PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
222. Extra Part 32


“Mama nggak usah minta maaf. Aku ngerti kok gimana perasaan mama, seorang mama yang hanya memiliki anak semata wayang dan bagaimana besarnya keinginannya untuk mengharapkan cucu. Aku ngerti banget, Ma,” ucap Cyra sambil terus menyuapi Alya makan.


Hadeeeuh… dalam hati kecil Cyra sebenarnya bertolak belakang dengan kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Bagaimna amungkin ia bisa mengerti dengan keputusan mertuanya yang meminta supaya suaminya menikah dengan perempuan lain. Emangnya baju bisa ganti ganti? Emangnya Zaki itu teh celup bisa celup sana celup sini? E eeh… Cyra mikir apa sih? Kok, sampai ke celup-celupan segala? Membayangkan Zaki bobok bareng cewek lain aja ngilunya sampai ke ulu hati, bagaimana mungkin ia bisa rela suaminya itu menghamili wanita lain?


“Mama bener-bener menyesal udah sia-siain kamu. Mama juga nggak tahu kok bisa nggak sesabar ini saking kepinginnya punya cucu sampe-sampe minta Zaki nikah lagi. Dan hebatnya, kamu masih bisa sebaik ini sama mama, bahkan kamu juga masih tertsenyum terus menanggapi mama,” ucap Alya penuh penyesalan.


Sebenernya sih kepingin nagis kejer trus nyakar-nyakar dinding atau guling-guling ke tanah. Ah, tapi malah jadi kayak orang gila. Jadi mendingan menghadapi masalah dengan senyum meski hati terasa sakit.


Tiba-tiba pintu terbuka, tampak Zaki berdiri di ambang pintu.


Cyra dan Alya menoleh ke arah Zaki yang baru saja datang. Pria itu tersenyum melihat Cyra memegang mangkuk sup dan menyuapi mamanya.


“Aduh!” Alya berteriak kesakitan.


Cyra sontak menoleh ke arah mama mertuanya. Looh… lha kok sendok yang seharusnya dia suapkan ke mulut Alya malah nyeruduk ke mata mertuanya itu? Buset, Cyra benar-benar jadi menantu durhaka. Sekarang giliran dia yang bahlul. Gara-gara menoleh dan ngeliatin senyuman Zaki yang manisnya bikin takjub, muka mertua jadi korban. Sendok pun nyasar smape ke mata. Haduh…


“Eh maaf, Ma. Nggak sengaja.” Cyra menyambar tisu dan mengelapkannya ke mata Alya.


Alya kelimpungan merasakan matanya yang pedih bukan main.


“Pst.. Cyra!” Zaki menggelengkan kepala melihat tangan Cyra yang tengah membersihkan sekeliling mata Alya yang terpejam.


Zaki kemudian mendekati Cyra dan mengambil benda di tangan istrinya yang digunakan untuk membersihkan mata Alya.


“Muka mama bukan meja, jangan dibersihin pake kain lap. Ya ampun, Cyra,” bisik Zaki sembari melempar kain lap yang baru saja dia rampas dari tangan Cyra ke meja.


Heh? Cyra membelalak kaget. Kain lap? Mata Cyra sontak menatap kain lap yang baru saja dilempar oleh Zaki dan kini teronggok di meja. Astaga, jadi yang dia sambar tadi bukan tisu? Melainkan kain lap? Tambah durhaka deh jadi mantu. Muka mertua diobok-obok pakai kain lap. Gawat nih kalau sampai dikutuk beneran jadi jangkrik.


“Ayo, Ma. Kita ke kamar mandi aja, biar dibersihinj di kamar mandi.” Cyra meraih bahu Alya dan membimbingnya berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi.


Langkah Alya sedikit pincang akibat kakinya yang terpeleset tadi.


Dengan begitu sabar Cyra membantu Alya membasuh muka, mengelap dnegan handuk dan kembali membimbing ke kasur.


“Maafin aku ya, Ma. Aku bener-bener nggak snegaja,” ucap Cyra menyesali perbuatannya.


“Nggak apa-apa, Cyra. Mama tahu kok.” Alya mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengusir sesuatu yang menggenjal di balik kelopak matanya. Mungkin ada segumpal kecil makanan yang nyelip di sana.


Cyra benar-benar merasa bersalah dan tidak tega melihat Alya seperti orang kelilipan.


TBC