PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 108


“Baiklah. Kalau begitu kembali ke masalah awal, kamu nggak keberatan kalau aku kembali meminta untuk menyentuh tubuhmu bukan?”


Zalfa memutar mata. ia harus menjawab apa? Pertanyaan Arkhan kedengaran konyol.


“Bisakah pertanyaanmu diganti?” tanya Zalfa kikuk. Ia memutar badan hendak menghindari Arkhan, namun pria itu meletakkan telapak tangannya ke dinding sisi sebelah kanan tepat Zalfa berdiri.


Zalfa menoleh ke kiri dan kanan, kedua lengan Arkhan mengunci gerakan tubuhnya.


“Mau kemana? Kita belum selesai berbicara.” Arkhan menaikkan alis.


“Arkhan, aku ini istrimu. Kamu bebas melakukan apa saja atas aku.” Zalfa akhirnya menyerah dan mengucapkan kalimat itu.


“Wajar aku bertanya begitu, sebab sejak awal kamu yang membuat kesepakatan agar kita menikah tanpa hal itu kan?”


Zalfa terdiam. Arkhan benar. Awalnya Zalfalah yang membuat kesepakatn gila itu. kesepakatan yang tentunya melanggar agamanya hanya demi ingin bisa kembali pada Faisal. Tapi kini semuanya telah berubah, pengaruh kata-kata Ismail sangat besar dalam pikirannya.


“Sekarang hanya ada kita, aku dan kamu,” ucap Zalfa lirih. Entah kenapa jantungnya berdegup-degup melihat tatapan Arkhan yang nanar seakan menembus matanya. Bahkan tubuhnya membeku di tempat saat wajah pria itu maju mendekati wajahnya. Pria itu memiringkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya yang dingin ke bibir Zalfa.


Zalfa hanya bisa diam ketika akhirnya ia pun membalas setiap gerakan bibir pria itu. demi apapun, tubuh Zalfa merasa seperti tersengat listrik. Padahal Arkhan bukanlah lagi orang asing dalam hidupnya, bahkan ia sudah melakukan hal yang lebih jauh dari itu. tapi tetap saja, ia masih merasa kikuk.


“Kita keluar sekarang!” ucap Arkhan sesaat setelah menjauhkan kepalanya. Ia melenggang keluar ruangan.


Zalfa mengikuti Arkhan hingga sampai ke depan rumah. Arkhan menekan tombol di samping pintu garasi kemudian pintu bergerak ke samping dan terbuka lebar. Zalfa terbengong menatap isi garasi yang dapat ia jangkau melalui posisinya yang berdiri di teras. Ia melangkah pelan memauki garasi yang ukurannya sangat luas. Bak sedang memasuki showroom mobil, Zalfa mengedarkan pandangan ke ruangan itu, garasi diisi dengan berbagai jenis mobil sport dan mobil elit.


Ternyata jam tangan yang tadi dia lihat belum seberapa jika dibandingkan dengan puluhan mobil elit yang terpajang di sana.


Zalfa hanya diam menatap Arkhan. Ia harus bicara apa? Pria itu sudah lebih dulu memberi kalimat skak mat padanya.


“Ada sembilan mobil klasik, tiga puluh sembilan mobil sport, dan sembilan belas mobil mewah yang bermacam merk. Harga termahal empat milyar lebih. Aku mengoleksi mobil-mobil ini karena hobi. Cukup jelas?” Arkhan menjelaskan sebelum Zalfa menanyakannya seperti menanyakan jam tangannya tadi.


Kalau boleh pingsan, Zalfa lebih memilih pingsan saja. Nilai kekayaan Arkhan benar-benar membuatnya semakin shock. Siapa sebenarnya pria yang dia nikahi itu?


“Kamu mau pakai mobil yang mana?” Arkhan membuka laci meja di sudut ruangan yang di dalamnya terdapat berderet kunci mobil.


“Zalfa!”


Suara panggilan dari arah belakang membuat Zalfa dan Arkhan menoleh. Mereka mendapati Atifa yang berdiri dengan senyum lebar.


“Mbak Atifa, ada apa? Kok, Mbak ke sini? Bagaimana Mbak tahu kalau ini alamat rumahku sekarang? Eh maksudku, alamat rumah Arkhan.” Zalfa mendekati Atifa. Seingatnya, ia belum pernah memberitahukan alamat rumah tersebut.


“Mm… Aku kebetulan lewat dan ngeliat kamu di sini,” jawab Atifa dengan ekspresi cerah.


“Memangnya Mbak mau kemana? Kok, tumben lewat sini? Mbak sama siapa? Naik apa?” berondong Zalfa.


“Tadi tuh lagi jalan-jalan aja. Aku sendirian, naik ojol. Kamu sendiri mau kemana rapi banget begini?” Atifa mengamati penampilan Zalfa.


“Ke mol sama Arkhan.”


TBC