PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 44


“Bang! Abang di dalam?” Terdengar teriakan dari luar.


Arkhan sangat mengenal suara itu. Tak lain suara Reza.


“Ya, aku di dalam. Pintunya kekunci, Reza,” jawab Arkhan.


Reza menggerak-gerakkan knop dari luar. “Bentar, Bang, biar kubuka pake kunci. Bisa apa enggak.”


Terdengar suara kunci diputar dari luar, tapi macet.


“Iya, Bang knop macet. Ya udah, aku dobrak dari sini, ya! Jangan dekat pintu, Bang!”


Arkhan mundur tiga langkah. Terdengar suara tubuh dibanting ke pintu beberapa kali, hingga akhirnya pintu pun terbuka.


“Oh, Abang di sini? Pantesan pintu depan kebuka.” Reza berjalan masuk kamar, namun kemudian ia kembali melangkah mundur saat matanya beradu pandang dengan Zalfa. “Eh, Bang, maaf. Kupikir Abang sendirian tadi.” Reza melangkah keluar dengan kikuk dan penuh rasa segan. “Silahkan dilanjutin, sory ganggu.”


Muka Zalfa sontak emmerah mendengar pernyataan Reza. Seakan-akan dia dan Arkhan baru saja melakukan perbuatan tidak pantas. Zalfa berjalan keluar kamar diikuti oleh Arkhan.


Ah, kenapa Arkhan harus berjalan di belakang Zalfa? Hingga membuat Reza yang sedang membuka kulkas dan mengambil minuman dari pintu kulkas tersebut melirik Zalfa dan Arkhan dengan lirikan penuh penilaian.


“Aku pergi dulu,” ucap Arkhan.


“Kemana, Bang?”


Arkhan menoleh ke arah Zalfa, kemudian berkata, “Mengantar gadis ini pulang.” Arkhan menunjuk Zalfa dengan dagunya.


“Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri,” sahut Zalfa dan menatap Arkhan tajam.


“Kamu tahu apa yang baru aja terjadi dengan kita, bukan? Jangan sampai aku menangisimu akibat kematianmu.” Altahf menaikkan alis dengan santainya.


Dih! Pria ini! Bisakah dia tidak berbicara sengawur itu? Zalfa gedeg sekali.


“Lepasin! Aku bisa jalan sendiri.” Zalfa menghentakkan tangannya namun tidak membuat pergelangan tangan mungil itu terlepas dari pegangan Arkhan.


Arkhan menatap tajam mata bulat Zalfa dan mendekatkan tubuhnya ke arah Zalfa, membuat gadis itu mundur selangkah untuk memberi jarak.


“Kamu benar-benar keras kepala.” Arkhan melepaskan tangan Zalfa dengan menghentaknya, membuat pangkal lengan tangan Zalfa terasa ngilu.


Reza mengamati perdebatan anatara Arkhan dan Zalfa dengan seksama. Ia seperti menikmati keadaan di hadapannya. Di matanya, pasangan yang sekarang ia lihat itu benar-benar unik dan mengesankan.


“Bang, mobil Abang nggak ada di depan. Abang pakai apa ke sini tadi?” tanya Reza berhasil membuat perhatian Arkhan beralih ke arah pemuda itu.


“Jemputlah mobilku. Nanti kukirim alamatnya melalui WA. Nggak jauh kok dari sini. Tapi jangan pergi ke sana sendirian. Bawa montir. Mobilku bocor akibat kena tembakan Mario. Berhati-hatilah, kalau ada apa-apa, telepon aku!”


“Baik, Bang! Nanti kujemput mobilmu.”


“Aku pinjam mobilmu.” Arkhan menjulurkan tangan dan Reza yang memahami maksud perintah itu, langsung melemparkan kunci mobil yang baru saja ia rogoh dari kantong celana.


Zalfa tidak memperdulikan perbincangan Arkhan dan Reza, ia berjalan keluar dengan langkah lebar. Namun baru beberapa langkah meninggalkan pintu rumah, kulit Zalfa meremang melihat gelapnya malam di depan matanya. Ia tidak takut gelap, ia hanya takut para penjahat bersenjata api itu muncul dan melukainya. Bahkan suasana di sekitar sana sangat sepi. Jauh dari perumahan.


Krosak!


Bunyi aneh dari balik bunga rimbun yang bergoyang membuat Zalfa terkesiap dan ia langsung balik badan untuk segera lari.


Bruk!


Zalfa menghantam tubuh Arkhan sesaat setelah balik badan, pantulan tubuhnya yang begitu kuat membuat tubuh mungilnya terhuyung hendak tumbang.


TBC