PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 77


Selama entah berapa lama, Faisal terbaring tak berdaya di kediaman Enek dan dirawat dengan baik oleh keluarga Enek.


Mulai hari itu, Faisal merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Diselamatkan Allah ditengah kejadian tragis yang menantang maut, dan sekarang dipertemukan orang-orang yang sangat baik.


Enek dan keluarganya merawat Faisal lebih dari kata sempurna. Faisal seperti bayi bagi mereka, disiapkan makanan, meski hanya sepotong ubi rebus, disiapkan air mandi yang diangkut dari sumur kecil di lereng jurang, untuk menempuhnya saja betis sudah pegel duluan, dan bila tersandung bisa menggelinding di lerengnya dan disambut oleh semak belukar di bawahnya. Begitu setiap hari.


Faisal merasa menjadi beban, namun Enek merawat Faisal tanpa pamrih. Tak sekalipun Enek dan keluarganya merasa keberatan. Entah terbuat dari apa hati mereka, sedikitpun tidak merasa terbebani.


Pupus sudah harapan Faisal untuk dapat kembali bertemu Zalfa saat menyadari ia kini tengah berada di sebuah tempat terpencil dan jauh dari perkotaan. Bahkan mungkin bisa dikatakan mereka tinggal di hutan, bagian dari keluarga primitif. Tidak ada alat telekomunikasi, tidak ada listrik, penerangan hanya menggunakan obor.


Zalfa pasti mempertanyakan keberadaannya sekarang. Lalu bagaimana dengan rencana pernikahannya? Faisal pasrah dan menyerahkan semua urusan dunianya pada Tuhan. Sudahlah, semua yang akan dan sudah terjadi pasti sudah menjadi skenario Tuhan. Dan ia hanya harus sabar dan ikhlas menjalani.


Setiap hari, di tempat pembaringannya dengan beralaskan tikar itu, Faisal menjangkau pemandangan di luar melalui jendela. Pohon-pohon yang tumbuh rapat di kejauhan terlihat membiru diselimuti kabut. Indah. Suara binatang terdengar bersahut-sahutan. Ia benar-benar sedang berada di hutan. Tak terbayangkan, bagaimana Enek dan keluarganya bisa bertahan hidup di hutan belantara begini. Tanpa tetangga, tanpa warung dan toko.


Pernah, suatu ketika, Faisal terbangun ketika mendengar suara bisikan disertai tangisan sedu sedan. Ia menoleh dan mendapati Enek sedang duduk di atas tikar pandan kecil sudut ruangan dengan tangan menengadah. Meski dalam ruangan remang-remang yang hanya diterangi lampu teplok yang menggantung di dinding, namun dari arah samping Faisal dapat melihat air mata Enek meleleh. Faisal tidak tahu saat itu jam berapa. Yang jelas sudah tengah malam. Sepi, hanya suara jangkrik dan binatang malam yang terdengar.


Hati Faisal bergetar ketika Enek menyebut namanya di antara doa, kemudian Enek mengucap amin. Enek menggulung tikar pandan dan meletakkannya di atas papan selembar yang seperti sudah dijadikan tempat untuk menyimpan tikar tersebut. Enek mengerutkan dahi saat mendapati Faisal sudah duduk dan menoleh ke arahnya.


“Kau terbangun karena suaraku? Aku mengganggu tidurmu?” tanya Enek seraya duduk di samping Faisal.


“Sama sekali nggak ngeganggu. Aku terharu mendengar doamu. Kalau nggak salah denger, apa tadi kamu mendoakanku?”


Enek tertawa dan kemudian menutup mulutnya setelah tersadar suara tawanya terlampau keras.


“Bah, kau ini banyak tanya. Setiap tahajud, aku selalu minta ampunan pada Allah, juga ampunan untuk kedua orang tua dan keluargaku. Dan sekarang, terselip namamu diantara doaku. Aku melihat seorang muslim menderita, aku hanya ingin kau cepat sembuh atas kehendak-Nya supaya kau bisa cepat pulang dan bertemu dengan keluarga kau.”


TBC