
Beberapa jam telah berlalu dan Zalfa kini duduk di atas sajadah setelah selesai melakukan shalat isya. Kedua tangannya menengadah, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Siapa lelaki yang harus dia jadikan suami terakhir dlaam hidupnya, di Tangan Allah-lah segala urusan menjadi mudah. Karena hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untuk dirinya.
Zalfa menyudahi doanya. Kemudian melipat sajadah dan mukena. Ponsel berdering. Zalfa mendekati meja dimana ponselnya kedap-kedip seiring dengan nada dering yang memecah keheningan. Jantung Zalfa serasa berdenyut saat melihat nama yang memanggil. Cepat ia mnyambar ponsel. Nomer Faisal memanggil.
Ya Tuhan, perasaan Zalfa semakin kacau. Entah kenapa perasaan berdosa kerap kali muncul merong-rong hatinya saat ia berinteraksi dengan Faisal.
“Assalamu’alaikum.” Suara Zalfa tercekat.
“Wa’alaikum salam, Zalfa.” Sesaat keduanya diam. Hanya keheningan yang tercipta.
“Ada apa, Faisal?”
Faisal tidak langsung menjawab hingga Zalfa dapat mendengar suara nafas Faisal yang berhembus cukup keras. Nafas itu terdengar seperti sedang gusar.
“Zalfa, aku ingin bicara.”
“Bicaralah.” Entah kenapa Zalfa merasa canggung bicara dengan Faisal sekarang. Ternyata Faisal berpengaruh besar dalam dirinya hingga sanggup mengubah sikapnya.
“Aku ingin bertemu denganmu,” lanjut Faisal setelah menarik nafas.
Jantung Zalfa kembali berdegup kencang mendengar mantan calon suaminya itu menyebut nama lelaki bernama Arkhan, lelaki yang kini menempati posisi yang sama seperti Faisal dulu bahkan sekarang telah menjadi suaminya.
“Bicaralah,” lirih Zalfa.
“Tidak di ponsel.”
Kembali hening.
“Ya sudah, aku sms saja.” Suara Faisal terdengar bergetar. Kemudian sambungan telepon terputus.
Tak lama sebuah pesan masuk ke ponsel Zalfa.
Faisal
Aku ingin bertemu denganmu
Ada hal yang ingin kubicarakan
Zalfa
Di rumah.
Faisal
Bersama suamimu?
Zalfa
Tidak
Zalfa terdiam menatap ponselnya. Perasaan Zalfa kini menjadi semakin bimbang, kenapa ia member jalan kepada Faisal untuk mereka bisa ketemuan? Berdosakah dia?
Zalfa menyentuh pelipisnya dengan dua jari. Pusing. Ia lebih baik kebingungan mencari jodoh ketimbang diberi dua pilihan yang sulit seperti sekarang.
Ting tong….
Suara bel pintu membuat Zalfa keluar kamar setelah bel berbunyi tiga kali dan tidak ada seorang pun yang membuka. Ia menuruni anak tangga dan berjalan menuju pintu utama. Tampak Tini berjalan malas keluar dari pintu arah belakang dengan rambut acak-acakan sambil menguap.
“Eh, Kak Zalfa. Maaf Kak, Tini telat buka pintu. Tadi ketiduran,” ucap Tini melihat Zalfa yang sudah berada semeter dari pintu, sementara ia masih jauh dari jangkauan pintu.
“Nggak pa-pa. Balik tidur gih. Biar Kakak aja yang buka pintunya.”
Tini tersenyum dan berbalik meninggalkan ruang uatama.
Zalfa meraih handle pintu dan membukanya. Sosok lelaki berdiri di depan pintu, mengenakan jas abu-abu dengan celana warna senada berdiri membelakangi. Mungkin lelaki itu kelamaan menunggu hingga berdiri dengan posisi membelakangi pintu karena merasa jengah menunggu.
Siapa lelaki itu? Postur tubuhnya tinggi, gagah, rapi dan wangi. Astaga, mirip seperti badan Arkhan. Ah bukan, tapi mirip postur tubuh Faisal. Fisik kedua lelaki itu hampir sama hingga Zalfa sulit membedakan ketika melihat dari belakang begini. Akibat pikirannya yang sedang kacau, sekarang ia sampai tidak bisa mengenali siapa lelaki yang ada di depannya itu.
Aroma wangi lelaki itu tidak asing. Zalfa mencoba mengingat. Tapi kemudian ia menggeleng dan berkata, “Maaf, ada apa?”
BERSAMBUNG