PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
134. Sahabat


Di ruangan ICU, Cyra menyentuh punggung tangan Zaki. Pria itu terpejam dengan bermacam peralatan medis yang melekat di tubuh dan sebagian menutup wajahnya. Membuat wajah tampan yang babak belur itu menjadi separuh tertutup.


Ya, kini Zaki berada di ICU karena sedang dalam kondisi kritis, ia dipantau secara intensif dengan peralatan khusus oleh tenaga medis.


“Zaki!” Cyra berbisik di telinga Zaki, membungkukkan tubuhnya supaya mulutnya sejajar dengan telinga pria itu. “Aku di sampingmu. Cepat bangun, ya! Aku nggak kuat ngeliat kamu begini, aku mencintaimu. Aku sayang sama kamu. Kamu ingat, kamu punya banyak janji yang belum kamu penuhi untukku. Kamu harus bangun demi memnuhi janji-janjimu itu ke aku.” Cyra mengusap dahi Zaki. Tanpa sadar, bulir air mata Cyra menetes mengenai pipi Zaki.


Sungguh, Cyra tidak tega melihat kondisi Zaki sekarang. Pria itu terbujur lemah dan tak sadarkan diri.


Alfa. Nama itu tertulis di kepala Cyra. Kenapa Zaki bisa terkurung di gedung itu, dan Alfa membawa mobil Zaki entah kemana. Artinya Alfa mengetahui apa yang terjadi dengan Zaki, namun dia malah pergi. Siapa lagi dalang dari peristiwa ini jika bukan Alfa.


Ya ampun, kenapa Alfa bisa sesadis itu? Diam-diam menghanyutkan. Apa sebenarnya isi kepala Alfa?


Mata Zaki terus terpejam.


Pandangan Cyra beralih menatap dada bidang Zaki yang polos, hanya tertutup selimut putih sampai sebatas bawah dada.


Cukup lama Cyra memandangi wajah Zaki, mengelus pipi pria itu, serta menggenggam erat tangan Zaki penuh cinta. Di ruangan itu, Cyra tidak merasa lapar, tidak merasa dahaga, raganya seperti mati rasa. Melihat kondisi Zaki, Cyra merasa kenyang dan tidak menginginkan apapun. Hanya satu keinginannya, kesembuhan Zaki.


“I love you…!” bisik Cyra.


Cyra kemudian mencium punggung tangan Zaki. Tanpa terasa air matanya menetes dan mendarat di punggung tangan pria itu. Setelah itu ia melangkah keluar ruangan. Didapatinya Rere yang berdiri di depan pintu sambil menenteng plastik berisi pakaian, matanya menatap Cyra sendu. Hidung gadis cengeng itu kembang kempis, detik berikutnya tubuhnya menghambur maju dan memeluk Cyra. Tangisnya pecah di pelukan Cyra.


“Ya ampun, Ra. Gue nggak nyangka Pak Zaki bisa sampe jadi begini. Apa yang terjadi sama Pak Zaki, Ra? Kenapa idola gue itu bisa sampe masuk rumah sakit bahkan sekarang di ICU.” Rere mengucapkan kalimat itu dengan suara terbata bersamaan dengan tangis yang mengharu.


Kebiasaan Rere memang selalu begitu. Seharusnya Cyra yang mewek habis-habisan dan mengadu pada Rere. Eh, malah kebalik. Rere yang kini seakan-akan berada di posisi paling terluka.


Cyra membalas pelukan Rere. Air matanya menetes dan mulutnya tak bersuara. Apa lagi yang harus Cyra katakan? Dia sudah cukup tertekan melihat kondisi Zaki sekarang. Tangisannya membuat lehernya tercekat dan tak kuasa untuk banyak bicara.


“Gue ngerti banget apa yang lo rasain. Saat orang yang kita cintai berada dalam kondisi mengenaskan, pasti itu membuat kita ngerasa khawatir banget. Tapi percayalah, semua ini nggak lebih dari ujian.”


Tumben Rere sedikit bijak, ada unsur ceramah di dalam kalimatnya.


TBC