PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
175. Tak Sabar


Sebelum baca part ini, alangkah lebih baik kalian kembali ke part 167 karena mulai dari part itu ceritanya udah diperbaiki dan sekarang berurutan. Kemarin kan ceritanya terulang-ulang. Nggak tahu kenapa pas aku update jadi berantakan dan pembetulan cerita yang kuupdate baru direview sama admin Mangatoon hari ini.


Atau minimal kalian baca ulang dari part 172, di sana ada beberapa scene tentang Zaki yang melalui proses nyantri, pastinya kalian belum baca karena kemarin terpotong gara-gara adegan yang terulang-ulang.


Jangan lupa klik like saat baca ulang di part itu, okeee? Sedihnya di part sebelumnya yang nge-like Cuma sedikit.


*


Kini, Cyra menghadap Zaki setelah doa selesai dilantunkan. Gadis itu menyalami tangan Zaki yang telah sah menjadi suaminya beberapa menit yang lalu dan mencium punggung tangan pria itu dengan khidmat. Kilatan kamera bertubi-tubi mengabadaikan momen tersebut.


Setelah itu kedua mempelai berdiri bersisian dan memperlihatkan buku nikah mereka kepada kameramen dan para kerabat yang mengabadikan melalui kamera ponsel.


Zaki melingkarkan lengan kirinya ke pinggang Cyra, tangan lainnya masih setia memegangi buku nikah yang dipertontonkan untuk diabadikan. Cyra merasa risih dengan tangan Zaki yang kini berada di pinggangnya, jempol pria itu mengelus-elus pinggangnya.


“Lepasin tanganmu!” bisik Cyra sambil terus tersenyum dan menyamarkan gerakan bibir supaya tidak ada yang melihat kalau ia sedang berbisik.


“Nggak pa-pa, udah halal,” balas Zaki berbisik, gerakan bibirnya juga disamarkan sama seperti yang Cyra lakukan.


Terpaksa Cyra mengalah.


Setelah melewati acara demi acara, para tamu bergiliran menjabat tangan Cyra dan Zaki seraya memberikan ucapan selamat. Tidak sedikit para tamu yang mengucapkan kata-kata untuk menggoda pengantin.


“Sekarang sudah halal, sudah boleh senggol-senggolan.”


“Malam pertamanya jangan langsung digas sepuluh kali, kasian istrimu ya, Zaki.”


Zaki hanya tersenyum sambil menyenggol lengan Cyra saat mendengar celoteh mereka. Sekarang ia sudah terlihat tenang meski terus-terusan menjadi bahan bulian. Dimana-mana, yang namanya pengantin baru memang harus kebal dengan bulian.


Setelah itu para tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan. Rumah Cyra sudah ramai oleh manusia yang berjubel karena sebentar lagi resepsi pernikahan akan dimulai.


Tenda di depan rumah telah siap menanti hadirnya para tamu undangan. Semua orang yang mendapat tugas terlihat sibuk menjalankan pekerjaannya masing-masing.


Sementara itu, Zaki dan Cyra berjalan menuju kamar rias setelah diperintahkan oleh Andini untuk secepatnya dirias. Mereka memasuki kamar yang selama ini digunakan untuk kamar tamu. Sudah ada tas besar teronggok di lantai, tak lain tas milik perias pengantin.


“Kita di suruh masuk ke sini, tapi tukang riasnya nggak ada,” celetuk Cyra.


“Ya sudah, kita tunggu aja di sini.” Zaki melenggang duduk di sisi kasur, santai sekali dia. Zaki mengernyit menatap Cyra yang malah mondar-mandir kayak setrikaan di depannya. “Kamu kenapa mondar-mandir gitu? Nggak takut paha jadi gede kayak ubi kayu?”


Cyra sontak berhanti dan menatap Zaki yang kini tampak menaikkan alis. “Aku jadi nggak enak nih, entar dikir orang-orang, kita lagi ngapa-ngapain di sini. Kita Cuma berduaan di sini, nggak ada orang lain. Pandangan mereka kan lagi sensitif-sensitifnya sama kita.”


Zaki mengulas senyum. “Biarin aja, Ra. Kok, mikir banget sih sama apa yang mereka pikirkan? Hidup kita ini, kita yang ngejalanin, bukan mereka. Kenapa pusing?”


“Yaaa… Tapi kan nggak enak. Periasnya mana sih kok malah ngilang?”


“Jadi, kamu suruh aku keluar?”


“Enggak gitu juga.”


“Di luar rame. Enak di sini sepi. Tenang aja ngapa, jangan kayak cacing kepanasan gitu. Entar malem kamu baru boleh keliatan kayak cacing kepanasan.”


Cyra memelototkan mata. Ini apa lagi maksud ucapan Zaki? “Zaki, jangan error deh pikirannya.” Muka Cyra sontak memerah tanpa kompromi.


Lagi-lagi Zaki tersenyum. Ia suka sekali melihat Cyra grogi. Wajah cantik itu terlihat sangat menggemaskan.


“Aku udah nggak sabar nunggu malem,” celetuk Zaki santai dengan pandangan ke jari-jari tangannya yang sedang asik mengelus kukunya yang bersih.


“Emang kenapa kalau malem?” Cyra menggigit bibir bawah. Eh lah, jantungnya kok tiba-tiba jadi berdetak keras sesaat setelah mendengar kata-kata Zaki. Antara gugup, malu, grogi dan risih berbaur jadi satu.


“Ya kan kita bisa bebas dari sederet acara yang bikin badan jadi pegel.” Zaki menghempaskan tubuh dan berbaring nyaman di kasur, sementara kedua kakinya menjuntai ke bawah.


“Ooh..” Cyra mengangguk. Kirain pikiran Zaki error. Cyra membatin malu.


TBC


KLIK LIKE