itu tidak dihukum guru. Agar dia saja yang dihukum. Anak SD? Sanggup berbuat demikian? Tapi itu kenyataan. Dan bukan hanya sekali ia melakukan hal yang sama untuk Arkhan dan teman yang lainnya. Yaa… meski terkadang ia suka jahil, tapi menggemaskan. Dia juga suka menolong dan sangat perhatian pada teman-temannya. Termasuk pada Arkhan, teman sebangkunya.
Aran, bocah yang wajahnya cacat akibat pipinya terbakar itu terpaksa sekolah di sana karena mengikuti Bibinya yang menjadi guru di sana. Bibinya juga muslim. Arkhan hidup dan disekolahkan bibinya karena perekonomian orang tuanya kurang mampu.
Lucunya, justru Arkhan yang selalu kepo dan penasaran dengan ajaran agama yang dianut Aran. Begitu banyak pertanyaan yang disampaikan Arkhan pada Aran mengenai Islam dan dijawab sedapatnya oleh Aran sebatas pengetahuannya yang masih belum seberapa.
Tahukah apa yang terjadi setelah itu? Aran masuk sekolah Tsanawiyah. Dan Arkhan mengikuti Aran memasuki sekolah yang sama. Arkhan memanipulasi data dengan mengisi form pendaftaran beragama Islam karena takut ditolak jika ia jujur bukan seorang muslim. Arkhan dan Aran kembali duduk sebangku. Persahabatan mereka semakin erat. Di sana, Arkhan jadi sering mendengarkan pelajaran tentang Islam. Ia sering mendengarkan adzan, mendengar orang mengaji, mendengar ceramah para guru agama. Ia juga sering ikutan shalat ketika kelasnya mendapat giliran shalat berjamaah. Setiap ayat yang dilafazkan imam seakan menusuk ke dinding hati dan melekat di sana. Subhanallah… Ia dengan cepat hafal surat Al Fatihah dengan sendirinya karena terlalu sering mendengarkan ketika imam melafazkannya. Bukan hanya itu saja, ia juga dengan mudah bisa mengaji karena terlalu sering diajarin mengaji, faktor pendukung lainnya adalah guru agama yang garangnya kayak monster, yang akan marah-marah dan menghentakkan rol panjang ke meja keras-keras ketika mendapati muridnya tidak pandai membaca al qur’an. Situasi itu membuatnya dengan cepat mengenal huruf Al Qur’an.
Sesuatu itu datangnya seperti dari langit dan kerap turun menyejukkan hatinya setiap kali ia mendengarkan ceramah guru agama. Aran saat itu tidak berani bilang ke guru bahwa teman sebangkunya sebenarnya adalah non muslim. Ia terlalu kecil untuk memiliki nyali sekuat itu. Ia hanya merasa senang bisa bersama-sama dengan Arkhan. Itu saja.
Ketika lulus SMP, rasa persahabatannya terhadap Aran menggiring dirinya ikut masuk ke pondok pesantren milik Ustad Bukhori. Di sanalah ia mengenyam banyak ilmu agama. Tentang mengaji, shalat, hadits, Al Qur’an dan lain sebagainya.
TBC