
Cyra memarkirkan mobil di area parkiran kampus. Sesaat setelah turun, ia menoleh, melihat parkiran di sebelahnya yang kosong. Biasanya, tempat itu digunakan oleh Zaki. Dan mobil mereka selalu terparkir berdampingan. Hanya tentang parkiran saja, Zaki sudah meninggalkan banyak kenangan. Cyra rindu Zaki yang berdiri di kampus sebagai dosen.
Tak lama sebuah mobil lain mengisi kekosongan parkiran itu. Cyra bergegas meninggalkan parkiran dan melangkah menuju gedung kampus.
“Cyra!” panggil Rere di koridor sambil melambaikan tangan. “Buruan sini!” Muka Rere tampak cerah berbinar.
Cyra mendekati Rere. “Apaan? Pagi-pagi udah teriak-teriak aja. Udah gosok gigi belum? Bau pete entar.”
“He heee… Lu mah suka jujur banget kalo ngatain orang. Ini loh, gue tuh mau ngasih tau, Pak Zaki kok ke kampus kita? Dia mau ngapain?”
“Halah… Basi, Re. lo mau ngibulin gue lagi? Nggak bakalan kena untuk kedua kalinya gue.” Cyra melambaikan tangan ke sembarang arah kemudian melenggang meninggalkan Rere. Namun Rere menarik pergelangan tangan Cyra hingga tubuh Cyra berputar seratus delapan puluh derajat dan kini kembali menatap Rere.
“Gue serius. Pak Zaki ada di kampus kita. Gue baru aja ngeliat dia.”
“Kalo dia ada di sini, mobilnya pasti juga marker dimari, Re. Emangnya, dia ke sini naik apa? Pesawat jet?”
“Apa lo nggak ngeliat itu mobilnya ada di sana!” Rere menunjuk sebuah mobil yang terparkir di samping gedung kampus.
Cyra mengerutkan dahi menatap mobil yang memang benar milik Zaki. Perasaan bahagia mendadak muncul mewarnai benaknya.
“Iya, itu mobil Zaki. Trus dia dimana sekarang?”
“Gue liat tadi masuk ke ruangan dekan.”
Cyra membelalak girang. Apakah mungkin dekan mencabut keputusannya setelah mempertimbangkan dengan matang? Apakah mungkin Zaki akan kembali menjadi dosen di kampus itu lagi? Ya Tuhan, semoga harapan Cyra bukanlah hanya sekedar harapan. Semoga harapannya benar-benar terwujud dan menjadi kenyataan.
Yang ditarik hanya menurut saja. Cyra tidak tahu jika sebenarnya Rere sedang ingin bertemu dan menatap wajah tampan mantan dosen idolanya dari jarak dekat dengan mengkambinghitamkan Cyra. Tanpa cyra, mana mungkin dia punya alasan untuk bisa bertatapan dalam jarak dekat dengan dosen ganteng.
“Jangan deket-deket pintu pak dekan, kita diri di sini aja.” Cyra berhenti di jarak agak jauh dari pintu yang dimaksud.
Tak lama kemudian, Zaki keluar dari ruangan dekan. Ia bertemu dengan serombongan mahasiswa yang merupakan juniornya Cyra. Para mahasiswa tersebut menganggukkan kepala tanda hormat pada Zaki. Sikap sopan mereka membuat Zaki merasa masih dihargai di sana meski dia bukan lagi menjadi dosen di kampus itu.
“Eh kamu!” Zaki menunjuk salah satu mahasiswa berambut keriting. “Rambutnya kenapa gondrong begitu? Kamu akan lebih terlihat rapi dengan rambut pendek,” saran Zaki yang langsung diangguki oleh mahasiswa tersebut sambil tersenyum.
“Tauk nih Pak, rambut kayak sarang tawwon begitu kagak mau dipangkas,” sahut temannya sambil merangkul si keriting yang hanya cengengesan.
“Ada lalat lewat, bisa nancep tuh. Berasa kena jarring, kagak bisa lepas.”
“Ha haaa…”
“Permisi, Pak.” Para mahasiswa membungkukkan badan sesaat setelah meluangkan waktu sebentar untuk mengobrol dengan Zaki.
Sekarang giliran Cyra menghampiri Zaki. Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju ke arah pria yang tengah melenggang, sebentar lagi mereka berpapasan. Dari kejauhan, tatapan mereka beradu, dan Zaki langsung mengarahkan pandangan ke lantai yang di laluinya.
Sementara Rere tersenyum-senyum menatap interaksi antara Cyra dan Zaki.
TBC
KLIK LIKE DI SETIAP PART YAH