
Tiga puluh menit berlalu.
Arkhan membaringkan tubuhnya di sisi Zalfa.
Hening.
Hanya terdengar suara nafas Arkhan yang berhembus keras dan berpacu cepat. Perlahan-lahan, nafas itu kembali normal. Arkhan menoleh ke arah Zalfa yang berbaring di sisinya, berselimut bad cover tebal sampai ke leher. Ya, wanita itu menutupi tubuhnya sampai ke leher, bahkan dagunya juga hampir tersentuh selimut. Arkhan hanya bisa menatap sebagian wajah Zalfa. Meski Zalfa berbaring dalam keadaan menelentang, namun wajahnya berpaling dari Arkhan.
“Kamu menyesal?” tanya Arkhan sembari duduk untuk dapat menjangkau ekspresi wajah Zalfa.
Namun Zalfa justru menyembunyikan wajahnya yang malu-malu dengan cara berpaling dari tatapan Arkhan. “Ini udah kewajibanku.”
Arkhan mengangguk lega. Sebab awalnya Zalfa menganggap pernikahan mereka bukanlah pernikahan sesungguhnya, dan di pandangan Zalfa pada mulanya Arkhan tidak berhak meminta kepuasan batin, tapi Arkhan telah melanggar hal itu. sukurlah jika Zalfa mengubah pandangannya itu.
Arkhan menjulurkan tangannya dan meraih dagu Zalfa, kemudian memaksa wajah itu berputar menghadapnya.
“Aku minta maaf udah membuatmu merasa takut.” Arkhan menggeser tubuhnya mendekati Zalfa. Ia setengah duduk dengan siku tangan menopang di kasur untuk menahan posisi tubuhnya. Kemudian tangannya menyusup masuk ke dalam bed cover dan meraba lengan Zalfa, ia menyentuh jemari wanita itu.
Zalfa tidak menjawab, hanya menatap tatapan teduh pria di hadapannya. Ia tidak menyangkan jika pria searogan Arkhan bisa selembut itu, bahkan menghargainya sebagai wanita dengan meminta maaf.
“Apa kamu menikmati hubungan kita tadi?” lirih Arkhan.
Bukannya menjawab, muka Zalfa justru merah merona. Wanita itu memalingkan pandangannya kemudian bangkit bangun sembari melilitkan selimut tipis ke tubuhnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Arkhan tersenyum tipis melihat tingkah istrinya.
Sepanjang berjalan menuju kamar mandi, Zalfa menundukkan kepala menatap ke arah lantai.
“Hah?” kejut Zalfa saat ia menabrak sesuatu yang keras berotot. Ia menatap Arkhan yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya hingga tanpa sadar ia menubruk tubuh pria itu.
Arkhan memasukkan ujung tangannya ke kantong celana pendek yang dia kenakan. “Mau mandi?”
“Ya.”
“Ayo ke kamar mandi bersamaku, akan kubantu membersihkan tubuhmu.”
“Ah, enggak!” Muka Zalfa semakin merona merah. “Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Enggak!” Zalfa melewati Arkhan masih dengan wajah menunduk yang rasanya memanas. Astaga entah kenapa dia malu sekali setelah melakukan hubungan yang dia nikmati itu, dan ia yakin Arkhan pasti mengetahui kenikmatan yang Zalfa rasakan mengingat pria itu memperhatikan setiap ekspresi yang tercipta di wajah Zalfa saat kejadian tadi berlangsung.
Dasar laki-laki! Dia sengaja menggodaku! Zalfa membatin geram.
Lagi-lagi, sudut bibir Arkhan tertarik sedikit menatap Zalfa yang melintasinya dan kemudian istrinya itu masuk ke kamar mandi.
Usai mandi, Zalfa bingung karena ia lupa membawa handuk atau pun kimono ke kamar mandi. Lalu bagaimana ia akan keluar kamar tanpa handuk? Tidak mungkin ia kembali melilitkan selimut yang sudah kotor oleh noda ke tubuhnya.
Dengan degup jantung yang berdetak kencang, Zalfa menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang tertutup.
“Arkhan!” panggil Zalfa.
“Hm. Ya?” jawab Arkhan dari luar.
“Bisa aku minta tolong?”
“Apa?”
“Tolong ambilkan handukku.”
“Dimana?”
“Di balkon, kujemur di sana.”
Tidak terdengar jawaban. Tak lama kemudian terdengar suara Arkhan di dekat pintu luar. “Ini handuknya.”
“Julurkan aja ke dalam kalau aku udah membuka pintunya,” seru Zalfa dengan muka yang entah kenapa mendadak memanas.
“Ya.”
Zalfa membuka pintu sedikit, kemudian tangan Arkhan menjulur masuk memberikan handuk. Zalfa meraih handuk itu dan melilitkan ke tubuhnya.
TBC