PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
115. Harus Profesional


“Ingat hari ini kamu ada ujian, awas kalau nilaimu jelek.” Zaki menyeletuk.


“Iya aku tahu. Kan kamu dosennya. Jadi aman.”


Zaki menoleh memperlihatkan muka sangarnya. “Jadi kamu menyepelekanku?”


“Maksudku bukan gitu, masak sih kamu mau ngasih nilai rendah sama calon istrimu ini?”


Lagi-lagi Zaki menoleh dan menaikkan alis. Namun ia tidak berkomentar. Pandangannya kembali ke depan. Menatap rintik gerimis yang mulai jatuh membasahi jalanan.


“Kamu nggak takut sama respon anak-anak di kampus nanti saat melihatmu berada dalam satu mobil ebrsamaku?” tanya Zaki.


“Emangnya apa yang harus ditakuti? Aku kan hanya sekedar numpang doang. Apa bedanya saat kamu numpangin mahasiswi lainnya?”


“Setidaknya anak-anak tahu hubungan antara aku dan kamu.”


“Kita kan harus profesional, dong.”


Zaki mengacak rambut Cyra sekali usap, membuat Cyra nyengir.


“Kamu udah siap untuk ujian hari ini?” Zaki memulai pembicaraan setelah beberapa menit jeda kosong diantara keduanya.


“Setiap hari siap terus, kok.” Cyra menjawab dengan mantap.


“Yakin?”


“Yakin.”


“Untuk menyelesaikan tugas per minggu aja selalu ngeluh dan banyak yang terbengkalai, gimana mau siap menjemput sederet tugas penting ke depannya?”


Zaki cukup salut dengan keyakinan Cyra.


“Setelah aku lulus kuliah nanti, apa kamu mau ngelamar aku?” ceplos Cyra kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan merasa kelewat berani menanyakan hal sesensitif itu.


Zaki menoleh dan tersenyum. “Cincin udah dibeli. Kedua orang tua kita juga udah ngerestuin. Apa lagi? Aku ingin memilikimu seutuhnya. Kita nggak perlu nunggu waktu lama lagi, kan?”


“Huuh… Aku udah nggak sabar pengen segera lulus kuliah. Semoga aku lulus. Amiin.” Cyra menatap ke depan.


“Kenapa pengen cepet-cepet lulus? Apa udah nggak tahan kebelet kawin?” ceplos Zaki membuat Cyra terbelalak lebar.


“Enggak gitu juga kali. Aku tuh rasanya udah cukup puas ngerasain kerasnya bangku kuliah. Mulai dari kerasnya ospek, perilaku senior ke junior yang selalu penuh penekanan, terutama di ruang HIMA. Juga sikap tegas para dosen. Khususnya aku rasakan saat kuliah di tahun ke dua. Tugasnya bejibun. Hampir setiap hari bahkan saat wiken pun aku harus ngerjain laporan karena memang ada tugas setiap minggunya. Serangan bertubi-tubi dari tugas-tugas yang numpuk makin nggak masuk akal. Saking banyaknya, laporan tugas yang seabrek itu kalau ditumpuk bakalan bisa dikiloin dan dijual ke tukang loak. Materi kuliah makin lama makin sulit. Bikin aku jadi stres. Belum lagi pas menghadapi UTS semester, widiiih… itu rasanya kayak mau nemuin malaikat pencabut nyawa aja. Serem. Bangku kuliah bener-bener keras, Zak. Kamu pasti juga ngerasain, kan?”


“Bangku kuliah jelas keraslah, Cyra. Apa lagi bangku kuliahmu terbuat dari besi, bisa ompong gigimu kalau gigit barang sekeras itu.”


Cyra menatap Zaki sebal. “Aku serius.”


Zaki terkekeh.


Mobil memasuki area pekarangan kampus, Zaki memarkirkan mobil di parkiran paling ujung.


Deheman dan siulan terdengar meramaikan area parkrir saat Cyra turun dari mobil bersamaan dengan Zaki.


Zaki tidak menanggapi tingkah anak-anak yang sedang berusaha meledeknya itu. Dengan langkah lebar, ia melenggang penuh wibawa menuju gedung kampus, meninggalkan Cyra yang berjalan dengan langkah pelan dan menghampiri Rere.


Rere yang sedang asik membahas materi kuliah bersama dua temannya di dekat parkiran pun tersenyum melihat kedatangan Cyra.


TBC