
Zaki sudah mengenakan kemeja ungu muda dan melenggang menuju ke pintu, tangannya membawa kunci mobil dengan gantungan sebuah dompet warna cokelat. Ia terkejut saat membuka pintu dan mendapati Cyra berdiri di depan pintu, gadis itu nyengir lebar sambil menunjukkan lembaran kertas di tangannya.
“Apa itu?” tanya Zaki dengan alis terangkat. Matanya mencermati tulisan yang tertera di kertas tersebut. Setelah mengetahui isinya, muka Zaki langsung berubah sengak. “Bukankah itu tugas dariku?”
“He’em.” Cyra mengangguk seperti merasa tak bersalah.
“Kenapa baru kelar separuh?” gertak Zaki dengan ekspresi horor. “Kamu tuh ya, nggak bisa banget ngehargai aku? Dengan kamu nggak mau ngerjain tugas yang kuberikan, sama aja kamu nggak ngehargain aku.” Zaki menoyong jidat Cyra dengan telunjuknya hingga kepala gadis itu terayun ke belakang.
“Yaaa… Maksudnya aku ke sini pagi-pagi gini tuh mau minta ajarin sama kamu.”
Zaki melihat arloji di tangannya, lalu mengesah. “Pagi-pagi katamu? Hari ini kamu ada ujian, Non. Seharusnya kamu ke kampus satu jam sebelum jam ujian supaya bisa memastikan dimana posisi tempat dudukmu. Lagi pula kamu juga punya tugas yang harus disetor bukan? Mimpi apa semalem jam segini dibilang pagi-pagi?”
“Ini kan masih empat puluh menit sebelum masuk jam ujian, baby. Maaf, aku tadi dusuruh bantuin mama masak jadinya gini deh. Abisnya Bik Mey lagi nyuci baju seabrek. Mama entah kenapa rajin banget masak pagi tadi, aku jadi korban, deh.”
“Tadi malem kan kamu bisa kerjain tugas itu, aku juga udah ingetin kamu supaya cepat menyelesaikan tugas itu? Kalau gini caranya, sama aja kamu nyepelein aku.” Zaki menjepit ujung hidung Cyra. “Aku udah mau berangkat ke kampus. Nggak ada waktu untuk itu.”
“Maaf, kamu kayak nggak tau aku baru aja ditimpa musibah. Pikiranku kan nggak fokus jadinya,” rengek Cyra.
“Jadi, kalau kamu ketemu Alfa di kampus, apa yang akan kamu lakukan?”
Muka Cyra mendadak memerah, ingatannya terkilas balik pada kejadian sehari yang lalu, saat Alfa berbuat tidak senonoh padanya. “Aku nggak pernah tahu apa yang akan kulakukan ke dia.”
Cyra mengangguk. “Eh, tapi soal tugasku ini, kamu mau bantuin kan?”
“Nggak bisa.”
“Ayo, dong. Pliiiis!”
Zaki tidak mau mendengarkan rengekan Cyra lebih lanjut. Rengekan itu bisa saja membuatnya semakin gemas hingga akhirnya luluh. Kalau hatinya luluh, bisa-bisa aksi marahnya tidak kelihatan horor lagi. Zaki berpaling menyembunyikan seulas senyum yang terbit di wajahnya, melenggang meninggalkan Cyra, berjalan menuju garasi. Ia memundurkan mobil dan mengeluarkannya ke pekarangan rumah.
Tiba-tiba ia terkejut saat mendengar suara hentakan pintu di sebelahnya, ia menoleh dan mendapati Cyra yang sudah duduk manis di sisinya.
“Boleh nebeng, ya?” Cyra mengedip-ngedipkan matanya seperti sedang kelilipan.
Zaki menjalankan mobil tanpa memberi jawaban. Mana mungkin ia bisa menolak permintaan Cyra. Justru kalau bisa ia duduk bersisian dengan Cyra sepanjang hari. Namun Zaki tidak mengubah ekspresi wajahnya, tetap sadis.
Mobil melintasi pagar dan kini melaju di jalan raya.
Sepanjang perjalanan, Cyra sibuk menulis, menyelesaikan tugas yang masih terbengkalai. Ia juga sibuk bertanya pada Zaki saat terkendala dalam mengerjakan tugas. Terpaksa Zaki menjawab dan menjelaskan jawaban meski dengan nada bicara yang tidak bersahabat.
TBC