PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 42


“Katakan padaku, apa kamu nggak menginginkan milikku?” tangan Arkhan meremas jemari Zalfa dan membimbing tangan gadis itu mengarah mendekati kepemilikan yang sangat haram untuk disentuh bagi Zalfa.


Gilaaa! Pertanyaan gila! Mesumnya kelewatan parah!


“Jangan!” Zalfa memberontak, berusaha menarik dan melepaskan tangannya dari genggaman Arkhan. Tapi dia bisa apa? Tentu saja ia kalah kuat. “Aku mohon, jangan!” Zalfa menangis sesenggukan.


“Aku nggak mengganggu milikmu, Zalfa. Cukup kamu yang mengganggu milikku. Kenapa harus ketakutan?” Arkhan tersenyum licik merasakan tangan Zalfa dalam genggamannya gemetar.


“Aku mohon, jangan!” ulang Zalfa.


“Hmm... Apa kamu nggak ingat malam itu? Kau menyukainya bukan? Bagaimana kalau kita mengulang sejarah itu?” Untung saja Arkhan menghentikan gerakan tangannya hingga Zalfa tidak sempat menyentuh apapun.


“Aku bukan gadis rendahan, Arkhan. Jangan lakukan!”


“Menikahlah denganku!”


Zalfa terperanjat mendengar kata-kata yang baru saja ia dengar.


“E.. Enggak!” suara Zalfa bergetar ketakutan.


Arkhan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zalfa dengan ekspresi beringas, ia semakin kuat menekan tubuhnya pada tubuh gadis itu hingga Zalfa merintih menahan sakit punggungnya yang menekan dinding.


Dengan bibir yang menempel di pipi Zalfa, Arkhan berkata, “Benarkah kau nggak mau menikah denganku?”


Zalfa menggeleng, air mata terus berjatuhan di pipinya. Sorot matanya menunjukkan rasa takut yang luar biasa. Bagaimnaa mungkin ia menyetujui menikah dengan pria aneh seperti Arkhan?


Tangan kiri Arkhan mencengkeram erat lengan kiri Zalfa, sementara siku kanan Arkhan menekan lengan kanan Zalfa. Kemudian telapak tangan pria itu mengelus wajah mulus Zalfa.


“Apa kamu nggak takut akan tumbuh janin di perutmu?” Arkhan mengusap air mata Zalfa. Mengelus-elus wajah cantik itu.


Zalfa tertegun mendengar pertanyaan itu. Ya, tentu saja ia takut akan ada kehidupan lain yang tumbuh di rahimnya. Tapi apakah ia harus menikah degan pria semenakutkan itu? Lalu alasan apa yang membuat Arkhan tiba-tiba mengajaknya untuk menikah?


“Jangan sampai aku berubah pikiran! Aku nggak akan bertanya sampai tiga kali,” tegas Arkhan.


“Demi Tuhan, aku akan tetap bertahan sendiri, dari pada harus menikah dengan pria yang berlainan keyakinan.”


“Aku akan membaca dua kalimat syahadat untuk menikahimu.”


Mata Zalfa sedikit melebar, terkejut.


“Jangan kaget! Aku akan menjadi muslim untuk menikahimu.”


Zalfa masih terdiam. Menatap Arkhan yang mukanya berada sangat dekat dengan wajahnya.


“Hanya sekali lagi aku mengatakan ini, menikahlah denganku! Kau mau?”


Otak Zalfa benar-benar keruh dan rasanya sulit sekali untuk berpikir. Jawaban apa yang harus ia katakan pada Arkhan? Ya atau tidak? Kenapa pertanyaan Arkhan malah lebih terkesan seperti ancaman? Bahkan wajah pria itu juga seperti ancaman besar, sangat menakutkan.


Kepala Zalfa mengangguk.


“Gadis pintar.” Arkhan merenggangkan pegangannya. Melepas cengkeramannya. Melangkah mundur menjauhi Zalfa.


Zalfa melepas nafas lega. Akhirnya ia terbebas dari cengkeraman pria itu.


“Arkhan, aku mau keluar. Bukakan pintunya! Kayaknya pintunya rusak.”


Arkhan melirik Zalfa tanpa memberi jawaban.


“Andai saja jendela di kamar ini nggak pakai terali besi, aku pasti udah melompat keluar dari jendela.”


Arkhan menatap wajah Zalfa. Dalam hati ia mengakui, betapa gadis itu sangat sempurna, cantik, juga memiliki tubuh yang sangat indah. Hanya saja, tubuh indah yang pernah ia saksikan itu tertutup rapat oleh pakaian gamis yang longgar, bahkan terulur jilbab panjang sampai ke perut.


TBC