
Zaki menelepon sambil menyandarkan punggung di tiang koridor kelas senior, dimana koridor itu sepi karena jauh dari acara wisuda yang baru saja usai. Seluruh yang hadir bertebaran di sekitar aula, tempat dimana acara baru saja berlangsung. Banyak diantara mereka yang melakukan aksi foto-foto bersama keluarga saat mengenakan pakaian wisuda. Tak terkecuali Cyra. Kemudian gadis itu beralih mendekati teman-temannya.
Zaki mengamati Cyra dari kejauhan, gadis itu sedang berkumpul bersama teman-temannya, berpelukan, cium pipi kiri kanan, saling memberi selamat, dan memperagakan ekspresi terbaik juga terburuk yang mereka abadikan melalui kamera ponsel masing-masing. Keceriaan benar-benar terpancar jelas dari wajah-wajah mereka. Hingar-bingar dan jerit tangis kebahagiaan tumpah-ruah.
Cyra bergerak perlahan meninggalkan serombongan teman-temannya saat pandangan matanya mendapati Zaki yang berdiri nyender di tiang koridor sambil menelepon. Apa yang dilakukan Zaki, menyendiri di tempat itu sambil asik mengobrol melalui ponsel. Cyra berjalan mendekati Zaki.
Zaki menyudahi teleponnya saat melihat Cyra sudah berdiri di hadapannya. Pria itu memasukkan ponsel ke saku jasnya. Lalu memasukkan ujung tangannya ke kantong celananya. Ia menatap Cyra dengan kedua alis terangkat.
“Kamu ngapain di sini? Teleponan sama siapa sampe harus menyendiri begini?” selidik Cyra.
“Teleponan sama mama. Kenapa? Mau ngomong sama mamaku?” Tangan Zaki bersiap hendak mengambil ponselnya dari saku.
“E eeh, enggak. Aku kan Cuma nanya doang.” Setelah mengucapkan itu, Cyra tertegun menatap Zaki yang mengamati dirinya dengan seksama. “Ngapain ngeliatin aku kayak git?” Cyra salah tingkah.
“Kamu udah puas foto bareng orang tuamu?”
Cyra mengangguk.
“Lalu foto bareng temen-temenmu, apa masih mau dipuas-puasin lagi?”
“Udah, kok,” jawab Cyra.
Zaki maju selangkah hingga jarak keduanya lumayan dekat. “Lalu, apa nggak mau foto bareng aku pas kamu dalam penampilan begini?” Zaki menyentuh pakaian Cyra. “Semua teman-temanmu berebutan minta foto bareng aku, dan kamu enggak?”
Cyra tersenyum. “Aku cemburu ngeliat kamu tadi dikerubungi cewek-cewek. Mereka bahkan nggak segan nempel-nempel sama kamu. Mentang-mentang ini adalah hari terakhir mereka menjadi mahasiswamu.” Muka Cyra memerah saat mengucapkan kata-kata itu.
“Oh.. Bisa cemburu juga?”
“Kamu pikir aku robot? Yang nggak punya hati? Aku tuh panas banget ngeliat kamu ditempelin banyak cewek.”
Cyra tertawa. “Aku salah menggunakan kata-kata, ya?”
“Ya udah, mumpung sepi. Yuk, foto!” Zaki mengambil ponselnya. Satu lengannya merangkul leher Cyra. Ia menempelkan pipinya ke pipi Cyra.
Cekrek cekrek. Berkali-kali ia memotret dengan gaya dan ekspresi yang berbeda-beda.
Cyra tak mau kalah, ia memperlihatkan ekspresi terunyu. Hidung mengekrut, lidah menjulur, mata melotot, bibir manyun, mulut mangap, dan masih banyak ekspresi ekstrim lainnya yang dia anggap tak biasa. Kalau hanya sekdar senyum-senyum manis itu sudah biasa dan tidak lagi unik saat dijadikan kenang-kenangan, namun dengan ekspesi aneh-aneh, itu akan tertawa dan tak bosan mengulang-ulang saat melihatnya suatu saat kelak.
“Ehm...”
Zaki sontak melepas rangkulannya saat mendengar deheman dari arah belakang. Cyra juga langsung menoleh.
“Wah wah... Kayaknya ini beneran bakalan diresmikan ke pelaminan, deh,” celetuk Bu Santi yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Dosen yang satu itu memang paling ahli dalam hal meledek, seertinya ia memiliki koleksi kosa-kata bejibun di kepalanya untuk bahan ledekan. “Udah intim banget pokoknya. Psst... Ingat, ini di area kampus.”
“Saya kan hanya foto bareng Cyra. Sama seperti yang dilakukan Bu Raini ke saya kemarin waktu foto bareng di rumah sakit.” Zaki membela diri dengan ekspresi tenang.
Berbeda dengan Cyra yang wajahnya langsung memanas.
TBC
Jangan lupa sumbangin poin dan koin, biar aku semangat ketik dan langsung crazy update kalo cerita ini masuk rating sepuluh besar.
Cara sumbangin koin dan poin udah kujelasin di part 163 ya, cek aja ke part 163 dan ikuti bimbingannya.
😘😘😘