
Cyra melirik ke samping, tepat ke wajah tampan di sisinya. Tidak sia-sia ia memiliki pria idaman seperti Zaki. Disamping ganteng, juga penuh dengan nasihat, meskipun galak.
“Kenapa ngeliatin aku terus?” tanya Zaki tanpa menoleh pada Cyra. Ekor matanya menangkap arah pandang mata Cyra yang tertuju ke wajahnya.
Ups, kepergok lagi mandangin muka si ganteng. Cyra segera mengalihkan perhatian ke depan dengan senyum sipu.
“Kita mampir ke kafe atau restoran dulu, yuk. Laper, nih.” Cyra menatap bangunan restoran yang dilintasi.
“Nggak usah. Kita langsung pulang aja,” celetuk Zaki.
Iiih… Zaki tea amat. Nggak tahu pacar lagi kelaperan apa? Tega-teganya bilang langsung pulang.
“Aku tadi pagi nggak sempet sarapan, jadi sekarang udah laper,” rengek Cyra mencari perhatian.
Sayangnya Zaki malah kelihatan cuek. Ia fokus menyetir tanpa menghiraukan rengekan Cyra.
“Kamu tega kalau aku kena maag?” ucap Cyra lagi.
“Sebentar lagi kita sampai.” Zaki menambah kelajuan mobil.
Cyra mendengus. Tumben banget Zaki tidak mau menuruti permintaannya, ada apa dengan Zaki? Zaki emmang selalu kayak bunglon, sebentar-bentar berubah. Sulit ditebak. Lihatlah, dia sekarang dingin banget.
“Berenti sebentar!” pinta Cyra.
“Ngapain?” Zaki tidak menoleh.
“Aku mau beli burger aja. Buat ganjel perut.”
Zaki menggeleng.
“Iiih… Zaki kenapa, sih?” Cyra mulai kesal.
“Cyra, lima menit lagi kita sampai rumah. Kamu bisa makan di rumah aja.”
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah Cyra.
Cyra melepas sealtbelt. Tapi benda yang melilit di perutnya itu tak kunjung terlepas setelah beberapa detik Cyra berusaha melepasnya.
Ya ampun, ini benda kenapa juga nggak mau diajak kompromi disaat begini. Lagi gondok-gondoknya sama Zaki, ditambah sabuk yang bikin tambah gondok. Sebeeel…
Cyra tersentak saat mencium aroma wangi yang tiba-tiba merasuk ke rongga pernafasannya. Ternyata Zaki sudah berada sangat dekat dengannya, dan aroma wangi itu berasal dari tubuh Zaki. Pria itu membantu Cyra melepaskan sealtbelt, otomatis tubuh Zaki kini berada di jarak dua centi saja dari hadapan Cyra.
“Ya gini jadinya kalau ngelepas sabuk pengaman dengan hati gondok. sabuknya nggak terlepas-lepas jadinya.” Zaki menunjukkan caranya melepas sealtbelt hanya dengan sekali sentuh.
Cyra tidak menanggapi, ia berpaling hendak turun saat sealtbelt sudah terlepas. Tubuhnya tertahan tak bisa bergerak akibat tangan Zaki yang menahan lengan kanannya.
“Aku menyuruhmu cepat pulang supaya kamu punya banyak waktu untuk belajar di rumah. Besok kamu harus kembali bertempur menghadapi ujian, jangan lagi ada alasan kekurangan waktu belajar. Dan akhirnya semua itu dijadikan alasan untuk nyontek. Paham?” tutur Zaki dengan lembut, matanya menatap lekat mata Cyra.
Sontak organ tubuh Cyra melemas mendapat tatapan Zaki yang terkesan romantis.
“Kalau kita mampir ke kafe, pasti akan banyak waktu terbuang.” Zaki mendaratkan kecupan beberapa detik di kening Cyra.
Nyesss…
Seperti ada yang menyiram hati Cyra dengan air es saat bibir dingin Zaki mendarat lama di kenaingnya.
“Pulanglah!” Zaki memundurkan tubuhnya. “Untuk seminggu ke depan, kita nggak akan ketemu di kampus. Aku ambil cuti soalnya. Biar kamu bisa konsentrasi ujian.”
Cyra segera turun dari mobil tanpa memberi jawaban apapun. Jantungnya deg-degan. Akibatnya mulutnya jadi membungkam. Dari pada salah ngomong, mendingan diam dan ngeloyor pergi.
Cyra menyesal sudah merasa dongkol pada Zaki, ternyata dibalik sikap Zaki, justru pria itu sangat memperhatikannya. Cyra berlari masuk ke rumah tanpa mau menoleh ke belakang.
TBC
KLIK LIKE