PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 91


Zalfa tengah duduk di meja kerjanya, di sebuah ruangan khusus yang lengang. Ia mengecek pemasukan yang diinput di laptop. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan seorang pelayan yang berteriak memanggil. Pelayan menerobos masuk ke ruangannya.


“Kak, liat ke luar. Mobil Kakak,” seru pelayan tergopoh-gopoh.


“Mobilku kenapa?” Zalfa mengernyit heran.


“Itu… Itu Kak. Ayo, keluar lihat!”


Zalfa geleng-geleng kepala mendengar penjelasan pegawainya yang patah-patah. Ia kemudian meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti pelayan keluar menuju parkiran di depan kafe.


Lagi, ia dikejutkan dengan kondisi mobilnya yang kacau. Kaca sampingnya coreng-moreng. Kali ini bukan menggunakan kapur. Tapi pilok. Zalfa membeku sesaat.


“Loh, mobilnya kenapa, Kak?” pegawai pria menghampiri Zalfa.


“Ada yang jahil,” jawab Zalfa sembari geleng-geleng kepala.


“Waa… kelewatan ini mah, Kak. Siapa yang melakukannya?” Pegawai itu kelihatan sangat kesal.


Pandangan Zalfa dan pegawai tersebut terfokus ke sumber suara di balik pagar toko sebelah. Tampak Elia tengah sibuk mengusap-usap lengannya yang digigiti semut merah, sikunya mengenai pagar hingga menimbulkan suara berisik.


“Dia lagi,” celetuk Zalfa dan kemudian menarik nafas mengumpulkan kesabaran.


“Apa bocah itu yang mencoret-coret mobil Kakak?” tanya pegawai dengan mata tajam.


“Biarin aja, jangan ditegur!” sergah Zalfa sembari menarik lengan pegawainya yang hendak mendekati Elia.


“Gimana bisa dibiarin, Kak? Ini kelewatan. Laporin aja ke polisi biar tau rasa. Biar orang tuanya tau kalo anaknya nggak bermoral.” Pegawai itu melepaskan pegangan Zalva kemudian berjalan menuju ke arah dimana Elia berdiri. “Kesini kau!”


Elia berlari menjauh sambil menoleh dan menjulurkan lidah. “Weeek…. **** you!” serunya sembari mengacungkan jari tengah ke arah Zalfa. Ia menyeberangi jalan dengan terburu-buru hingga hampir terserempet mobil yang melintas. Kemudian terus berlari hingga memasuki pagar sekolahnya.


“Woi… Dasar nggak punya otak lo ya?” pegawai itu memaki kesal.


Zalfa berlari mengejar pegawainya dan menahannya. “Udah, jangan!” Zalfa memegangi lengan pegawainya.


“Kenapa, Kak? Bocah itu pake baju sekolah tapi otaknya kayak nggak terdidik. Berandalan gitu. liat aja, jam segini bukannya ada di sekolah, malah keluyuran,” ujar pegawai dengan kesal.


Pegawai tersebut terdiam. Menyadari majikannya yang bukan seorang pendendam.


“Masuklah ke dalam!” titah Zalva.


Pegawai mengangguk patuh dan memasuki kafe.


***


Usai berjibaku di kafe, sore itu Zalfa ingin segera pulang. Ia keluar kafe dan berjalan menuju mobilnya. Pada saat tubuhnya menyelinap masuk ke mobil, pandangannya sempat bertemu dengan mata pria yang dulu menjadi tambatan hatinya, tak lain Faisal. Ya, pria itu sedang melintas, menyetir mobil dalam keadaan jendela mobil yang terbuka. Zalfa yakin Faisal sengaja melintas di sana hanya sekedar untuk melihat kondisinya, atau sekedar untuk melepas rindu.


Deg! Jantung Zalfa berdentum saat matanya bertatapan dengan mata Faisal. Mobil yang dikendarai Faisal terus melaju hingga pandangan mereka terputus. Masih terasa degupan jantung dan debaran yang tak karuan sampai detik ini di dada Zalfa, namun di sisi lain ada rasa berdosa telah mengagumi pria selain suaminya. Berkali-kali ia beristighfar dalam hati, berharap dosa yang baru saja ia lakukan akan terkikis dan diampuni. Kenapa ia harus diberi rasa tidak nyaman dan merasa berdosa saat hatinya memikirkan pria selain suaminya? Rasa itu seakan merong-rong batinnya hingga membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


Di kejauhan sana, tepatnya di seberang jalan terlihat Elia tengah berdiri kepanasan di tepi jalan. Sesekali lengannya mengusap keringat di pelipis. Pandangannya terus tertuju ke arah kiri jalan. Ia sedang menunggu kendaraan umum melintas. Teman-temannya yang lain berlalu.


Zalfa memutari pembatas jalan dan sengaja berhenti tepat di depan Elia. Ia membuka kaca mobil.


“Halo…” sapa Zalfa diiringi senyuman manis. “Mau ikut? Akan kuantar sampai ke rumah. Ayo!”


Elia menatap sinis. Kemudian memalingkan wajah kasar.


Zalfa tidak putus asa. “Apa kamu mau berdiri di situ sampai kulitmu menghitam? Kamu cewek loh, pasti akan keliatan jelek kalo kulitmu jadi kusam.”


Ucapan Zalfa berhasil membuat Elia merasa terancam. Bola matanya melirik lengan tangan. Di perbatasan kulit ujung lengan baju terlihat belang hanya dalam waktu sekejap. Bagian yang tertutup terlihat putih, dan yang tersengat matahari mulai menghitam. Matahari benar-benar terik, sebentar saja mampu menyulap kulit putihnya menjadi belang.


“Ayo!” ajak Zalfa.


Berhasil. Elia berjalan mendekati mobil dan masuk. Ia tidak duduk di sisi Zalfa, melainkan di jok belakang.


Mobil melaju.


TBC