
Zaki mengerang menahan rasa sakit di rahangnya, juga kulit di dalam mulutnya yang terantuk gigi hingga mengeluarkan darah.
Sebenarnya siapa manusia yang ada di hadapannya kini? Betapa ia terlihat seperti monster mengerikan, dan benarkan Alfa yang akan menjadi perantara untuk mengambil nyawanya?
“Arrrggkh…” Zaki berteriak saat kakinya ditendang sangat kuat hingga tulang kakinya terasa seperti retak.
“Ini belum seberapa, Bapak Zaki yang saya hormati. Akan ada lagi hadiah menarik yang Anda harus terima. Saksikanlah bagaimana pisau ini akan membentuk luka di kulit Anda. Rasakan nikmatnya.” Alfa jongkok di hadapan Zaki, satu lututnya dijadikan alas. Ia menunjukkan sebilah pisau, lalu mengeluarkan korek api dari kantong celananya. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian saat ia menyalakan korek api dan membakar ujung pisau dengan api berwarna biru tersebut.
Zaki menatap pisau itu dengan mata menyipit, keringat di sekujur tubuhnya mengalir deras. Tetes-tetes air dari wajahnya mengalir membasahi lantai. Seluruh organ tubuhnya terasa lemas, sakit dan ngilu akibat hantaman yang ia terima.
Beberapa menit kemudian, Alfa mematikan korek api. Lalu telunjuknya menyentuh pisau panas tersebut.
“Awh! Panas!” ujarnya sembari mengibaskan tangannya. Ia memperlihatkan telunjuk jarinya yang sedikit melepuh akibat sentuhan di pisau panas barusan. “Ini panas, Pak Zaki!” Alfa membuka sepatu yang dikenakan Zaki. Lalu kaki kanan Alfa menginjak pergelangan kaki kanan Zaki, tangannya menekan pisau itu ke telapak kaki Zaki, menusuk dan menggoresnya hingga meninggalkan luka menganga sepuluh centi meter.
Erangan keras meluncur keluar dari mulut Zaki. Tubuhnya bergetar merasakan betapa panas benda yang menyentuh telapak kakinya.
“Mau lagi?” Mata Alfa menyorot tajam ke mata Zaki yang mulai sayu.
Tubuh Zaki semakin terasa lemas merasakan luka di telapak kakinya, juga pergelangan kakinya yang terasa ngilu akibat dipijak oleh kaki Alfa.
“Bagaimana rasanya? Anda menikmatinya?” Alfa mendekatkan wajahnya ke wajah Zaki.
Kepala Zaki terkulai lemas dan pipinya menempel di lantai. Ia terbatuk merasakan debu yang berkeliaran di sekitarnya.
“Katakan, Anda masih mau lagi?” Alfa menarik rambut Zaki, membuat kepala Zaki mendongak mengikuti arah tarikan tangan Alfa. “Anda adalah orang paling beruntung karena menjadi orang yang pertama kali merasakan sentuhan tangan saya.”
“Kau… Kau psikopat.”
“Ya. Katakan saja apa yang ingin anda katakan sebelum maut menjemput. Karena jika nyawa Anda sudah melayang, Anda tidak akan lagi bisa bicara. Sekarang bicaralah sepuasnya!” Alfa berdiri, lalu membuka ikatan di tangan Zaki. Ia menendang kursi hingga menjauh dari badan Zaki.
Zaki merasa keram pada lengannya. Meski ikatan di tangannya sudah dilepas, namun aliran darah di pergelangan tangannya seperti terhambat akibat ikatan yang begitu kuat. Ia menarik tangan kirinya ke depan, ia menapakkan tangan kirinya itu ke lantai, ingin menelentangkan tubuhnya yang kini di posisi miring. Namun dalam kondisi tangan kirinya yang masih berada di belakang badan, rasanya ia tak kuasa menelentangkan tubuh. Erangan pun kembali terdengar saat ia menggerakkan kaki dan tulang betisnya terasa ngilu.
Alfa mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi, lalu menginjak punggung Zaki dan menekannya kuat. Tak perduli meski ia mendengar erangan dari mulut Zaki. Entah sudah berapa kali ia menghentakkan kakinya di punggung dosennya itu. Alfa juga menginjak kuat-kuat lengan kanan Zaki.
TBC