
Cyra menyetir mobil dengan kecepatan di atas rata\-rata. Berkali\-kali ia membunyikan klakson untuk meminta mobil\-mobil yang ada di depannya pada minggir.
“Duuuh… bandel banget sih nih mobil nggak mau minggir! Nyebelin!” Cyra kembali menekan klakson, kemudian menyelip saat kesempatan itu muncul di depan mata. “Telat ini gue. Bik Mey kok ya nggak ngebangunin. Zaki lagi, tumben nggak nelepon, jadinya bangun kesiangan.” Cyra ngomong sendiri udah kayak di sinetron-sinetron.
“E eee eeh…” Cyra memekik saat ada nenek-nenek menyeberangi jalan. Karena terkejut, Cyra banting stir ke samping. Mobil berhenti sesaat setelah kakinya menginjak rem bersamaan dengan ban yang menabrak trotoar.
Duez!
Kening Cyra kejedot dashboard.
“Aw! “Cyra memegangi keningnya. Kemudian ia turun dan mengecek si nenek yang tadi melintas di depan mobilnya.
“Nek, nenek nggak pa-pa?” Tanya Cyra cemas. Kali aja si nenek jantungan gara-gara kaget, bisa panjang urusannya.
“Nggak pa-pa, Cu,” jawab si nenek membuat Cyra lega.
Weh, sejak kapan Cyra jadi cucunya?
“Serius, Nenek nggak apa-apa?”
Si nenek tersenyum.
Lah itu tapi giginya pada ilang semua? Bukan Cyra pelakunya kan? Kali aja kebentur moncong mobilnya tadi. Ah, jelas saja si nenek udah ompong. Cyra trekikik dalam hati. Abisnya si nenek lucu sekali waktu tertawa. Kayak bayi baru lahir.
“Ya udah, saya permisi, Nek.” Cyra kembali masuk ke mobil. “Suer, ini bakalan bikin tambah telat.” Cyra menepuk dashboard. Kemudian…
“Aaaaaaa……” Cyra menjerit saat melihat jidatnya membenjol seperti tomat dalam seketika waktu. PAntesan pusing, rupanya jendolannya lumayan gede. Malu dong ke kampus dengan keadaan kening benjol begini. Sadis banget nih dashboard. Ahli ibadah yang sujud untuk shalat tahajud ratusan rakaat saja keningnya tidak sampai seperti itu, lalu alasan apa yang membuat gadis tercantik di kampus tiba-tiba keningnya jendol begitu?
Cyra mendaftar di meja resepsionis dan mengantri di ruang tunggu bersama sederet pasien lainnya yang juga menunggu giliran untuk diperiksa. Nggak nyangka, klinik sekecil itu penuh sesak. Banyak pasiennya. Bahkan Cyra sampai tidak kebagian kursi tunggu, terpaksa ia berdiri. Pasien keluar masuk dari ruang periksa sesuai daftar antrian.
“Mbak, ini udah panggilan antrian yang ke berapa, ya?” Tanya Cyra pada wanita yang duduk mengantri di kursi depannya berdiri. Cyra kurang fokus hingga tidak mendengar panggilan antrianmelalui pengeras suara.
“Yang ke dua puluh empat,” jawab embak-embak itu.
Cyra melihat nomer antriannya. Buset, nomer 34. Astaga, mau sampai kapan Cyra menunggu di sana? Sampai tengah hari kali. Fix, Cyra nggak bia mengikuti kuliah hari ini. Untuk mengurus satu pasien saja, dokter membutuhkan waktu delapan sampai lima belas menit, tergantung tingkat akut sakit yang diderita pasien. Tidak perlu ditanya lagi bentuk muka Cyra yang sedang kaget bukan main.
“Mbak, embak nomer antrian ke berapa?” Tanya Cyra pada embak yang tadi.
“Dua puluh delapan,” jawab embak-embak itu dengan senyum.
“Mbak, mau tukeran nggak sama nomer antrianku?”
“Memangnya nomer kamu berapa?”
Cyra memperlihatkan nomer antriannya sambil cengar-cengir. Kali aja embak-embak itu bersedia membantunya.
“Nggak mau ah. Itu namanya nyuruh aku lama di sini, orang udah sejak pagi ngantrai kok.” Akhirnya nada sewot dan muka sebal yang kini muncul di wajah embak-embak itu.
Yaelah Mbak, biasa aja kali. Tinggal jawab aja kok pake emosi.
Mampus deh, Cyra bakalan ngantri lama di sana! Jamuran!. Lagi-lagi, ia harus merasakn kaki kesemutan sampai hampir satu jam lamanya.
TBC