PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
158. Membesuk


“Kita hampir tabrakan, Zak.” Cyra mengerjap.


“Maafin aku.” Zaki merasa bersalah, ia menyelipkan rambut Cyra yang berantakan ke belakang telinga. Wajah pucat Cyra menjadi saksi betapa gadis itu merasa ketakutan.


“Huuuh… Untung nggak tabrakan. Untung aja kamu gesit belokin mobilnya. Ya ampun, aku kira tadi bakalan mati.” Cyra mengelus-elus dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup sangat kencang.


“Boleh kubantuin?”


Cyra menatap ke arah Zaki. “Bantuin ngapa?”


“Itu. ngelus-ngelus dadanya.” Zaki menjulurkan tangannya dan langsung ditampik oleh Cyra.


“Apaan, sih? Mulai, deh.”


“Biar cepet tenang jantungmu, Ra. Niatku kan baik.”


“Iiiih… Zakiiiii!”


Zaki tersenyum. “Maafin aku ya, Ra. Aku tadi kurang konsentrasi nyetir. Pikiranku entah kemana-mana.”


“Emangnya apa yang kamu pikirin? Kenapa sampe hilang konsentrasi gitu?”


Zaki memutar mata. Apa yang harus ia jawab? Tidak mungkin ia jujur karena Alfa. “Entahlah, aku hanya ingin kita tetap bersama. Ya udah, lupakan soal itu. maaf aku udah bikin kamu shock. Kita lanjutin perjalanan.”


Cyra mengangguk.


***


Dengan mengenakan pakaian biru ala tahanan, penampilan Alfa terlihat kusut, tubuhnya sedikit lebih kurus, rambutnya juga tidak lagi terlihat rapi seperti saat ia tampil sebagai mahasiswa teladan. Kepalanya setengah menunduk. Sejak memasuki ruangan, Alfa belum menatap mata Cyra.


“Fa, gue udah terima surat dari lo.” Cyra memulai pembicaraan. “Gue udah baca semuanya. Gue juga udah sampein permintaan maaf lo ke Pak Zaki.”


Alfa masih diam saja. Kepalanya masih menunduk. Hanya jempolnya saja yang bergerak-gerak terpilin antara jempol satu dengan jempol lainnya.


Cyra tidak bisa melihat ekspresi Alfa sekarang saking wajahnya yang tertunduk.


“Lo tahu kenapa gue bisa duduk di sini?” tanya Cyra.


Alfa diam saja.


“Itu karena Pak Zaki,” lanjut Cyra dengan suara lirih. “Dia yang minta supaya gue maafin lo. Dia yang minta supaya gue berlapang dada dan ngelupain semua kesalahan lo ke gue. Baik itu perlakuan lo yang pernah hampir memperkosa gue, juga kebrutalan lo yang hampir ngebuat Pak Zaki hanya tinggal nama. Ada banyak kebaikan yang harus dikenang supaya gue bisa maafin lo, supaya gue ngelupain sisi buruk dan hanya ingat sisi baiknya aja. Itu kata Pak Zaki.”


“Iya, Ra. Pak Zaki orang baik.” Akhirnya Alfa angkat bicara. Suaranya lirih lebih seperti bisikan, membuat Cyra perlu memasang pendengaran lebih jeli untuk menangkap suara dari mulut Alfa.


“Gue katakan ini supaya lo tahu, bahwa Pak Zaki sangat ngehargai permintaan maaf lo ke dia. Di saat nyawanya hampir melayang, dia masih bisa berbesar hati dan berlapang dada ngelupain semuanya. Dia hanya ingin mengenang lo sebagai mahasiswa yang baik.” Cyra melihat air mata menitik di meja, tepat di bawah pipi Alfa.


Alfa menangis? Cyra tertegun menatap tetes-tetes air mata yang terus berjatuhan ke meja. Tak lama punggung Alfa terlihat bergetar.


“Gu.. Gue nyesel, Ra. Demi Tuhan, gue nyesel.” Suara Alfa terbata. “Gue juga nggak tahu kenapa gue bisa sebrutal itu, kenapa gue bisa seemosi itu, Ra. Bahkan gue sendiri bertanya-tanya apa yang sebenernya terjadi sama diri gue? Hasutan apa yang ngebuat gue jadi manusia serendah itu?” Alfa berhenti bicara untuk menarik nafas panjang-panjang.


Cyra terdiam menatap bahu Alfa yang bergetar hebat. Mata Cyra berkaca mendengar pengakuan Alfa yang penuh dengan nada penyesalan. Hatinya berdenyut.


TBC