
Cyra membelalak mendengar permintaan mertuanya. Menikah lagi? Usia pernikahannya dengan Zaki bahkan baru seumur jagung. Dua tahun pernikahan belum bisa dikatakan lama, dan sekarang mertuanya memintanya untuk mengijinkan Zaki menikah lagi. Ini pertanyaannya yang konyol atau orangnya yang aneh?
Segitu besar keinginan Alya untuk secepatnya menimang cucu. Apakah Alya tidak memikirkan perasaan Cyra terlebih dahulu sebelum mengajukan pertanyaan itu? Mereka sama-sama perempuan. Tapi Cyra tidak bisa menyalahkan mertuanya, ia mengambil hikmah positif saja dari kejadian yang dia alami. Mungkin Tuhan sedang menguji kesabarannya, mungkin inilah cobaan rumah tangganya, mungkin karena memang Zaki adalah anak semata wayang makanya Alya ngebet banget kepingin cucu.
“Menikah lagi?” ucap Cyra dengan ekspresi yang dia atur agar tetap tenang.
“Mama jahat, ya? Mama kejam ya karena sudah mengatakan hal ini ke kamu. Tapi Zaki itu adalah anak semata wayang kami, rasanya mama kok takut kalau dia terlalu lama untuk memiliki keturunan. Mama harap kamu mengerti dan memahami situasi yang kami rasakan. Kalian kan sudah program hamil, tapi tetap juga belum dikasih anak. Kamu marah ya sama mama karena mama bicara begini?”
Cyra berusaha tersenyum lebar. “Enggak. Aku nggak marah. Aku ngerti banget kok sama harapan mama. Apa mama udah Tanya ke Zaki soal ini? Apakah dia bersedia mencari madu dan ngeduain aku?”
“Belum. Mama belum tanyakan ini ke dia.”
“Ya udah, mama tanya aja ke Zaki, dia mau nikah lagi apa enggak. Kalau Zaki mau nikah lagi, ya udah suruh aja dia nikah. Aku serahkan keputusan pada Zaki,” jawab Cyra dengan senyum lebar.
Alya heran melihat Cyra yang malah tersenyum lebar dan sama sekali tidak terlihat ada kesedihan saat mendapat penawaran yang seharusnya membuat wajahnya tertekuk.
“Aku sih terserah Zaki aja, Ma. Asalkan Zaki seneng, aku ikut seneng,” lanjut Cyra enteng, seakan-akan tidak merasa beban.
Alya sampai bingung melihat ekspresi Cyra. Ia tidak tahu jika sebenarnya otak Cyra sedang berpitar mencari trik.
Tanyain aja sono Zaki mau kawin lagi apa enggak? Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan persen, aku yakin Zaki nggak mau nikah lagi. Dia kan cinta matinya Cuma sama aku. Boleh dong pe de dikit. Dan aku yakin, calon yang dibawa oleh mama Alya pasti akan menolak Zaki. Liat aja entar. Lagian, emak mertua kagak sabaran banget kepingin cucu, lah aku yang menjalani rumah tangga aja bisa sabar nunggu hamil.
“Mama memang sudah ada calon untuk Zaki. Sekali lagi maafin mama. Pasti kamu anggap mama ini jahat.”
Emang iya.
“Ya, kamu boleh anggap mama ini mertua yang tidak tahu diri, mertua yang tidak bisa memahami menantu, tapi harapan mama tidak bisa diubah. Mama benar-benar sangat menginginkan keturunan dari Zaki. Jangan sampai Zaki menikah hingga bertahun-tahun lamanya dan ternyata setelah menunggu sekian lama tidak ada hasil. Bukannya mama tidak bisa bersabar ataupun suudzon dengan takdir yang kemungkinan akan terjadi, tapi ini benar-benar harapan besar kami.”
Cyra menarik nafas pelan. “Ya udah, mama nggak usah ngerasa nggak enak. Ikuti aja keinginan mama itu. Semoga aja berhasil.”
Alya menatap Cyra heran, ia bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan menantunya itu sampai bisa bicara dengan begitu entengnya.
“Hubungan kamu dan Zaki baik-baik aja, kan?” Alya jadi curiga.
“Baik. Sangat baik, Ma. Aku kan sayang banget sama Zaki, sebaliknya juga begitu,” jawab Cyra.
Alya semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Cyra, dan akhirnya ia menilai bahwa Cyra memang mengikhlaskan kejadian saat itu.
***
TBC